kesehatan saat ramadan (Pexels)

Ramadan Bukan Tentang Diet, Tapi Juga Soal Self-Mastery Akan Duniawi

Umsida.ac.id“Coba jangan bayangkan gajah naik sepeda.”

Kalimat itu spontan memancing senyum peserta Tausiyah Ramadan yang digelar Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 

Namun di balik ilustrasi sederhana tersebut, dr Rif’at Nurfahri SpM, Kaprodi Pendidikan Profesi Dokter Umsida, sedang menjelaskan sesuatu yang jauh lebih dalam, bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana Ramadan melatih kita mengendalikan respon sebelum bereaksi.

Lihat juga: Penentuan Hilal dan Dinamika Keilmuan Islam di Nusantara

Dalam tausiyah bertema “Ramadan: Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis”, dr Rif’at tidak memulai dengan dalil panjang atau teori berat. 

Ia justru mengajak peserta memahami puasa melalui pendekatan keilmuan yang ia tekuni sebagai dokter mata.

Ramadan dan Cahaya yang Masuk ke Hati

Sebagai dokter mata, dr Rif’at menjelaskan bahwa proses melihat bukan sekadar membuka mata. 

Cahaya dari luar masuk melalui visual axis, diterjemahkan menjadi sinyal biokimiawi, lalu dipersepsikan di otak hingga menjadi kesadaran.

“Supaya kita bisa melihat dengan jelas, jalur cahaya itu harus jernih. Tidak boleh ada yang menghalangi, agar bisa diartikan tubuh kita,” jelasnya.

Ia kemudian menganalogikan hidayah sebagai cahaya. 

Jika hati penuh ego, amarah, dan distraksi duniawi, maka cahaya itu tidak akan sampai dengan utuh. 

Ramadan, menurutnya, adalah proses menjernihkan jalur tersebut.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa adalah proses pemurnian diri. 

Ketika seseorang mampu menahan hal yang halal, makan dan minum, maka secara logika ia sedang melatih diri untuk lebih mudah meninggalkan yang haram.

“Puasa itu ibadah yang hanya kita dan Allah yang tahu. Tidak ada skor dari manusia, tidak ada yang menilai. Semua langsung kepada Allah,” ungkapnya.

Dari situlah kita tahu bagaimana respon tubuh terhadap apa yang dilarang dan dibatasi saat puasa. Bukan karena diawasi orang lain, tetapi karena kesadaran batin.

Self-Mastery dan Mengurangi Ego

Menurut dr Rif’at, inti Ramadan adalah self-mastery, yaitu kemampuan mengendalikan diri sebelum bereaksi terhadap stimulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung spontan. 

Ketika dipuji, kita senang. Namun ketika disakiti, kita marah. 

Ketika tertekan, emosi mudah tersulut hingga mengeluarkan sumpah serapah untuk orang lain.

Sebelas bulan penuh, respons itu berjalan alamiah, tidak lepas dari karakter masing-masing. 

Oleh karena itu, Ramadan datang sebagai ruang jeda.

“Saat puasa, Allah membekali kita dengan kemampuan untuk mengontrol respon yang dilakukan. Kita diberi sanctuary, ruang untuk tidak serta-merta merespons semua stimulus,” katanya.

Dengan membatasi makan dan minum, tubuh belajar mengontrol dorongan paling dasar. 

Dari sana, kontrol itu meluas ke ranah yang lebih sulit, seperti menjaga lisan, mengendalikan amarah, membatasi penglihatan, dan menyaring apa yang masuk ke dalam pikiran.

Di era digital, menurutnya, penglihatan menjadi pintu paling dominan. 

Algoritma media sosial, berita bombastis, dan konten provokatif dengan mudah membanjiri kesadaran kita.

Karena itu, ia mengajak untuk melakukan “detoksifikasi digital” selama Ramadan.

“Mari kita batasi screen time. Lepas sejenak dari kebiasaan lama. Fokus pada ibadah,” pesannya.

Bahkan dengan nada ringan ia bercanda kepada para pimpinan dan dosen agar tidak membebani tugas-tugas administratif di jam-jam ibadah utama Ramadan. 

Lihat Juga :  Heboh Kasus Ivan Sugianto yang Menyuruh Siswa Menggonggong, Pakar Umsida Beri Komentar

Pesan itu bukan sekadar humor, tetapi pengingat bahwa bulan ini adalah momen prioritas spiritual.

Sehat Itu Bonus, Bukan Tujuan
kesehatan saat ramadan (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Dalam perspektif medis, dr Rif’at tidak menampik bahwa puasa memiliki manfaat kesehatan. 

Ketika asupan kalori dibatasi, tubuh akan mengambil cadangan energi dari glikogen dan lemak. Kolesterol dapat menurun, metabolisme menjadi lebih terkontrol.

“Secara penelitian ilmiah, puasa memang menyehatkan,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan bahwa kesehatan bukan tujuan utama berpuasa. 

Jika niat bergeser hanya demi diet atau detoks tubuh, maka ruh ibadahnya berkurang.

“Kita harus luruskan niat kita. Tujuan puasa adalah ibadah kepada Allah. Sedangkan sehat itu adalah bonus, bukan tujuan utama kita,” jelasnya.

Ia juga realistis. Tidak semua orang otomatis menjadi sehat saat puasa. 

Ada yang sakit, ada yang tidak mampu menjalankan karena kondisi medis. 

Karena itu Islam memberi keringanan.

Puasa bukan tentang memaksakan diri, tetapi tentang kesadaran dan ketakwaan.

