diskusi isu pendidikan tinggi

Isu Pendidikan Tinggi Ini Jadi Topik Diskusi Umsida dan DPR RI Komisi X

Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menerima kunjungan Anggota Komisi X DPR RI, Dr Reni Astuti SSi MPSDM.

Kunjungan ini menjadi ruang diskusi pendidikan tinggi yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) hingga wacana penutupan beberapa program studi.

Lihat juga: Tauhid Jadi Pilar Utama dalam Membangun Pendidikan Islam yang Berkelanjutan di Umsida

Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat kampus 1 Umsida (5/5) ini dihadiri jajaran pimpinan Rektorat, Dekan, dan Tendik.

Dalam kesempatan ini, Dr Reni memaparkan proses penyusunan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang saat ini masih dalam tahap pembahasan di DPR RI. 

Menurutnya, pembaruan regulasi ini menjadi penting mengingat sistem pendidikan nasional yang ada telah berjalan lebih dari dua dekade tanpa penyesuaian signifikan terhadap perkembangan zaman.

Ia menjelaskan bahwa RUU tersebut mengusung pendekatan kodifikasi dengan menggabungkan tiga undang-undang utama di bidang pendidikan, yakni Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, serta Undang-Undang Guru dan Dosen.

“Pembahasan masih berlangsung di tingkat komisi dan belum final. Nantinya akan dilanjutkan ke Badan Legislasi sebelum dibahas bersama pemerintah,” jelasnya.

Umsida Soroti Wacana Penutupan Prodi 

diskusi isu pendidikan tinggi

Menanggapi isu tersebut, Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, berharap perguruan tinggi dapat dilibatkan lebih awal dalam pembahasan regulasi pendidikan, termasuk akses terhadap draft RUU Sisdiknas.

“Kalau kami bisa mendapatkan draft RUU Sisdiknas lebih awal, kami ingin menelaah secara serius sehingga bisa memberikan masukan sebelum pembahasan akhir,” ungkapnya.

Sementara itu, sejumlah pimpinan fakultas turut menyampaikan kegelisahan terkait wacana penutupan program studi pendidikan.

Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, Dr Septi Budi Sartika MPd, mengungkapkan bahwa prodi seperti PGSD dan Pendidikan Bahasa Inggris sempat menjadi perhatian akibat isu penutupan prodi.

“Mahasiswa kami sempat khawatir. Padahal kenyataannya lulusan PGSD masih sangat banyak terserap di sekolah-sekolah,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam, Dr Ida Rindaningsih MPd. 

Ia menegaskan bahwa lulusan pendidikan tidak hanya bekerja sebagai guru formal, tetapi juga berkembang di bidang lain seperti trainer, penerjemah, hingga pengelola lembaga pendidikan nonformal.

“Pengangguran bukan semata-mata karena adanya prodi pendidikan. Yang perlu dikaji adalah pemerataan pembukaan prodi dan kebutuhan riil di masyarakat,” ujarnya.

Lihat Juga :  Pendidikan Tetaplah Penting, Mengapa Wajib Belajar Hanya 12 Tahun?
Sinkronisasi Regulasi dan Penguatan Riset Pendidikan Tinggi

diskusi isu pendidikan tinggi

Diskusi dilanjutkan oleh Wakil Rektor III Umsida, Dr Nurdyansyah MPd, yang menyoroti pentingnya regulasi pendidikan yang lebih terintegrasi.

Menurutnya, perguruan tinggi membutuhkan transparansi data terkait kebutuhan program studi serta sinkronisasi kebijakan antar kementerian.

“Kami berharap regulasi pendidikan benar-benar komprehensif dan terintegrasi, termasuk dalam pembukaan maupun evaluasi program studi,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Umsida, Prof Hana Catur Wahyuni ST MT IPM, berharap adanya kesetaraan perlakuan antara PTN dan PTS dalam akses bantuan pemerintah.

Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi antara Kemdiktisaintek, Kemenaker, dan BNSP terkait skema sertifikasi yang digunakan perguruan tinggi.

“Kami berharap regulasi antar lembaga bisa sinkron sehingga program yang sudah disiapkan kampus tidak terhenti,” jelasnya.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Dr Reni Astuti menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan resmi di Komisi X DPR RI terkait penutupan program studi.

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima dari Kemdiktisaintek, pembahasan tersebut sebenarnya bukan diarahkan pada penutupan prodi, melainkan sebagai upaya mengevaluasi kualitas dan relevansi pendidikan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Ia menjelaskan bahwa saat ini angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk negara-negara Eropa, Singapura, dan Malaysia. 

Indonesia, katanya, masih berada di kisaran 32 persen, sementara beberapa negara lain telah mencapai 80 hingga 90 persen.

“Artinya masih banyak anak-anak yang belum memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi,” ujarnya.

Namun di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan terkait penyerapan lulusan perguruan tinggi di dunia kerja yang dinilai belum optimal. 

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya angka pengangguran dari lulusan pendidikan tinggi.

Menurutnya, persoalan ini juga dipengaruhi kondisi industrialisasi dan pertumbuhan dunia usaha yang belum sepenuhnya mampu menyerap lulusan baru dalam jumlah besar akibat tekanan ekonomi yang terjadi saat ini.

Lihat juga: Pakar Umsida Soal Gaji Guru: Pemerintah Melihat Pendidikan sebagai Cost Center, Bukan Investment

“Kami ingin pendidikan tinggi di Indonesia semakin berkualitas dan tetap memberikan ruang yang adil bagi perguruan tinggi swasta,” pungkasnya.(Romadhona)

Berita Terkini

program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By
kunjungan IAD Probolinggo (2)
Kunjungi Umsida, IAD Probolinggo Perkuat Mutu Perguruan Tinggi
October 15, 2026By
hari kesehatan mental 1
Hari Kesehatan Mental, Satgas PPKPT dan Psikologi Umsida Buka Ruang Aman
October 12, 2026By
bramasgana terjun ke gempa ntt
Laporan Terkini Bramasgana Umsida dari Lokasi Gempa NTT
October 12, 2026By
pkmu 2026
PKMU 2026-2027 Dimulai, Usung Konsep Baru
October 11, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab
Pesan Rektor untuk 38 Lulusan Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida
October 8, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab (5)
Haflu Takharruj ke-38, Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida Luluskan 38 Mahasiswa
October 8, 2026By

Riset & Inovasi

sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By
PLP 2 kenalkan lingkungan 1
PLP 2 Umsida Tumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan pada Siswa Lewat Green School
October 13, 2026By
market day plp 2 (3)
Market Day SD Khazanah Ilmu, PLP 2 Umsida Dukung Semangat Kewirausahaan Siswa
October 13, 2026By

Prestasi

Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By
beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By

Opini

olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By
bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By