fhimm2

IMM FH UMSIDA: Putusan Terhadap Ahok Bukan Ultra Petita

Kasus penistaan agama yang kerap diperbincangkan di kancah nasional dan internasional membuat Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) turut mengkaji putusan kasus tersebut melalui kegiatan ilmiah Bedah Putusan Kasus Penistaan Agama Yang Dilakukan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang diselenggarakan IMM Komisariat Hukum (15/5). Kegiatan ini tentunya akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa khususnya kader IMM terhadap putusan yang dijatuhkan pada kasus penodaan agama di Indonesia serta memancing mahasiswa untuk berpikir kritis dan bersikap terbuka.

Akademisi Hukum Pidana UM Surabaya Muridah Isnawati SH MH selaku narasumber menyampaikan tentang isu ultra petita (putusan melampaui tuntutan jaksa), “Isu Ultra Petita tidak berlaku untuk kasus pidana. Jadi, pro kontra terhadap putusan Ahok harus dipandang hal biasa. Namun secara hukum, apa yang dilakukan Ahok telah memenuhi rumusan pasal 156 dan 156a KUHP, yang disana juga telah ditentukan pidananya,” ungkapnya.

Acara yang dihadiri seluruh mahasiswa FH Umsida ini berlangsung interaktif dan mengandung pesan agar generasi muda tidak mudah bersikap tinggi hati dan wajib memperhatikan setiap kata yang terucap, karena ucapan kita mencerminkan siapa diri kita. Jaga sikap, jaga toleransi, dan jaga NKRI. (fat/fik/dian)

6

UMSIDA: Membangun Desa – Membangun Indonesia

Suksesnya Program Desa Melangkah 2016 kerjasama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Jawa Pos Media Partner dirilis kembali di Program Desa Melangkah 2017 ini, menurut Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, SH, M.Hum, sejalan dengan nawacita, membangun Indonesia di pinggiran kota Sidoarjo dengan memperkuat Indonesia dalam kerangka NKRI. “Mendorong pemerintahan desa untuk lebih mandiri bermuara pada undang-undang desa, mengawal pembangunan jangka menengah RPJM.” Ungkap abah Ipukl dalam sambutan bupati. “Selain itu, program ini dapat membangun pola pikir masyarakat desa serta menjadi contoh untuk desa-desa lain, semua yang tergabung bersatu bergerak untuk mewujudkan manusia berdaulat dalam ekonomi politik dan kebudayaannya,” sambungnya.

1

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf memperkuat pernyataan Bupati Sidoarjo dengan membeberkan apa saja yang perlu diperkuat untuk menghadapi situasi akhir-akhir ini. “Diperlukan kreatifitas, inovasi lebih-lebih menggalang dana non-APBD, akan sangat membantu. Hal ini sejalan dengan UUD no. 6 tahun 2016 tentang pembangunan desa, dan penggunaan tepat sasaran. kesuksesan Jatim adalah kesuksesan kerja bersama kumpulan dari kabupaten kota dari desa dan kelurahan, seperti orkestra pembangunan Jatim.” Ungkapnya sembari membayangkan keindahan Jatim seperti alunan musik yang dimainkan oleh orkestra.

“Jatim pantas berbangga hati, bahwa pertumbuhan pendapatan per kapita diatas rata-rata nasional, namun, jumlah pengangguran dibawah rata-rata nasional. Ironinya, kemiskinan kita diatas rata-rata nasional, inilah masalah yang dihadapi Jatim yang kurang disadari oleh kita semua,” sambung Gus Ipul.

