pupuk kompos kotoran sapi

Buat Pupuk Kompos Kotoran Sapi, KKN P 17 Berdayakan Petani dan Peternak

Umsida.ac.idMahasiswa KKN Pencerah 17 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melaksanakan program kerja unggulan di bidang lingkungan melalui kegiatan pembuatan pupuk kompos dari limbah kotoran sapi di desa Gerbo, Pasuruan yang sudah siap digunakan pada Selasa, (25/8).

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan limbah yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Lihat juga: Olah Sampah Organik, KKN P 3 Umsida Ubah Galon Bekas Menjadi Komposter

Diawali dengan Bersih Lingkungan 

pupuk kompos kotoran sapi

Sebelum melaksanakan kegiatan pembuatan pupuk kompos, mahasiswa KKN mengadakan aksi bersih-bersih dan pembuatan plakat untuk pencegahan membuang sampah sembarangan bersama warga Dusun Kejoren. 

Kegiatan tersebut dilakukan pada Ahad, (2/8) sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mempererat kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat.

Warga bersama mahasiswa membersihkan beberapa titik lingkungan yang membutuhkan perhatian. 

Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang terlibat dalam kegiatan gotong royong tersebut. 

Aksi bersih lingkungan ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk terus menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan yang sehat serta nyaman.

Pupuk Kompos Bantu Peternak dan Petani 

pupuk kompos kotoran sapi

Setelah kegiatan bersih-bersih, pada Selasa, (11/8) mahasiswa melanjutkan program unggulan berupa pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan kotoran sapi. 

Melalui program ini, mahasiswa KKN memperkenalkan proses pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan pupuk masyarakat. 

Lihat Juga :  Green House dan Toga, Cara Kelompok 2 KKN BKKBN Umsida Kenalkan Pancasila

“Program ini dipilih karena sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut bekerja sebagai petani dan membutuhkan pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian,” ujar Achmad Oddy Syam, Ketua KKN.

Selain menguntungkan petani, imbuhnya, pupuk kompos ini juga membantu para peternak untuk membantu memanfaatkan kotoran ternak mereka.

Proses pengelolaan pupuk kompos ini memerlukan waktu sekitar dua minggu sejak awal pembuatan hingga siap dimanfaatkan secara maksimal pada Selasa, (25/8), dengan syarat kompos benar-benar disimpan dan ditutup secara rapat selama proses fermentasi.

“Hal tersebut kami pelajari dari riset-riset dan jurnal yang membahas mengenai pupuk kompos,” terang Oddy.

Dari hasil observasi lapangan, tim KKN menemukan bahwa limbah kotoran sapi yang tersedia belum dikelola secara maksimal. 

“Padahal jika diolah dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi pupuk kandang atau rabuk yang bermanfaat bagi lahan pertanian,” lanjutnya.

Program kerja ini mendapat respons positif dari masyarakat karena dinilai sesuai dengan kebutuhan warga.

Lihat juga: Banyak Sampah Busuk, KKN T 7 Umsida Ubah Jadi POC dan Kompos

Salah satu petani, Sahar, mengatakan bahwa pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. 

“Selama ini, limbah kotoran sapi yang tersedia belum dikelola secara maksimal. Apalagi di sini juga banyak petani yang jelas membutuhkan pupuk,” ungkapnya.(Mahendra)