kepala sekolah penggerak 2

Rektor Umsida Tekankan Peran Kepala Sekolah Penggerak dalam Mewujudkan Pendidikan Berkemajuan

Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menjadi tuan rumah kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Kepala Sekolah Jenjang SD Negeri di Sidoarjo.

Kegiatan tersebut terlaksana pada 28  April, 12, 13, dan ditutup pada Senin, (18/5/2026) di Aula Mas Mansyur Kampus 1 Umsida.

Lihat juga: Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru

Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi menutup kegiatan tersebut dengan memberikan materi tentang pentingnya kepala sekolah yang mampu menjadi penggerak perubahan pendidikan.

Dalam materinya yang bertajuk Kepala Sekolah yang Menggerakkan: Mewujudkan Transformatif Pendidikan Berkemajuan, Dr Hidayatulloh  menekankan bahwa kepemimpinan di sekolah tidak cukup hanya berorientasi pada administrasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan inspirasi dan keteladanan.

Kepala Sekolah Penggerak Jadi Kunci Pendidikan Berkemajuan

kepala sekolah penggerak 2

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Hidayatulloh MSi, menegaskan bahwa inti dari sebuah organisasi adalah manajemen, sedangkan inti dari manajemen adalah kepemimpinan. 

Dalam konteks sekolah sebagai organisasi pendidikan, menurutnya keberhasilan tata kelola sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala sekolah.

“Sekolah kita ini akan bisa berjalan dengan baik dan mengalami perkembangan yang luar biasa kalau tata kelola di sekolah itu berjalan dengan baik. Dan tata kelola sekolah itu sangat ditentukan oleh kepemimpinannya,” ujarnya.

Ia menyebut posisi kepala sekolah sangat strategis karena menjadi penentu utama dalam menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah. 

Oleh karena itu, ia memilih tema “kepala sekolah yang menggerakkan” dalam paparannya.

Pernah menjadi Kepala Sekolah selama 8 tahun, ia menyebut bahwa kepemimpinan bukan sekedar posisi administratif atau jabatan formal saja.

Ia mengutip konsep “leadership is action, not position”.

“Buat apa menerima SK sebagai kepala sekolah kalau tidak melakukan apa-apa di sekolah kita,” katanya.

Ia juga menukil pendapat John C Maxwell bahwa seorang pemimpin adalah sosok yang mengetahui jalan, menunjukkan jalan, dan berjalan bersama menuju tujuan tersebut.

“Kalau ingin sukses, jangan hanya kepala sekolah yang tahu jalan menuju keberhasilan. Semua warga sekolah harus memahami arah itu,” jelas tokoh yang pernah menjabat sebagai Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo itu.

Dr Hidayatulloh menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memahami visi sekolah secara utuh, lalu menurunkannya ke dalam misi, tujuan, sasaran, hingga program kerja yang jelas. 

Ia menilai visi sekolah perlu diterjemahkan dalam milestone atau tonggak capaian bertahap agar lebih mudah dijalankan bersama.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya teamwork dalam menjalankan proses bisnis sekolah. 

Menurutnya, seluruh unsur di sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite sekolah, hingga orang tua harus bergerak bersama menuju visi besar sekolah.

Pentingnya Tata Kelola di Berbagai Aspek

Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya branding dan marketing sekolah di tengah persaingan pendidikan saat ini. 

Menurutnya, sekolah harus mampu membangun citra positif, memperbaiki layanan, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.

“Sekarang masyarakat juga banyak memilih sekolah swasta. Pertanyaannya, bagaimana sekolah membranding dirinya sehingga dipercaya masyarakat,” ujarnya.

Ia turut menyoroti pentingnya layanan sistem informasi di sekolah agar orang tua dapat memantau perkembangan anak dengan mudah dan cepat.

“Orang tua ingin tahu anaknya sudah masuk kelas atau belum, bagaimana hasil belajarnya, itu sekarang menjadi kebutuhan,” katanya.

Tim yang Kuat Jadi Kunci Kemajuan Sekolah

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sekolah yang maju membutuhkan tim yang kuat, kompak, dan memiliki kontribusi yang konsisten. 

Ia mengutip Surat As-Shaff ayat 4 sebagai gambaran pentingnya barisan yang rapi dan kokoh dalam sebuah organisasi yang ia singkat sebagai 5K yakni kompak, kokoh, kontribusi, konsistensi, dan komitmen.br

“Jangan sampai ada konflik antara kepala sekolah dengan guru, atau sekolah dengan orang tua siswa. Tugas pemimpin adalah mencari titik persamaan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa inti kepemimpinan adalah komunikasi. 

Menurutnya, komunikasi yang baik akan melahirkan suasana kerja yang nyaanman dan mendukung jalannya tata kelola sekolah.

“Kalau hati tidak baik, komunikasinya macet. Kalau komunikasi macet, kepemimpinan tidak jalan,” tegasnya.

Di akhir paparannya, ia menegaskan bahwa kepala sekolah yang menggerakkan bukanlah sosok yang hanya duduk di belakang meja, melainkan hadir di tengah warga sekolah untuk memberi contoh, menginspirasi, memotivasi, dan memberdayakan.

Lihat juga: Tim Abdimas Umsida Tingkatkan Literasi Keuangan Digital untuk Bendahara Sekolah

“Kepala sekolah yang menggerakkan akan selalu dikenang oleh warga sekolah, meskipun sudah tidak lagi menjabat,” pungkasnya.(Romadhona)