Sidoarjo merupakan kabupaten yang cukup aktif mengurangi kemiskinan. Gus Ipul mengajak agar pemerintah kabupaten Sidoarjo kembali ke desa, “Mari periksa data dari BPS, bapenas dan instansi lain kemudian disinkronisasi. Sumbernya Rumah tangga yang dikategorikan miskin. Pemerintah hadir di rumah tangga, miskin basil 1 dilaporkan di bupati, dirapatkan bersama dinaikkan ke basil 2 atau 3.” (dian)

2

UMSIDA Gagas Penghargaan Desa dalam Program Desa Melangkah 2017

Pemberian penghargaan pemerintahan desa dalam Program Desa Melangkah 2017 Kerjasama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Jawa Pos Media Partner mencakup tiga hal besar menurut Kepala Humas dan Kerjasama UMSIDA, Hasan Ubaidillah, SE, MM. “Pertama, meningkatkan kapasitas untuk pemerintah desa atau masyarakat dalam rangka memperkaya dan meningkatkan pelayanan publik. Kualitas partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa sangat berperan penting pada perkembangan sebuah negara. Kedua, menyelenggarakan event nasional, Usaha Kecil Menengah (UKM) yang  nama generiknya digunakan untuk memajukan kemandirian desa, terutama di sidoarjo, akan diselenggarakan di luar Jawa Timur diantaranya, Bandung, Jogja dan beberapa kota lain. Ketiga, desa-desa mendapat pendampingan langsung dari UMSIDA,” ungkapnya dalam memberikan sambutan selaku panitia desa melangkah.

Pendampingan UMSIDA pun tidak sembarangan, tampak pada saat acara berlangsung, Rektor UMSIDA hadir bersama para dekan seluruh fakultas serta direktur pascasarjana. Kehadiran para pimpinan kampus tersebut menunjukkan keseriusan UMSIDA mendampingi desa dalam bidang pendidikan, hukum, ekonomi, politik dan sosial, kesehatan jiwa dan raga, hingga teknologi dan keagamaan.

Empat fokus utama desa award diberikan kepada desa memiliki nilai kreatif dan inovatif, pemberdayaan desa, re-branding desa, dan edukasi desa yang menjadi ujung pangkal pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) desa yang tangguh, mandiri, dan agar pemuda desa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. (dian)

31

FIKES UMSIDA Belajar dari Dua Perusahaan Ternama

Selain menguasai keterampilan medis, memiliki keterampilan teknologi juga menjadi keharusan bagi mahasiswa Prodi D-IV Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Menggabungkan kedua keterampilan tersebut, sebanyak 77 mahasiswa Prodi D-IV Analis Kesehatan berkunjung ke PT Indolakto dan PT. Mayora di Pasuruan untuk studi excursie (9/5).

1

HRD Indolakta Tyas Pralistyaningrum, SH. Dalam sambutannya menyampaikan sedikit tentang cara penyimpanan susu atau minuman secara benar, walau di dalam lemari es. Para mahasiswa analis antusias menyimak karena ternyata yang mereka lakukan selama ini masih salah.

Dekan Fikes Sri Mukhodim Faridah Hanum, SST.,MM.,M.Kes berharap agar kunjungan ini bisa ditindak lanjuti dengan membuat MoU dan mahasiswa perlu diberikan pemahaman, “Dengan pengamatan secara langsung agar bisa membuka wacana berpikir mereka tentang dunia industri yang sebenarnya.” Selanjutnya Hanum berharap kunjungan ke perusahaan dilakukan minimal sekali dalam 1 tahun.

Sesampai di Mayora group, staf HRD PT. Tirta Fresindo Jaya  Kristian Dwi Kusuma, S. Psi, mengatakan bahwa perusahannya hanya memproduksi minuman (teh, kopi kemasan, air mineral)  khusus teh bisa memproduksi 9.000 botol tiap hari. Berbagai pengetahuan yang didapatkan mahasiswa dari kunjungan PT Indolakta dan PT. Mayora Pasuruan diantaranya beberapa inovasi yang dilakukan perusahaan mengenai pengelolaan sampai pada pemasaran. (yusuf/dian)

5

Desa Melangkah 2017: Pengembangan Potensi Produk Desa

Setelah sukses melaksanakan program desa melangkah 2016, terbayar sudah kerja keras Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) untuk membantu masyarakat desa di kabupaten Sidoarjo. Bagaimana tidak, peserta Program Desa Melangkah yang terdiri dari 66 desa dari 10 kecamatan merasa sangat terbantu dalam rangka penggalian potensi menuju kemandirian desa kini mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat sehingga mendongkrak jumlah peserta menjadi 154 desa dari 12 kecamatan.

