tukar uang receh (Unsplash)

Bisnis Tukar Uang Saat Lebaran Jadi Ide Perdagangan

Umsida.ac.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia hampir selalu disuguhi pemandangan yang sama di berbagai sudut kota: lapak-lapak tukar uang baru di pinggir jalan.

Para penukar uang menawarkan layanan menukar uang pecahan besar dengan pecahan kecil yang biasa digunakan untuk tradisi berbagi kepada anak-anak dan kerabat saat lebaran.

Lihat juga: THR Sudah Cair, Jangan Lupa Sedekah

Bagi sebagian masyarakat, layanan ini dianggap praktis karena tidak perlu mengantri di bank untuk mendapatkan uang baru. 

Namun di balik kemudahan tersebut, praktik tukar uang di pinggir jalan sebenarnya menyimpan persoalan yang lebih dalam, terutama jika dilihat dari perspektif ekonomi Islam. 

Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan potensi praktik riba, tetapi juga mencerminkan cara pandang yang keliru terhadap hakikat uang dalam sistem ekonomi.

Uang dalam Islam: Alat Tukar, Bukan Barang Dagangan
tukar uang receh (Unsplash)
Ilustrasi: Unsplash

Dalam ekonomi Islam, uang tidak dipandang sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk memperoleh keuntungan. 

Uang hanya berfungsi sebagai alat yang mempermudah pertukaran barang dan jasa dalam aktivitas ekonomi. 

Dengan kata lain, uang hanyalah perantara dalam transaksi ekonomi, bukan objek yang dapat menghasilkan keuntungan dengan sendirinya.

Pemikiran ini telah dijelaskan oleh banyak ulama klasik. 

Imam Al-Ghazali, misalnya, menyatakan bahwa uang diciptakan sebagai perantara pertukaran agar manusia dapat memenuhi kebutuhannya dengan lebih mudah. 

Pandangan ini menegaskan bahwa keuntungan dalam ekonomi Islam seharusnya diperoleh melalui aktivitas ekonomi yang nyata, seperti produksi, perdagangan barang, atau penyediaan jasa. 

Ketika uang diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan tanpa adanya aktivitas ekonomi riil, maka fungsi dasar uang sebagai alat tukar menjadi berubah.

Masalah mulai muncul ketika uang diperlakukan seperti barang dagangan yang dapat dijual dengan harga lebih tinggi. 

Praktik semacam ini secara tidak langsung mengubah uang dari sekadar alat transaksi menjadi komoditas yang diperdagangkan.

Tukar Uang dan Potensi Riba

Dalam fiqh muamalah, uang termasuk dalam kategori barang ribawi yang memiliki aturan khusus dalam pertukarannya. 

Ketika uang ditukar dengan uang sejenis, maka transaksi tersebut harus memenuhi dua syarat utama: nilainya harus sama dan dilakukan secara tunai.

Pada praktik tukar uang di pinggir jalan, sering ditemukan kondisi di mana masyarakat harus membayar lebih untuk mendapatkan pecahan uang tertentu. 

Misalnya, untuk memperoleh pecahan uang senilai Rp100.000, seseorang harus membayar Rp105.000 atau lebih. 

Tambahan tersebut pada dasarnya menunjukkan adanya kelebihan dalam pertukaran uang yang sejenis.

Tambahan seperti ini dapat dikategorikan sebagai riba fadhl, yaitu tambahan dalam pertukaran barang ribawi yang sejenis. 

Hal ini menunjukkan bahwa uang telah diperlakukan sebagai komoditas yang dapat menghasilkan keuntungan.

Sebagian pihak mungkin berpendapat bahwa tambahan tersebut merupakan biaya jasa tukar uang. 

Namun dalam praktiknya, struktur akad jasa sering kali tidak dijelaskan secara jelas. 

Yang terjadi justru pertukaran uang dengan nominal yang berbeda, yang secara substansi mendekati praktik riba.

Risiko Ekonomi dari Perdagangan Uang
tukar uang receh (Unsplash)
Ilustrasi: Unsplash

Memperlakukan uang sebagai komoditas tidak hanya menimbulkan persoalan dari sisi syariah, tetapi juga dapat menciptakan distorsi dalam sistem ekonomi. 

Ketika uang diperdagangkan untuk menghasilkan keuntungan, maka aktivitas ekonomi berpotensi bergeser dari sektor produktif menuju transaksi finansial yang tidak menghasilkan nilai tambah nyata.

Fenomena tukar uang menjelang hari raya juga berkaitan dengan meningkatnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. 

Permintaan terhadap uang tunai biasanya meningkat signifikan pada periode tertentu, sehingga distribusi uang baru menjadi lebih besar. 

Peningkatan jumlah uang beredar yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi barang dan jasa dapat menimbulkan tekanan inflasi. 

Ketika uang yang beredar semakin banyak sementara ketersediaan barang relatif tetap, maka harga-harga cenderung mengalami kenaikan.

Inflasi yang terjadi pada periode tertentu memang sering bersifat musiman. 

Namun jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat, terutama kelompok berpendapatan tetap yang paling rentan terhadap kenaikan harga.

Saatnya Mengoreksi Cara Pandang terhadap Uang

Fenomena tukar uang di pinggir jalan sebenarnya bukan sekadar persoalan kebiasaan musiman menjelang Lebaran. 

Fenomena ini mencerminkan adanya cara pandang yang kurang tepat terhadap fungsi uang dalam sistem ekonomi.

Ketika masyarakat mulai menganggap wajar praktik memperoleh keuntungan dari tukar uang dengan uang, maka secara perlahan fungsi uang sebagai alat tukar mulai bergeser menjadi objek perdagangan. 

Jika cara pandang ini terus berkembang, maka ekonomi dapat bergerak menuju praktik-praktik finansial yang semakin jauh dari aktivitas ekonomi riil. 

Uang seharusnya berperan sebagai sarana untuk mendorong kegiatan produktif, bukan menjadi instrumen spekulasi.

Pada akhirnya, ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang halal dan haram dalam transaksi, tetapi juga tentang bagaimana membangun sistem ekonomi yang lebih adil, stabil, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. 

Lihat juga: Biar Tak Sia-Sia, Ini cara Atur Uang THR

Memahami kembali fungsi uang sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditas, merupakan langkah penting untuk menjaga arah ekonomi agar tetap berada dalam koridor keadilan dan keberkahan.(Ninda Ardiani SEI MSEI)

Berita Terkini

pkmu 2026
Tak Seseram yang Dibayangkan, Ini Cerita Mahasiswa Umsida Ikuti PKMU
October 30, 2026By
pelantikan bem dan dpm
Umsida Lantik BEM dan DPM 2026-2027, Siap Wujudkan Gerakan Progresif
October 29, 2026By
orang tua wali wisudawan (3)
Cerita Orang Tua di Balik Perjuangan Wisudawan Umsida hingga Lulus
October 27, 2026By
wisudawan berprestasi umsida (2)
Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian
October 26, 2026By
pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

mimbar organisasi mahasiswa
Organisasi Mahasiswa Umsida Dapat Apresiasi dan Ruang Aspirasi Terbuka
October 29, 2026By
sistem tidak naik kelas (2)
Pakar Umsida Soal Kebijakan Tidak Naik Kelas: Rawan Putus Sekolah
October 28, 2026By
pendidikan muhammadiyah
Prof Syafiq: Pendidikan di Umsida Terus Bergerak dan Berdampak
October 28, 2026By
4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By