Umsida.ac.id – Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FPIP Umsida) memperluas kiprah internasional melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (abdimas) di Management and Science University (MSU), Malaysia.
Dilaksanakan pada Senin (13/4), kegiatan ini mengusung program psychoeducation stress management and achievement motivation bersama Student Tahfidz Stream di Center for Fundamental Studies (CSF) MSU.
Lihat juga: Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
Ajari Mahasiswa Hadapi Stres Akademik
Ketua tim abdimas, Ghozali Rasyid Affandi SPsi MA mengatakan bahwa ini merupakan pelatihan psikoedukasi dengan fokus pada Manajemen Stres dan Motivasi Berprestasi.
“Kami menggelar kegiatan ini lantaran tuntutan akademik dan hafalan (Tahfidz) yang seringkali melebihi sumber daya koping yang dimiliki, sehingga memicu stres,” jelasnya.
Oleh karena itu, imbuh Ghozali, Abdimas ini membantu siswa mengenali gejala stres sedini mungkin agar tidak berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis.
Peserta juga mendapatkan alat bantu (tools) praktis untuk menyeimbangkan target hafalan dan target akademik.
Psikoedukasi Manajemen Stres Mahasiswa Tahfidz di MSU

Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan tiga materi dari kedua kampus yakni Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog, Ghozali Rasyid Affandi SPsi MA, serta Dr Basirah Abu Bakar dari MSU.
Sebagai pemateri pertama, Zaki mengenalkan edukasi dalam memahami stres, mulai dari penjelasan definisi, gejala, dan dampak stres pada pelajar.
Setelah itu, para peserta dilatih menggunakan strategi 4A untuk menghadapi stres, yaitu Avoid (Hindari), Alter (Ubah), Adaptasi (Adaptasi), dan Accept (Terima).
Lalu, Ghozali Rasyid Affandi SPsi MA menjelaskan tentang pentingnya positive thinking dan keyakinan yang positif.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memiliki goal setting yang jelas, baik dalam target akademik maupun hafalan Al-Qur’an.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari dosen sebagai fasilitator, tim CSF MSU, hingga mahasiswa KKN internasional Umsida yang turut membantu dalam persiapan kegiatan, termasuk pelaksanaan pretest dan posttest.
Salah satu dosen dari MSU juga menjadi pembicara dalam kegiatan ini.
Ia adalah Dr Basirah Abu Bakar yang menjelaskan tentang cara membangun lingkungan yang suportif.
Di sesi ini para peserta diminta untuk melakukan analisis stressor pribadi dan komitmen tindakan dalam 24 jam ke depan.
“Jadi peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung mempraktekkan bagaimana mengelola stres dan menetapkan tujuan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Peserta Siap Hadapi Dampak Jangka Panjang

Lebih lanjut, Ghozali menjelaskan beberapa dampak jangka panjang yang dialami mahasiswa.
“Dari sini kami harap mahasiswa memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi tekanan studi dan hafalan. Mereka juga bisa mewujudkan target akademik dan target hafalan Al-Qur’an secara seimbang melalui goal setting yang terukur,” tandasnya.
Selain itu, imbuh Ghozali, peserta juga diharapkan bisa membentuk lingkungan komunitas pelajar yang saling mendukung melalui konsep Positive Team .
“Dan yang terpenting mereka mampu menerapkan nilai-nilai spiritual (seperti ikhlas dan tawakal) dalam manajemen emosi sehari-hari,” ucap Sekprodi Psikologi itu.
Ghozali menuturkan bahwa kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama internasional antara Umsida dan MSU, baik dalam bidang pengabdian maupun publikasi ilmiah.
Senada dengan itu, Dr Basirah Abu Bakar menyampaikan bahwa program psikoedukasi ini memberikan dampak positif bagi mahasiswa MSU.
“Program psikoedukasi yang dijalankan memberi impak positif kepada pelajar apabila mereka menunjukkan peningkatan pemahaman serta kemahiran dalam mengurus diri dan emosi sepanjang proses menghafal al-Quran,” terangnya.
Menurutnya, pemaparan konsep pengurusan stres berasaskan pendekatan 4A, pelajar lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran tahfidz secara holistik.
Lihat juga: Tim Abdimas Umsida Lanjutkan Pendirian Daycare Lansia Bersama PRA Boro
“Sehubungan itu, program serupa ini bisa diperluaskan kepada komunitas yang lain dengan penyesuaian kandungan dan pendekatan yang lebih berfokus mengikut keperluan peserta,” tuturnya.(Bella)



















