Umsida.ac.id – Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PGSD Umsida), Angelina Maulidiyah dan Nur Widya, mengenalkan alat musik serta mainan tradisional Indonesia kepada anak-anak Sanggar Bimbingan (SB) Hulu Langat, Selangor, Malaysia.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program KKN Kemitraan Internasional Angkatan 15 yang dimulai sejak awal Oktober.
Lihat juga: Kedutaan Besar Malaysia Kunjungi Umsida, Bahas Peluang Kolaborasi Tingkat Global
Berbagai mainan dan alat musik tradisional yang dikenalkan kepada anak-anak dibawa langsung dari Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tempat mereka melakukan Hibah Abdimas PISN.
Kegiatan ini dilakukan setelah anak-anak sebelumnya mempelajari materi kebudayaan melalui modul.
Angelina dan Widya ingin membuat materi yang sebelumnya hanya dilihat melalui gambar menjadi pengalaman yang dapat dilihat, disentuh, dan dimainkan.
Dengan begitu, kata Widya, anak-anak tidak hanya tahu nama dan sejarahnya, tetapi juga merasakan sendiri cara memainkannya.
Yoyo Kayu Jadi Primadona

Salah satu mainan tradisional yang paling menarik perhatian anak-anak adalah yoyo kayu. Mereka sangat antusias untuk mencoba memainkannya.
Angelina dan Widya mencontohkan mengajari mereka yang masih kebingungan untuk memainkannya.
Siswa-siswa lain duduk rapi melingkar di lantai. Mereka mengamati kertas kerja dan memperhatikan teknik yang benar dengan penuh rasa penasaran.
“Dari kegiatan tersebut, mereka tidak hanya mengenal nama permainan tradisional, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui aktivitas bermain,” tutur Widya.
Setelah mencoba mainan tradisional, anak-anak kemudian dikenalkan dengan sejumlah alat musik.
Angelina memperagakan cara memainkannya sebelum anak-anak mencoba secara bergantian.
Pengenalan mainan dan alat musik tradisional tersebut menggunakan pendekatan learning by playing.
Anak-anak belajar mengenai budaya melalui aktivitas yang melibatkan gerak, permainan, dan pengalaman langsung.
Menurut Angelina, pengalaman tersebut membuat anak-anak lebih mudah menerima materi kebudayaan.
“Kalau hanya membaca, anak-anak mungkin cepat lupa. Dengan memegang dan memainkannya langsung, budaya itu melekat di ingatan mereka,” ujarnya.
Ia berharap pembelajaran kebudayaan tidak hanya berhenti pada pengetahuan mengenai nama dan sejarah suatu benda, tetapi juga memberikan pengalaman kepada anak-anak untuk mengenal dan menikmati budaya Indonesia.
“Saya ingin anak-anak merasakan bahwa budaya itu bukan hanya cerita di buku, tetapi sesuatu yang bisa dimainkan dan dinikmati bersama,” tambah Angelina.
Gunakan Mainan Tradisional untuk Pembelajaran

Suasana kelas berubah ketika mereka menunjukkan berbagai permainan tradisional Indonesia.
Anak-anak pun antusias mencocokkan benda yang mereka lihat dengan gambar pada modul.
“Yang ini sama macam dalam gambar tadi, cikgu! Cuma yang betul lebih besar,” celetuk salah seorang siswa.
Widya dan Angelina menjelaskan nama, asal, serta fungsi dari setiap mainan dan alat musik yang dibawa. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mencoba secara langsung.
Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang kegiatan.
Mereka saling mencoba, berdiskusi, hingga membantu teman yang mengalami kesulitan ketika memainkan mainan tradisional.
Kegiatan semakin meriah ketika mainan dan alat musik yang sebelumnya digunakan untuk belajar akan dibagikan kepada anak-anak secara gratis.
Setelah menerima mainan, anak-anak langsung mencobanya kembali bersama teman-teman.
Mereka saling menunjukkan cara bermain dan bahkan saling menantang untuk melihat siapa yang dapat memainkan yoyo lebih lama.
Lihat juga: Halal Center Umsida Perkuat Kolaborasi Internasional Bersama USIM Malaysia
“Tengok, saya dah boleh naikkan dia! Kawan, cuba tengok ni!” ujar seorang siswa sambil memperlihatkan yoyo yang berhasil dimainkannya.
Temannya kemudian ikut mencoba. “Eh, saya pun boleh! Jom kita lawan siapa paling lama!” katanya.(Angelina)
























