Umsida.ac.id – Upaya meningkatkan kesejahteraan lansia terus diperkuat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh tim Pengabdian masyarakat (Abdimas) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dalam kegiatan ini, tim Abdimas memberikan pendampingan kepada Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Boro dalam mempersiapkan pendirian daycare lansia sebagai bentuk layanan sosial yang berkelanjutan.
Lihat juga: Tim PKM Umsida Dampingi Program Daycare Lansia Bersama PRA Boro
Bertempat di kantor PRA Boro (TPQ Al Muhajirin) pada Sabtu, (11/4/2026), Abdimas ini diikuti oleh sekitar 15 pimpinan PRA Boro.
Daycare Lansia Jadi Fokus Abdimas Umsida untuk Kesejahteraan Lansia
Dipimpin oleh Lely Ika Mariyati MPsi Psikolog, kegiatan diawali dengan studi tiru ke Pimpinan Cabang Aisyiyah Sukodono yang telah lebih dahulu mengelola daycare lansia pada sekitar Februari lalu.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran langsung mengenai praktik penyelenggaraan daycare, mulai dari jenis layanan, sistem operasional, hingga tantangan yang dihadapi di lapangan.
Lely menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan teori, tetapi juga pengalaman langsung agar peserta lebih siap dalam merealisasikan program serupa.
“Daycare lansia bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang yang memberikan makna, kebahagiaan, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya memulai dari langkah sederhana serta membangun komitmen tim agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Disusun Melalui Diskusi dan Identifikasi Kebutuhan

Setelah studi tiru, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah (FGD) yang dipandu oleh Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog selaku tim pengabdian sekaligus Sekretaris Prodi Psikologi Umsida.
Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyusun perencanaan daycare lansia secara lebih terstruktur.
Setiap kelompok melakukan identifikasi berbagai permasalahan yang umum dialami lansia, seperti kesepian, penurunan kondisi fisik, hingga kebutuhan akan interaksi sosial.
Berdasarkan permasalahan tersebut, peserta kemudian merancang program kegiatan yang relevan, seperti senam lansia, pengajian rutin, serta aktivitas stimulasi kognitif.
Selain itu, peserta juga memetakan kebutuhan sarana prasarana serta mengidentifikasi jejaring yang dapat dilibatkan, baik dari internal organisasi maupun pihak eksternal.
Mereka mulai menyusun rencana operasional daycare, termasuk jadwal kegiatan, alur layanan, dan pembagian peran tim.
Zaki menambahkan bahwa pendekatan terhadap lansia harus dilakukan secara menyeluruh.
“Lansia tidak hanya butuh layanan fisik, tetapi juga perhatian pada aspek emosional dan sosial,” jelasnya.
Direncanakan Menjadi Layanan Sosial Berkelanjutan

Pendampingan ini memberikan dampak positif bagi peserta, salah satunya Anis yang menyampaikan bahwa awalnya ia merasa ragu apakah daycare lansia ini bisa benar-benar diwujudkan.
Namun setelah mengikuti pendampingan ini, ia jadi lebih paham langkah-langkahnya dan lebih yakin untuk memulai.
Peserta lainnya, Latifa Hanum, juga mengungkapkan, “Kegiatan ini membuka wawasan kami. Ternyata banyak kebutuhan lansia yang selama ini belum kami sadari, dan sekarang kami jadi punya gambaran program yang bisa dilakukan.”
Lihat juga: Tim Abdimas Umsida Tingkatkan Literasi Keuangan Digital untuk Bendahara Sekolah
Melalui rangkaian pendampingan ini, Pimpinan Ranting Aisyiyah Boro kini tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kesiapan yang lebih matang untuk merealisasikan daycare lansia. (Amalia, Diah)



















