pembuatan pupuk organik

2 Tim KKN P Umsida Ajari Buat Pupuk Organik Dari Galon Bekas hingga EcoTakakura

Umsida.ac.id – Sisa sayuran, kulit buah, dan daun kering yang biasanya berakhir sebagai sampah rumah tangga kini dikenalkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik melalui program dua kelompok Kuliah Kerja Nyata Pencerahan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (KKN P Umsida).

KKN P 40 Umsida memberikan pelatihan kepada perwakilan petani dari enam dusun di Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jumat (31/7/2026). 

Sementara itu, KKN P 14 Umsida mengajak ibu-ibu PKK mempraktekkan metode kompos EcoTakakura di Dusun Jatisari dan Parelegi, Desa Purwodadi, Minggu (2/8/2026).

Lihat juga: Manfaatkan Limbah Tutup Botol, KKN P 3 Umsida Ajak Siswa Manfaatkan Jadi Kerajinan

Kedua kegiatan tersebut sama-sama mendorong masyarakat mengelola sampah organik dari rumah. 

Namun, metode yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan warga, yaitu pembuatan pupuk cair menggunakan galon bekas dan kompos melalui keranjang EcoTakakura.

Pupuk Organik dari Galon Bekas untuk Enam Dusun

pembuatan pupuk organik

Pelatihan KKN P 40 Umsida dilaksanakan di Balai Desa Wonoploso dengan melibatkan kelompok tani dari Dusun Pandansari, Ponggok, Wonosari, Ploso, Bamban, dan Gempol. 

Setiap dusun mengirimkan lima orang perwakilan, termasuk ketua kelompok tani setempat.

Ketua KKN P 40 Umsida, Reynaldy Cahyaningrat, menjelaskan bahwa program tersebut digagas karena kondisi Desa Wonoploso yang belum memiliki tempat pembuangan akhir. 

“Karena itu, pengolahan sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan warga untuk mengurangi penumpukan limbah rumah tangga,” ujarnya.

Tim KKN mengenalkan cara membuat pupuk menggunakan galon bekas yang telah dilengkapi keran pada bagian bawah. 

Bahan yang digunakan meliputi sisa kulit buah, sayuran, daun kering, air gula, larutan EM4, dan tanah.

Seluruh bahan dimasukkan ke dalam wadah, kemudian didiamkan hingga melalui proses fermentasi. 

Keran yang dipasang pada galon memudahkan warga mengambil pupuk cair tanpa harus membuka wadah secara langsung.

“Kami ingin warga tidak lagi melihat sampah organik sebagai barang buangan, tetapi sebagai bahan yang bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, apalagi desa ini tidak punya TPA,” ujar Reynaldy.

Mahasiswa sengaja memilih alat dan bahan yang mudah dijumpai agar metode tersebut dapat dipraktekkan sendiri.

Penggunaan galon bekas juga membuat warga tidak perlu menyiapkan peralatan dengan biaya tinggi.

Salah satu anggota KKN P 40, Ana, mengatakan bahwa kesederhanaan metode menjadi pertimbangan utama dalam menyusun program.

Lihat Juga :  Inovasi Pengolahan Sampah Tanpa Asap Dosen Umsida Masuk Top Ten KISI 2025

“Kami memilih galon bekas dan bahan-bahan yang murah supaya warga benar-benar bisa mempraktikkannya sendiri di rumah tanpa terbebani biaya,” ungkapnya.

Selama kegiatan, peserta aktif bertanya mengenai takaran bahan, waktu fermentasi, serta cara menggunakan pupuk cair pada tanaman.

Shulikah, perwakilan petani dari Dusun Pandansari, menilai penggunaan galon bekas dan keran cukup terjangkau karena mudah ditemukan di rumah warga. 

Bahan pendukung seperti sisa dapur, air gula, dan EM4 juga tidak membutuhkan biaya besar.

Menurutnya, apabila pupuk dapat dihasilkan dalam jumlah cukup dengan kualitas yang baik, kelompok tani berpeluang mengembangkannya menjadi usaha pupuk organik di tingkat dusun. 

