emosi saat Ramadan

Belajar Kelola Emosi Saat Ramadan, Pakar Umsida: Impactnya Harus berlanjut

Umsida.ac.id – Bulan Ramadan sering disebut sebagai bulan latihan kesabaran. 

Rasa lapar, perubahan pola tidur, hingga aktivitas harian yang tetap padat kerap membuat suasana hati menjadi lebih sensitif.

Lihat juga: 3 Fokus Selama Ramadan yang Harus Dijaga Menurut Dosen Umsida

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Eko Hardi Ansyah MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kondisi tersebut sebenarnya wajar jika dilihat dari sisi biologis maupun psikologis. 

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kemampuan kita mengendalikan emosi,” ujarnya.

Puasa Membuat Emosi Lebih Sensitif

Menurut Dr Eko, orang yang sedang berpuasa memang lebih rentan secara emosional. 

Hal ini berkaitan dengan kondisi biologis tubuh selama tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu cukup lama.

Ketika kadar gula darah menurun, otak menjadi lebih sensitif terhadap gangguan. 

Energi yang biasanya digunakan untuk mengontrol emosi menjadi terbatas. 

Selain itu, kata Dr Eko, perubahan pola tidur selama Ramadan juga bisa memengaruhi kestabilan suasana hati. 

“Semua faktor ini membuat sistem emosi lebih mudah terpicu. Hal barangkali sering kita lihat pada anak-anak kecil yang sedang baru berlatih berpuasa,” terangnya.

Namun bagi orang dewasa, saat kemampuan berfikir lebih kompleks seharusnya tidak mudah tersulut emosinya karena dia dengan penuh kesadaran memahami puasa, untuk apa dia berpuasa, dan bagaimana menjalankan ibadah puasa tersebut.

Mengelola Emosi Saat Puasa
emosi saat Ramadan
Ilusrasi: Unsplash

Dr Eko menerangkan bahwa mengelola emosi saat puasa dimulai dari kesadaran bahwa emosi adalah sinyal, bukan musuh. 

Ketika rasa marah muncul, langkah pertama adalah mengenali bahwa yang dirasakan mungkin dipengaruhi oleh kondisi fisik seperti lapar atau lelah. 

Setelah itu, mengambil jeda menjadi sangat penting, misalnya dengan menarik napas perlahan, menenangkan tubuh, dan menunda respons. 

Ia juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan contoh sederhana dalam mengelola emosi.

“Ketika marah, Rasulullah menganjurkan untuk mengubah posisi, misalnya dari berdiri menjadi duduk atau berbaring,” jelasnya.

Berikutnya Adalah mengubah cara berpikir, alih-alih menyalahkan orang lain, seseorang bisa menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi tidak optimal.

“Dalam konteks spiritual, mari kita kembalikan semua urusan kita sebagai ketetapan dari Allah yang Maha Rahman Rahim yang pasti memberikan yang terbaik bagi kita semua,” ujarnya.

Hal ini diperlukan mengingat bahwa ketika sedang berpuasa, memberi motivasi tambahan untuk memilih respons yang lebih sabar. 

Dampak Baik Menahan Amarah

Menurut Dr Eko, latihan menahan amarah selama Ramadan juga memiliki dampak positif bagi otak manusia.

Ia menjelaskan bahwa amygdala, yaitu bagian otak yang berhubungan dengan sistem emosi, dapat dilatih melalui kebiasaan mengendalikan diri.

Otak manusia memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk dan memperkuat koneksi saraf melalui pengalaman berulang.

“Ketika seseorang berulang kali menahan emosi, otak akan belajar membentuk pola regulasi emosi yang lebih baik,” jelasnya.

Ia mengibaratkan proses tersebut seperti latihan pada otot manusia. Ketika otot diberi beban secara berulang, serabut otot akan menjadi lebih kuat.

Hal yang sama terjadi pada kemampuan mengendalikan emosi.

Kebiasaan positif yang dilatih selama Ramadan tidak hanya berlaku ketika menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ketika menjalankan berbagai aktivitas ibadah lainnya.

Tujuan akhir dari latihan tersebut adalah membentuk karakter yang lebih matang secara emosional dan spiritual.