“Kita berupaya untuk jadi manusia yang utuh. Ramadan mengajarkan bahwa kesehatan bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tapi tentang kehadiran vitalitas dan tujuan hidup,” tutur dr Rif’at.

God Spot dan Kembali ke Fitrah
kesehatan saat ramadan (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Di bagian yang lebih reflektif, dr Rif’at menyebut istilah God Spot—titik dalam diri manusia tempat makna kehidupan bersemayam.

Ramadan adalah momen kembali ke titik itu.

Sering kali manusia terjebak dalam ambisi duniawi seperti jabatan, target akademik, ranking universitas, atau capaian administratif. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir.

“Apa tujuan kita sebenarnya? Apakah sekadar memenuhi kuota? Atau ada tujuan yang lebih tinggi?” tanyanya.

Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada respon eksternal. 

Ia menyinggung konsep stoikisme yang memisahkan kebahagiaan dari stimulus luar. 

Dalam Islam, prinsip itu diwujudkan melalui keikhlasan dan tawakal.

Ketika kebahagiaan bersumber dari kesadaran sebagai hamba Allah, maka tekanan dunia tidak lagi menjadi pusat kendali hidup.

Dari sana lahir energi positif. Seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih bermanfaat.

“Yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya menegaskan.

Ramadan sebagai Latihan Kepemimpinan Moral

Di akhir tausiyah, dr. Rif’at mengaitkan Ramadan dengan kehidupan sosial dan kepemimpinan. 

Ia membayangkan jika seluruh nilai puasa benar-benar diinternalisasi, maka manipulasi, egoisme, dan konflik akan berkurang.

Puasa melatih empati terhadap kaum duafa. 

Melatih kejujuran sebagai pondasi. Melatih pengendalian diri sebelum mengambil keputusan.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses continuous improvement. 

Seperti shalat lima waktu yang terus mengingatkan, puasa juga menjadi pengingat tahunan untuk evaluasi menyeluruh.

“Jangan pernah bosan menjadi orang baik,” pesannya menutup tausiyah.

Karena pada akhirnya, kesehatan fisik dan psikis yang dibahas dalam tema tausiyah ini bermuara pada satu hal, yakni kembali ke fitrah. 

Menjadi manusia yang utuh. Sehat bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi memiliki makna hidup.

Ramadan, menurut dr Rif’at, adalah ruang untuk itu.

Dan seperti jalur cahaya yang harus jernih agar bisa melihat dengan jelas, hati pun harus dibersihkan agar mampu menerima petunjuk.

Lihat juga: 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam Al Ghazali

Di situlah puasa menemukan hikmahnya.(Romadhona)

Berita Terkini

tuntutan BEM PTMAI untuk DPRD Jawa Timur
BEM Umsida Turut Kawal 25 Tuntutan BEM PTMAI Zona V kepada DPRD Jawa Timur
April 13, 2026By
jalur masuk Umsida tanpa tes
Tetap Tenang, Umsida Buka Banyak Jalur Pendaftaran Maba 2026 Tanpa Tes
April 9, 2026By
Umsida jadi kebanggan Sidoarjo
Jadi Kebanggaan Sidoarjo, Sekda Sanjung Implementasi ‘Kampus Berdampak’ Umsida
April 6, 2026By
penyerahan bingkisan idul fitri
Sinergi Umsida Bagikan Bingkisan Idul Fitri untuk Pegawai Supporting di 3 Kampus
March 16, 2026By
program studi univ muhammadiyah Sidoarjo terakreditasi unggul
Umsida Teguhkan Langkah Menuju ASEAN Recognition 2038
February 13, 2026By
penghargaan dosen dan tendik, prof syafiq
Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
February 10, 2026By
abdimas prof Sigit 1
Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
February 10, 2026By
Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By

Riset & Inovasi

pendirian daycare lansia 1_11zon
Pendirian Daycare Lansia, Cara Abdimas Umsida Perkuat Layanan Sosial di Masyarakat
April 16, 2026By
abdimas tepung pakcoy 2
Tepung Pakcoy, Inovasi Dosen Umsida yang Siap Diproduksi Masyarakat Secara Mandiri
April 15, 2026By
kontrol produksi garam berbasis iot
Dosen Umsida Kembangkan PLTS untuk Kontrol Produksi Garam Menggunakan IoT
March 30, 2026By
daycare lansia 1
Tim PKM Umsida Dampingi Program Daycare Lansia Bersama PRA Boro
February 27, 2026By
abdimas kepada peserta didik sb at tanzil malaysia
Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
February 19, 2026By

Prestasi

prestasi mahasiswa fisioterapi
Mahasiswa Fisioterapi Umsida Raih Juara di Physio Fest Nasional 2026
April 10, 2026By
atlet tapak suci umsida
Latihan Mandiri Atlet Tapak Suci Ini Berbuah Manis di Bumi Open 14th Championship 2026
April 9, 2026By
tapak suci umsida di pakubumi open 2026
Borong 14 Emas di Pakubumi Open 2026, Tapak Suci Umsida Tunjukkan Dominasi di Level Internasional
April 8, 2026By
atlet umsida juara 1 kompetisi internasional
Sudah Persiapan Matang, Atlet Umsida Juara 1 Tanding Dewasa di Kompetisi Internasional
April 8, 2026By
pencak silat umsida di pakubumi open 2026
Mahasiswi Umsida Raih Juara 1 Pencak Silat Pakubumi Open Championship 2026
April 7, 2026By