Ia berharap terdapat pendampingan lanjutan agar gagasan tersebut dapat diwujudkan secara bertahap.

Pembuatan Pupuk Organik EcoTakakura Bersama PKK

pembuatan pupuk organik

Di Desa Purwodadi, KKN P 14 Umsida mengenalkan metode EcoTakakura kepada ibu-ibu PKK di dua dusun.

Kegiatan pertama dilaksanakan di rumah Ketua RW 05 Dusun Jatisari, Suryanto, bersamaan dengan agenda rutin PKK. 

Sebanyak 15 peserta mengikuti penjelasan dan praktik pengolahan sisa sayuran, buah-buahan, serta limbah dapur menjadi kompos.

Sejumlah peserta membawa sampah sayuran dari rumah agar dapat langsung digunakan saat demonstrasi. 

Tim KKN mendampingi proses pemilahan, pencampuran media, hingga menjelaskan cara merawat kompos agar proses penguraian berjalan optimal.

Pelatihan berikutnya berlangsung di Balai Dusun Parelegi dan diikuti oleh 31 peserta. 

Kegiatan tersebut dipimpin oleh penanggung jawab program, Alfindri Nadhifah C, serta dihadiri Heny Trisepti Wulandari selaku Tim Penggerak PKK.

“Ibu-ibu sangat antusias dalam kegiatan ini dari awal hingga akhir, terlebih saat demonstrasi berlangsung,” ujar Nadhifah.

Metode EcoTakakura dikenalkan sebagai cara mengolah sampah dapur dalam wadah sederhana.

Dengan pemilahan dan perawatan yang tepat, limbah organik dapat berubah menjadi kompos yang dimanfaatkan kembali untuk tanaman di sekitar rumah.

Lihat juga: KKN P 47 Umsida Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi

Selain pelatihan, kegiatan di Dusun Parelegi juga dilengkapi dengan penyerahan bibit cabai dari Umsida. 

Bibit tersebut diberikan secara simbolis kepada Heny sebagai dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga sekaligus praktik pemanfaatan kompos yang dihasilkan warga.(Ibra/Saiful)

Berita Terkini

pemeriksaan tumbuh kembang anak (3)
Perhatikan Tumbuh Kembang Anak, Mahasiswa Umsida Kunjungi TK ABA 1 Candi
November 4, 2026By
parenting guru dan ortu (3)
Perkuat Pola Parenting, FPSI Umsida Gandeng IGRA Sidoarjo
November 4, 2026By
um banjarmasin kunjunfi fkkg umsida (8)
Dari Kurikulum hingga Laboratorium, UM Banjarmasin Pelajari Pengelolaan FK Umsida
November 3, 2026By
umsida di job fair 2026 (2)
Hadir di Job Fair Sidoarjo 2026, Umsida Buka Layanan Kesehatan dan Konseling Gratis
November 3, 2026By
UKM Paduan Suara Umsida (2)
Sambut Kader Baru, UKM Paduan Suara Umsida Ajarkan Dasar-Dasar Musik
November 2, 2026By
kerja sama umsida dan ikapi
Umsida dan IKAPI Jatim Sinergikan Potensi Akademik dan Penerbitan
October 30, 2026By
pkmu 2026
Tak Seseram yang Dibayangkan, Ini Cerita Mahasiswa Umsida Ikuti PKMU
October 30, 2026By
pelantikan bem dan dpm
Umsida Lantik BEM dan DPM 2026-2027, Siap Wujudkan Gerakan Progresif
October 29, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

mimbar organisasi mahasiswa
Organisasi Mahasiswa Umsida Dapat Apresiasi dan Ruang Aspirasi Terbuka
October 29, 2026By
sistem tidak naik kelas (2)
Pakar Umsida Soal Kebijakan Tidak Naik Kelas: Rawan Putus Sekolah
October 28, 2026By
pendidikan muhammadiyah
Prof Syafiq: Pendidikan di Umsida Terus Bergerak dan Berdampak
October 28, 2026By
4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By