Dr Eko juga mengingatkan bahwa tujuan puasa yang disebut dalam Al-Qur’an adalah “la’allakum tattakun”, yaitu agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.

Ia mengutip penjelasan Buya Hamka yang menyebut bahwa takwa berarti menjaga hubungan dengan Allah dan berusaha menjalani hidup dengan cara yang membuat Allah ridha.

Karena itu, seseorang tidak mungkin mencapai ketakwaan jika setiap keadaan direspons dengan amarah.

“Menjadi pribadi yang bertakwa berarti mampu merespons kehidupan dengan kesabaran, kebahagiaan, dan rasa syukur,” ungkapnya.

Konsisten Mengelola Emosi Setelah Ramadan
emosi saat Ramadan
Ilusrasi: Unsplash

Menurut Dr Eko, konsistensi setelah Ramadan bergantung pada kemampuan menjadikan latihan tersebut sebagai kebiasaan, bukan hanya ritual musiman. 

“Namanya pelatihan berarti harus dibawa pada kehidupan nyata dan yang lebih panjang,” terangnya.

Impact satu bulan pelatihan di bulan Ramadhan, harusnya bisa ditarik pada kehidupan setelah di bulan Ramadhan.

Salah satu caranya adalah dengan tetap menjaga praktik-praktik kecil yang melatih regulasi diri, seperti puasa sunnah, dzikir rutin, atau refleksi harian. 

Selain itu, membiasakan diri untuk mengambil jeda sebelum merespons situasi emosional juga penting dilakukan meskipun tidak sedang berpuasa.

Dengan latihan yang berkelanjutan, regulasi emosi tidak lagi menjadi proyek musiman, tetapi bagian dari karakter yang matang menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Lihat juga: Buka Puasa Tanpa Kalap, Ini Cara Berbuka Puasa yang Sehat dan Tidak Membebani Tubuh

“Jika selama Ramadan seseorang belajar bahwa ia mampu mengendalikan diri dalam kondisi sulit, maka keyakinan itu bisa menjadi modal psikologis untuk menghadapi situasi di luar Ramadan,” pungkasnya.(Romadhona)

Sumber: Dr Eko Hardi Ansyah MPsi Psikolog

Berita Terkini

program studi umsida terakreditasi unggul
Umsida Teguhkan Langkah Menuju ASEAN Recognition 2038
February 13, 2026By
penghargaan dosen dan tendik, prof syafiq
Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
February 10, 2026By
abdimas prof Sigit 1
Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
February 10, 2026By
Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By
aset kripto menurut dosen Umsida
Risiko Aset Kripto dan Bitcoin, Dosen Umsida Paparkan dari Perspektif Hukum dan Teknologi
December 15, 2025By
SDGs Center Umsida
SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
November 20, 2025By
Apresiasi sekolah partnership Umsida
Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru
November 20, 2025By
kick off penerimaan mahasiswa baru Umsida 4_11zon
Umsida Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
November 19, 2025By

Riset & Inovasi

daycare lansia 1
Tim PKM Umsida Dampingi Program Daycare Lansia Bersama PRA Boro
February 27, 2026By
abdimas kepada peserta didik sb at tanzil malaysia
Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
February 19, 2026By
pelatihan koding dasar dan kecerdasan artifisial
Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
February 3, 2026By
Edukasi TOSS TB 2
Edukasi TOSS TB, Upaya FK Umsida Perkuat Kader Kesehatan Desa Ketimang
January 28, 2026By
kolaborasi Umsida dan pondok pesantren
Kolaborasi FKG, FK, dan Fikes Jadi Relawan Kesehatan di Pondok Pesantren Nurul Haromain
January 21, 2026By

Prestasi

mahasiswa Umsida raih 8 penghargaan
Mahasiswa Ini Meraih 8 Penghargaan dalam Kurun Waktu 3 Bulan
February 13, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026.
Usai Juara 1, IMEI Team Umsida Akan Buat Mobil Urban
February 5, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 4, 2026By
kejuaraan ju jitsu mahasiswa Umsida
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 20, 2026By
persiapan shell eco marathon
IMEI Umsida Tancap Gas di Shell Eco Marathon Qatar 2026 dengan Improvisasi Kendaraan Listrik
January 19, 2026By