Umsida.ac.id – Setelah menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam, banyak orang ingin segera “balas dendam” saat waktu berbuka tiba.
Meja makan penuh dengan berbagai hidangan, mulai dari takjil hingga makanan berat.
Lihat juga: Gorengan Tiap Buka Puasa, Aman atau Tidak? Ini Penjelasan Ahli
Namun menurut Dosen Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Hesty Widowati SKeb Bd MKeb, kebiasaan makan berlebihan saat berbuka justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.
Ia menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali setelah seharian tidak menerima asupan makanan dan minuman.
“Lambung yang kosong selama 12 hingga 14 jam sebenarnya perlu penyesuaian terlebih dahulu sebelum menerima makanan dalam jumlah besar,” jelasnya.
Karena itu, pola makan saat berbuka puasa sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh tidak “kaget”.
Berbuka Puasa Terlalu Banyak Bisa Mengganggu Pencernaan

Hesty menjelaskan bahwa salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah langsung makan besar ketika azan magrib berkumandang.
Padahal, sistem pencernaan yang sudah lama tidak bekerja akan terbebani jika harus langsung mencerna makanan dalam jumlah banyak.
Menurutnya, kondisi ini bisa memicu berbagai gangguan kesehatan seperti perut kembung, begah, mual, hingga nyeri ulu hati.
“Ketika makanan berat langsung masuk, lambung akan dipaksa bekerja lebih keras. Hal ini bisa memicu naiknya asam lambung dan menimbulkan rasa tidak nyaman,” ujarnya.
Selain itu, makanan tinggi karbohidrat atau gula yang langsung dikonsumsi dalam jumlah besar juga dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.
Akibatnya, tubuh justru akan terasa lemas dan mengantuk setelah berbuka.
Dalam jangka panjang, kebiasaan makan berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai penyakit metabolik.
“Jika pola ini dilakukan terus-menerus, risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung juga bisa meningkat,” tambahnya.
Kebiasaan “Balas Dendam” Saat Buka Puasa Perlu Dihindari
Hesty menilai fenomena “balas dendam makan” saat berbuka puasa cukup sering terjadi di masyarakat.
Setelah menahan lapar seharian, banyak orang akhirnya makan terlalu cepat dan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.
Padahal kebiasaan ini justru dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, di antaranya:
- Gangguan pencernaan seperti kembung dan mual
- Lonjakan gula darah yang terlalu cepat
- Peningkatan berat badan
- Meningkatnya risiko penyakit metabolik
- Beban kerja jantung yang lebih berat
Menurutnya, kesalahan lain yang sering terjadi saat berbuka puasa adalah pola makan yang tidak seimbang.
Beberapa kebiasaan yang kerap dilakukan masyarakat saat berbuka antara lain:
- Makan terlalu banyak dan terlalu cepat
- Memilih makanan yang berat dan sulit dicerna
- Kurang minum air putih
“Tubuh sebenarnya hanya membutuhkan energi secukupnya setelah berpuasa. Jika makan terlalu banyak sekaligus, tubuh justru akan bekerja lebih berat untuk mencernanya,” jelas Hesty.
Cara Berbuka Puasa yang Sehat dan Tidak Membebani Tubuh

Agar tubuh tetap sehat selama menjalani puasa Ramadan, Hesty menyarankan agar proses berbuka dilakukan secara bertahap.
Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW juga menganjurkan berbuka dengan makanan ringan terlebih dahulu.
Beberapa cara berbuka puasa yang lebih sehat antara lain:
- Memulai berbuka dengan makanan ringan dan mudah dicerna seperti kurma, buah-buahan, atau kolak
- Minum air putih yang cukup untuk menggantikan cairan tubuh
- Beristirahat sejenak sebelum melanjutkan makan besar
Dengan cara tersebut, tubuh memiliki waktu untuk menyesuaikan kembali sistem pencernaan sebelum menerima makanan dalam jumlah lebih banyak.
Selain itu, Hesty juga membagikan beberapa tips agar masyarakat tetap bisa menjalani puasa dengan pola makan yang sehat.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengkonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi
- Mencukupi kebutuhan air putih
- Melakukan olahraga ringan
- Beristirahat yang cukup
- Menghindari makanan yang terlalu berat dan sulit dicerna
Menurutnya, menjaga pola makan selama Ramadan sangat penting agar ibadah puasa dapat dijalani dengan tubuh yang tetap sehat dan bertenaga.
Lihat juga: Lonjakan Konsumsi Bahan Pangan saat Ramadan dan Dampaknya bagi Rantai Pasok
“Puasa bukan berarti makan sebanyak mungkin saat berbuka. Justru kita perlu mengatur pola makan agar tubuh tetap sehat dan ibadah bisa dijalani dengan optimal,” pungkasnya.(Romadhona)
Sumber: Hesty Widowati SKeb Bd MKeb



















