• Alumni
  • Alumni

UMSIDA dan Spirit Pencerahan: Rekonstruksi Peradaban Islam

Oleh: Kumara Adji Kusuma*

Dalam sejarah yang terdokumentasikan secara saintifik, kita lihat banyak peradaban di dunia mengalami jatuh dan bangun. Dalam sejarah peradaban dan kebudayaan, kita lihat pula tema pencerahan selalu menjadi awal kebangkitan dari sebuah perubahan menuju peradaban mulia. Untuk ini, UMSida menemukan perannya. Dalam kerja-kerja pencerahan.

Dalam bukunya yang berjudul Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive, Prof. Jared Diamond menggambarkan kolapsnya berbagai peradaban dunia, mulai dari peradaban kuno di Montana, Kepulauan Pitcairn dan Henderson, Anasazi, Maya, Viking, Norse Greenland, hingga peradaban modern di Rwanda, Dominika, Haiti, China, dan Australia. Buku yang ditulis tahun 2005 itu menjelaskan faktor penghancur peradaban itu sangat beragam dan mungkin kompleks. Satu sama lain saling berkaitan.

Bagi Diamond, sosok penulis yang merupakan favorit Bill Gates ini mengungkapkan  persoalan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini adalah kendali diri Perilaku. Kendali diri perilaku yang bermuara pada akhlak ini berkontribusi besar pada keruntuhan perdaban. Hal senada disampaikan oleh pakar sejarah Prof. Arnold J. Toynbee (lahir 1889- wafat 1975)yang menyimpulkan, bahwa banyak peradaban yang hancur (mati) karena “bunuh diri” dan bukan karena benturan dengan kekuatan luar. Toynbee tidak menekankan pada wacana clash of civilizations seperti yang digagas oleh Samuel Huntington yang menggambarkan kehancuran peradaban lain karena benturantetapi lebih menekankan pada aspek “peran dinamis agama dan spiritualitas dalam kelahiran dan kehancuran satu peradaban.”

Kesimpulkan Diamond dan Toynbee di atas jauh-jauh waktu telah tercermin dalam buku berjudul “Muqadimah” yang ditulis Filsuf dan ilmuwan Ibnu Khaldun (lahir1332 – wafat1406). Khaldun menegaskan bahwa jika Tuhan berkehendak menghancurkan peradaban, mereka akan diuji dengan seberapa jauh konsistensi dan komitmen memegang nilai dan moralitas di saat kemaksiatan merebak dimana-mana. Dalam studinya yang mendalam tentang kebangkitan dan kehancuran peradaban, Toynbee menemukan, bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran yang luar biasa dalam jatuh dan bangunnya sebuah peradaban. Karena itu aspek spiritual memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu peradaban. Peradaban yang telah hilang inti spiritualitasnya, maka ia akan mengalami penurunan bahkan kehancuran.

Ibn Khaldun mengindentifikasi tanda-tanda Negara yang mendekati kehancuran. Diantaranya adalah kekurangan lapangan pekerjaan. Ibn Khaldun mengatakan: “Ketahuilah bahwa apabila kerja sudah tidak ada lagi, atau telah kurang, maka itu berarti Allah telah mengizinkan agar laba dihilangkan.” Dengan demikian keadaan suatu Negara yang sudah mencapai usia senja itu ditandai dengan terjadinya krisis ekonomi. Berbagai faktor lain yang dapat menyebabkan percepatan kehancuran suatu Negara adalah berhubungan dengan moralitas. Akhlak, budi pekerti dan kesusilaan yang terdapat dalam masyarakat makin lama makin menurun, sehingga menciptakan suat bentuk kebobrokan moral.

Dalam konteks peradaban, maka pencerahan haruslah dipertahankan. Karena pencerahan adalah awal dari bangkit dan terjaganya peradaban. Pencerahan ini bukanlah pencerahan seperti yang diselenggarakan di Eropa dalam gerakan “Renaissance” (kelahiran kembali) pada periode tahun 1300 – 1700 dan gerakan “Aufklarung” (bahasa Inggris: Enlightenment) pada tahun 1700an hingga kini. Gerakan Renaissance dan Aufklarung ini saling melengkapi. Kebangkitan kembali rasionalitas Yunani Kuno dan mematikan semangat spiritualitas dan religiusitas ditopang dengan semangat Aufklarung Kantian yang mengedepankan individualisme dengan ekspresi semangat “Aude Sapere” yakni keberanaian untuk menggunakan pemahaman sendiri (the courage to use your own understanding) dengan mengabaikan entitas/otoritas di luar diri. Inilah yang melahirkan peradaban modern (gerakan modernisme) dalam bentuk ideologi yang kemudian dikembangkan dengan semangat sains (logico-hypotetiko-verifikatif) yakni ideologi kapitalisme dan komunisme beserta berbagai turunan politik-ekonomi dari kedua ideologi tersebut menjadi peradaban modern. Kapitalisme dan komunisme meski terlihat berseberangan, bahkan bermusuhan, namun keduanya adalah anak kandung dari modernisme.

