Umsida.ac.id – Puasa sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan haus.
Namun dalam prakteknya, banyak pertanyaan muncul seputar kesehatan fisik dan kondisi psikis selama Ramadan.
Lihat juga: Bulan Ramadan, Momen untuk Menyucikan Hati, Ini 5 Amalannya
Dalam Tausiyah Ramadan bersama dr Rif’at Nurfahri SpM, Kaprodi Pendidikan Profesi Dokter Umsida, ia membagikan tips sederhana namun penting agar puasa tetap sehat dan bermakna.
Mulai dari pola makan, manajemen tidur, hingga kadar gula darah, semuanya dijelaskan dengan pendekatan ilmiah sekaligus spiritual.
Pola Makan Saat Sahur dan Berbuka

Menurut dr Rif’at, menjaga kesehatan saat puasa bisa dimulai dari hal sederhana, yakni mengikuti sunnah Rasulullah dalam sahur dan berbuka.
Saat sahur, ia menyarankan memilih karbohidrat kompleks agar energi bertahan lebih lama.
“Pilihlah karbohidrat yang kompleks seperti kurma, roti, nasi, atau nasi jagung. Itu akan menjadi sumber energi yang bagus selama menjalani puasa,” jelasnya.
Ketika berbuka, ia mengingatkan agar tidak langsung mengkonsumsi makanan berat dalam jumlah besar.
“Mulailah dengan makanan lembut seperti kurma dan air putih suhu normal, bukan air es. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kesegaran dalam tubuh kita tanpa menurunkan suhu tubuh secara drastis” ujarnya.
Ia juga menyarankan memberi jeda antara takjil dan makan besar dengan melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu.
Tujuannya yakni untuk menghindari lonjakan insulin yang bisa menyebabkan kenaikan gula darah yang tidak stabil dan nanti akan bisa menyebabkan kadar gula darah terlalu rendah.
“Kalau langsung makan besar, bisa terjadi lonjakan gula darah yang drastis, lalu turun lagi. Setiap orang efeknya berbeda-beda,” tambahnya.
Selanjutnya, ia menyarankan agar tetap memaksimalkan waktu malam untuk aktivitas fisik, salah satunya adalah tarawih.
“Di saat tarawih, kita melakukannya juga untuk menyegarkan tubuh kita secara tidak langsung.
Selain itu, dr Rif’at menyarankan konsumsi multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama di cuaca yang rentan menyebabkan flu.
Namun ia kembali menegaskan bahwa niat utama puasa tetap ibadah.
Tips terakhir yakni rutin mengkonsumsi multivitamin.
Menurutnya, itu akan memberikan daya untuk tubuh yang lebih baik di saat cuaca saat ini yang cenderung menyebabkan flu.
Adaptasi Pola Tidur saat Puasa

Saat puasa, pola tidur juga menjadi hal yang sedikit tricky.
Banyak orang yang kurang tidur lantaran sahur dan ibadah malam. Lalu, apakah kondisi tersebut bisa mempengaruhi psikis?
Menurut dr Rif’at, tubuh manusia memang secara alami membutuhkan tidur yang cukup.
“Jadi mesti nanti habis makan itu akan ngantuk, dan kalau tidak tidur akan pusing. Jadi secara alamiah bahwa tubuh kita itu memang butuh tidur,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia menjelaskan bahwa perubahan jam tidur selama Ramadan memang bisa membuat tubuh beradaptasi. Namun setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.
“Setiap orang punya starting point masing-masing. Jangan memaksakan diri. Berubah sedikit demi sedikit,” pesannya.
Sebagai solusi, ia menyarankan pengelolaan waktu yang lebih bijak.
Misalnya, setelah tarawih bisa langsung beristirahat agar sahur tetap dalam kondisi segar.
Jika belum terbiasa bangun sangat pagi, tidak perlu menyalahkan diri sendiri.
“Selama kita hidup, kita tidak pernah berhenti belajar memperbaiki kebiasaan,” ujarnya.
Yang menarik, ia juga mengaitkan kondisi psikis dengan kebiasaan penggunaan gawai.
Saat sahur dan berbuka, ia menyarankan menjauhkan ponsel dari meja makan.
“Mari kita nikmati suasana sahur dan bukanya itu tanpa gangguan dari HP kita. Detoksifikasi digital itu penting. Dopamin yang biasa kita dapat dari konten-konten HP, kita alihkan ke interaksi hangat dengan keluarga,” jelasnya.
Menurutnya, suasana sahur yang sederhana, berbincang bersama keluarga, atau membangunkan anak untuk makan bersama bisa menjadi sumber kebahagiaan yang lebih alami dan menenangkan psikis.
Kadar Gula Darah yang Tidak Turun

Hal lain yang juga sering muncul saat puasa adalah kadar gula darahnya tidak turun atau tetap tinggi.
dr Rif’at menjelaskan bahwa setiap tubuh memiliki fisiologi yang berbeda.
“Tubuh kita unik. Efek puasa pada tiap orang bisa berbeda-beda,” katanya.
Ia menegaskan kembali bahwa puasa memang memiliki manfaat kesehatan sebagai bonus, tetapi bukan tujuan utama.
dr Rif’at mengatakan bahwa Allah menyuruh berpuasa agar menjadi orang yang semakin bertakwa.
“Kalau memang misalkan kadar gulanya tidak turun ketika berpuasa, selama masih tidak menemukan gejala yang membahayakan nyawa, dilanjutkan pengobatannya dengan puasanya, tetap dilaksanakan karena tujuan kita akhirnya bukan kesehatan,” terangnya.
Namun jika gula darah tidak terkontrol dan membahayakan kesehatan, Islam memberikan keringanan.
“Kalau memang masuk kategori tidak mampu karena sakit, ada jalan lain. Bisa qadha ketika sudah sehat, atau membayar fidyah,” jelasnya.
Lihat juga: Puasa dan Manfaat Bagi Kesehatan Mental dan Fisik, Apa Saja? Yuk Simak!
Intinya, kata dr Rif’at, ajaran Islam tidak ada yang memberatkan, tinggal bagaimana memahaminya supaya tidak memberatkan.(Romadhona)



















