Umsida.ac.id – Lapar, haus, lelah, tapi tetap harus bersikap tenang. Ramadan hadir dengan situasi yang tidak biasa bagi tubuh dan pikiran.
Namun justru di situlah, menurut psikologi, seseorang sedang dilatih untuk menahan diri untuk menjadi pribadi yang lebih matang secara emosi.
Lihat juga: Ramadan Bukan Tentang Diet, Tapi Juga Soal Self-Mastery Akan Duniawi
Hal tersebut disampaikan oleh dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr Eko Hardi Ansyah SPsi MPsi Psikolog yang menjelaskan bahwa puasa adalah media latihan besar dalam pengendalian diri.
Apa yang Dilatih Saat Puasa?
“Puasa berasal dari kata shiyam yang berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan diri,” tuturnya.
Secara syariat, imbuhnya, itu berarti menahan diri hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri, mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya.
Secara psikologis, menurut Dr Eko, tentu saja hal puasa memiliki peran penting dan strategis dalam memperkuat karakter seseorang.
“Menahan diri merupakan variabel penting dalam psikologi. Ia dikenal dengan istilah self-regulation, effortful control, atau self-control,” jelas Dr. Eko.
Self-regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengatur perhatian, emosi, dan perilaku secara sadar.
Seseorang yang memiliki kontrol diri yang baik akan cenderung meminimalisir konflik dan membangun relasi sosial yang baik dengan orang lain.
Karena itulah berpuasa sebenarnya menjadi media latihan besar dalam pengendalian diri.
3 Alasan Psikologi tentang Pentingnya Menahan Diri

Menurutnya, ada tiga aspek penting pengendalian diri yang dilatih selama puasa.
Pertama adalah kontrol perhatian. Ini adalah kemampuan untuk mengarahkan fokus pada hal-hal yang dianggap penting, seperti menjaga kualitas ibadah, sekaligus mengalihkan perhatian dari hal-hal yang mengganggu atau berpotensi menimbulkan dosa.
“Ini adalah kemampuan seseorang untuk “berkonsentrasi” dengan puasanya, dengan mengarahkan energi mental untuk mempertahankannya meskipun banyak tantangan,” terang Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan itu.
Kedua yakni kontrol penghambat, yaitu kemampuan untuk menahan atau menghambat respons dominan, impulsif, atau otomatis yang sebenarnya ingin segera dilakukan.
Bagi orang berpuasa, ini adalah kemampuan dia untuk menahan rasa lapar dengan tidak makan dan termasuk menahan diri untuk marah saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau menghindari perbuatan jahat.
Ketiga adalah kontrol aktivasi, yang merupakan kemampuan untuk memulai atau melakukan suatu tindakan meskipun secara alami seseorang enggan atau tidak termotivasi melakukannya.
“Jika kontrol penghambat adalah kemampuan untuk menahan, maka kontrol aktivasi adalah kemampuan untuk mendorong diri tetap bertindak,” jelasnya.
Bagi orang berpuasa dia akan berlatih saat energi berkurang karena lapar, dia tetap mampu mendorong dirinya untuk memperbanyak ibadah, dzikir, membaca al-Quran, silaturahim, berinfaq shadaqah dan sebagainya.
Begitu pentingnya bulan Ramadhan, banyak peristiwa besar dalam Islam sukses terjadi di saat umat muslim berpuasa, diantaranya Adalah Perang Badar.
Oleh karena itu, kata Dr Eko, puasa Ramadan menjadi media penting dan strategis secara psikologis untuk seseorang memiliki kualitas karakter hingga menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Apa Menahan lapar dan Haus Bisa Menstabilkan Emosi?
Dr Eko menegaskan bahwa itu bukan sekadar persepsi.
“Menahan lapar dan haus memang dapat memperkuat kemampuan mengelola emosi, bukan hoaks. Tetapi efeknya sangat bergantung pada kesadaran seseorang dalam menjalaninya,” ujarnya.
Secara biologis, jelas Dr Eko, kondisi lapar membuat tubuh berada dalam tekanan ringan.
Gula darah menurun dan tubuh lebih sensitif. Jika dalam kondisi itu seseorang tetap mampu merespons dengan tenang, maka ia sedang melatih sistem pengendalian emosinya.
“Otak belajar bahwa meskipun tubuh tidak nyaman, respons tetap bisa dikendalikan,” tuturnya.
Namun, jika puasa hanya dijalani sebagai rutinitas fisik tanpa refleksi, maka latihan emosionalnya tidak maksimal.
Jadi bukan sekadar persepsi atau “omon-omon”, melainkan proses psikologis yang benar-benar akan menghasilkan dengan syarat dilakukan bersama “control atensi, control hambatan, dan control aktivasi” yang terus diasah karena Allah SWT.
Regulasi emosi dalam puasa bukan hanya soal menahan marah saat lapar, tetapi juga kemampuan menghadirkan kebahagiaan dalam ibadah. Ketika seseorang mampu mengendalikan emosinya saat menjalankan aktivitas spiritual, maka perlahan itu akan menjadi karakter.
“Inilah yang disebut pribadi bertakwa sebagai dampak dari puasa Ramadan,” tambahnya.
Keseimbangan Ibadah dan Emosi

Selain menahan diri, Ramadan juga diisi dengan ibadah seperti salat, tilawah, dan dzikir.
Apakah ini benar-benar berpengaruh pada kestabilan emosi?
Menurut Dr. Eko, ibadah tersebut memiliki efek langsung terhadap stabilitas emosi.
“Ibadah seperti salat, tilawah, dan dzikir memiliki efek langsung terhadap kestabilan emosi karena di dalamnya ada proses kontrol aktivasi,” jelasnya.
Selama Ramadan, aktivitas ibadah dilakukan berulang-ulang dalam waktu satu bulan penuh.
Pengulangan ini membentuk kebiasaan baru. Ketika dilakukan secara istiqamah dan penuh kenikmatan, kebiasaan tersebut memperkuat sistem regulasi emosi dalam diri seseorang.
Tarawih misalnya, bagi sebagian orang mungkin terasa berat di awal.
Namun ketika dijalani terus-menerus, tubuh dan pikiran beradaptasi.
Ada rasa tenang yang muncul karena ritme ibadah yang konsisten.
“Jika dijalankan dengan penuh kenikmatan, akan melahirkan efek stabilitas emosi yang kuat,” ujarnya.
Di situlah puasa menemukan makna psikologisnya.
Lihat juga: Strategi Puasa Sehat yang Jarang Diketahui dari Sahur hingga Tarawih
Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi membentuk manusia yang lebih tenang, matang secara emosi, dan kuat dalam menahan diri dari segala godaan.(Romadhona)
Sumber: Dr Eko Hardi Ansyah SPsi MPsi Psikolog



