Bagi kaum Muslimin, penolakan atas modernisme  adalah karena ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi. Akibatnya nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Dengan demikian, timbullah disorientasi moral-religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental, korupsi, dan seterusnya. Materialisme menjadikan materi sebagai kenyataan terdasar. Materialisme ontologis ini didampingi pula dengan materialisme praktis, yaitu bahwa hidup pun menjadi keinginan yang tak habis-habisnya untuk memiliki dan mengontrol hal-hal material. Dalam hal ini aturan main utama tak lain adalah prinsip evolusionisme survival of the fittest, atau dalam skala lebih besar: persaingan dalam pasar bebas yang mematikan spirit kerjasama dan  ta’awun (tolong menolong). Etika persaingan dalam mengontrol sumbersumber material inilah yang merupakan pola perilaku dominan individu, bangsa, dan perusahaan-perusahaan modern.

Pencerahan dalam konteks keislaman tidaklah sama dengan pencerahan seperti pada era di atas. Kunci pencerahan dalam Islam adalah cahaya yang menerangi kegelapan seperti tertulis dalam Al Quran: min adzulumati ila nur (2: 257). Menuju cahaya adalah menuju Allah karena Allah adalah cahaya langit dan bumi (Allahu nuurus samawati wal ardhi) (QS 24: 35). Allah-lah pemberi  cahaya dan dengan cahaya ini maka akan menjadi terang bagi siapapun yang menerimanya. Cahaya Allah menjadikan orang bisa “melihat” dan memiliki pengetahuan (‘ilm) tentang yang benar (al-haq) dan yang salah (al-bathil); dan kebenaran itu adalah dari Allah (QS 2: 147). Ilmu (al-‘ilm) itu sendiri ada di sisi Allah (al-‘ilm ‘inda Allah) (QS 67:36) karenanya untuk mendapatkan pengetahuan yang benar adalah melalui Allah dengan ikhtiar yang dilakukan manusia melalui pembelajaran (QS 2: 31). Cahaya ini adalah petunjuk, barang siapa mendapatkan petunjuk maka tidak ada takut dan sedih (QS 2:38). Inilah pencerahan dalam Islam. Bagi anggota masyarakat Islam yang tercerahkan maka ia akan mendapati dirinya menjadi orang yang optimis dan produktif sehingga outcome-nya berupa rahmat bagi semesta. Karena itu tidak mengherankan jika siapapun yang menerima cahaya tersebut akan menjadi penerang atas kegelapan.

Prof. Ziaul Haque dalam buku Revelation and Revolution in Islam menggambarkan bahwa kehadiran Rasulullah dalam masyarakat adalah untuk melakukan revolusi atas kegelapan yang hadir kembali pada masyarakat. Buku ini membuka pikiran dan mata jiwa pembaca berkenaan hakikat perjuangan para nabi terdahulu yang sebenarnya membawa suara kebenaran dan kesetaraan sosial dalam masyarakat termasuk melawan kerusakan dan kezaliman yang dibawa oleh pemimpin korup dan zalim yang ada pada masa kini. Dalam arti kata lain, kesyumulan perjuangan nabi dalam membawa pesan Ilahi itu perlu dinatijahkan kepada masyarakat dan pesan keadilan sosial dan melawan penindasan untuk diperjuangkan.  Aspek kesyumulan Islam itu dapat digarap dengan lebih dalam jika pesan pembawaan keadilan sosial-ekonomi ditumpukan oleh pejuang-pejuang berideologikan agama Islam pada masa kini dengan realitas hari ini.

Muhammadiyah sebagai oraganisasi kemasyarakatan Islam, mengutip Prof. Haedar Nashir dalam tulisannya Muhammadiyah Dan Gerakan Pencerahan Untuk Indonesia Berkemajuan, mengungkapkan bahwa gerakan pencerahan bagi Muhammadiyah sesungguhnya bukan akan, tetapi telah dimulai sejak Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah seabad yang silam. Kehadiran Muhammadiyah melalui gerakan tajdid atau pembaruannya tidak lain sebagai wujud gerakan pencerahan. Gerakan mengembalikan umat pada sumber ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi yang murni dengan mengembangkan ijtihad di banyak bidang kehidupan merupakan aktualisasi dari gerakan pencerahan.Gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah digelorakan kembali pada Muktamar ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta sebagaimana terkandung dalam “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua”.

Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural. Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSida) sebagai bagian dalam lingkaran gerakan dakwah Muhammadiyah merupakan salah satu ujung tombak pencerahan ummat. Sebuah kampus yang unggul, mandiri, sinergis, islami, dinamis dan amanah ini memiliki peran sebagai pembawa misi pencerahan bagi ummat dan bangsa. Kerja UMSida adalah dengan menjadi penerang bagi kegelapan umat dengan pencerahan secara keilmuan. Gerakan pencerahan dan penyadaran pada peran-peran intelektual dengan mengembangkan ijtihad di banyak bidang kehidupan merupakan aktualisasi dari gerakan pencerahan yang mewujud sehingga melahirkan generasi yang akan mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Inilah kerja-kerja yang diwujudkan oleh UMSida. Dari sini pencerahan itu bersemi.

*Penulis adalah Dosen UMSida

Leave a Reply