Umsida.ac.id – Upaya penguatan peran pemuda dalam pembangunan berkelanjutan terus digalakkan, salah satunya melalui program Abdimas.
Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Pemberdayaan Pelajar Muhammadiyah Durungbedug yang mengikuti Pelatihan Pembibitan Tanaman Kelor (Moringa oleifera) sebagai strategi peningkatan kemandirian lingkungan dan ekonomi yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Lihat juga: Mastama IMM Umsida 2025 Tekankan Trilogi dan Trikoda sebagai Identitas Kader
Program ini merupakan kegiatan hibah pengabdian kepada masyarakat yang berhasil diraih oleh Ir A Miftakhurrohmat MP dosen Program Studi Agroteknologi, sebagai ketua tim yang dilaksanakan pada Kamis, (20/12/2025).
Pelatihan Pembibitan Kelor untuk Pelajar Muhammadiyah

Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang mengombinasikan materi teoritis dan praktik langsung di lapangan.
Dalam kesempatan ini, Dr M Abror SP MM menyampaikan materi utama terkait potensi strategis tanaman kelor, teknik pembibitan yang baik dan benar, serta peluang pengembangan kelor sebagai komoditas bernilai ekonomi dan ekologis.
Menurutnya, tanaman kelor memiliki keunggulan multidimensi, mulai dari kandungan nutrisi tinggi, kemudahan budidaya, hingga potensi pasar yang luas.
“Kelor bukan hanya tanaman pangan fungsional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan peran penting dalam konservasi lingkungan. Jika dikelola sejak pembibitan dengan benar, hasilnya akan berkelanjutan,” jelasnya.
Pelajar Muhammadiyah Durungbedug dilibatkandalam proses seleksi benih, penyiapan media tanam, teknik penyemaian, hingga perawatan bibit.
Pelajar Muhammadiyah Menjadi Sasaran Program

Ketua tim Abdimas, Ir A Miftakhurrohmat MP menjelaskan bahwa pemuda, khususnya Pelajar Muhammadiyah, dipilih sebagai sasaran utama karena memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di tingkat lokal.
“Pemuda Muhammadiyah kami pilih karena mereka memiliki karakter kepemimpinan, semangat berorganisasi, dan nilai keislaman yang kuat,” jelasnya.
Jika dibekali keterampilan pertanian berkelanjutan, menurutnya, maka para pemuda mampu menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi dan lingkungan di desa.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini sejalan dengan visi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat berkemajuan yang mandiri, produktif, dan peduli terhadap keberlanjutan alam.
Dampak Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi
Program pelatihan pembibitan kelor ini memberikan dampak nyata dalam berbagai aspek.
Dari sisi lingkungan, kegiatan ini mendorong penghijauan dan pemanfaatan lahan pekarangan secara produktif, sehingga berkontribusi pada SDGs Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan Tujuan 15 (Ekosistem Daratan).
Secara sosial, pelatihan ini meningkatkan kapasitas pelajar dalam bidang pertanian terapan, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, serta memperkuat peran pemuda dalam pembangunan desa.
Dan dari sisi ekonomi, pembibitan kelor membuka peluang usaha baru berbasis agribisnis skala kecil yang dapat dikembangkan secara mandiri maupun kelompok.
Kelor yang dibudidayakan tidak hanya berpotensi dijual dalam bentuk bibit, tetapi juga dapat diolah menjadi produk turunan seperti daun kering, tepung kelor, maupun produk pangan fungsional lainnya.
Program Monitoring dan Komitmen Berkelanjutan
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim pengabdian merancang sistem evaluasi dan monitoring yang dilakukan secara berkala.
Kegiatan ini dibantu oleh mahasiswa pendamping, Firmanto dan Anang Tri Yuhono, yang berperan aktif dalam mendampingi peserta, mencatat perkembangan bibit, serta mengidentifikasi kendala di lapangan.
Monitoring difokuskan pada tingkat keberhasilan pembibitan, partisipasi peserta, serta potensi pengembangan usaha berbasis kelor.
Lihat juga: IMM Averrous Bangun Ukhuwah Kuat di FAI Umsida Melalui SABAR Vol 5
Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar perbaikan program sekaligus rekomendasi untuk pengembangan kegiatan serupa di wilayah lain.
Penulis: Anifa



