Rektor UMSIDA Dr. Hidayatulloh, M.Si merasa program tersebut sangat sukses dan harus dilanjutkan, “Desa Melangkah 2016 telah berlangsung baik dan hasilnya bisa dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat desa. Ini merupakan sinergi yang luar biasa antara UMSIDA, pemerintah kabupaten (Pemkab) Sidoarjo dan Jawa Pos media partner. Karena itu, pada launching Program Desa Melangkah 2017 ini, saya mengajak para dekan agar dapat lebih detai membantu kebutuhan masyarakat desa.” Ungkapnya dalam sambutan launching Desa Melangkah 2017 di Pendapa Kabupaten Sidaorjo (8/5).

Launching ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Saifullah Yusuf, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, S.H., M.Hum., Rektor UMSIDA Dr. Hidayatulloh, M.Si., Ketua tim satgas dana desa kementerian desa tertinggal dan transmigrasi Prof. Kacung Marijan, Pimpinan Redaksi Jawa Pos Nurwahid, dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara UMSIDA, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, dan Jawa Pos.

Ketua tim satgas dana desa kementerian desa tertinggal dan transmigrasi (MTT) Prof. Kacung Marijan menaruh apresiasi luar biasa dan berharap bersar dari program desa Melangkah 2017, “Program Desa Melangkah ini sangat membantu program kementrian desa tertinggal dan transmigrasi. Indonesia tidak akan sejahtera jika desanya tidak sejahtera. Walaupun desa adalah wilayah terbesar, kondisinya masih jauh dari perkotaan. Oleh karena itu desa harus memiliki produk. Jika satu desa belum bisa memiliki satu produk unggulan, maka bisa tiga desa bergabung dan membuat satu produk unggulan yang sama,” ungkapnya  dalam sambutan mewakili MTT. (dian)

1

Dua Mahasiswa Bahasa Inggris UMSIDA ini Meraih The Best Make Up

Khoiruni Awanah (Nana) dan Rista Nur Syahidah (Rista), keduanya adalah mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang mengikuti kelas kecantikan bersama sari ayu, bekerjasama dengan jawa pos di Giant Maspion sSquare Surabaya. Nana dan Rista tidak menyangka akan terpilih menjadi the best make up atas ketelatenannya memoleskan satu per satu alat kecantikan pada wajah cantik mereka.

jprista jpnana

Nana dan Rista sangat senang mengikuti kegiatan tersebut lantaran menerima banyak ilmu baru tentang tata rias, “Alhamdulillah bisa menang, walaupun menurut saya itu cuma kebetulan, tapi saya merasa seneng banget bisa ikut beauty class kemarin. Banyak banget hal-hal positif yang saya dapat seperti cara memoles eyeliner. Saya baru tau loh kalo bikin eyeliner itu memulai nya dari ujung luar ke dalam bukan dari dalam ke luar, nah selama ini saya kebalikannya. Terus bikin alis biar natural itu gimana, itu ilmu baru juga,” ungkap Nana.

Berbeda dengan Rista yang sudah memiliki kemampuan dasar merias wajah, baginya Meraih The Best Make Up sangat membahagiakan karena dapat naik ke panggung, berpose dan bersalaman dengan Dimas Beck, artis nasional yang saat itu menjadi tamu kehormatan. “Dimas Beck mengajak kita dan beberapa pemenang lain bernyanyi di atas panggung, itu sesuatu banget, bisa satu stage  dengan artis. Kapan lagi kan…” ungkapnya sangat senang. (dian)

up

Dua Mahasiswa Bahasa Inggris UMSIDA ini Meraih The Best Make Up

Khoiruni Awanah (Nana) dan Rista Nur Syahidah (Rista), keduanya adalah mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang mengikuti kelas kecantikan bersama sari ayu, bekerjasama dengan jawa pos di Giant Maspion sSquare Surabaya. Nana dan Rista tidak menyangka akan terpilih menjadi the best make up atas ketelatenannya memoleskan satu per satu alat kecantikan pada wajah cantik mereka.

jpnana jprista

Nana dan Rista sangat senang mengikuti kegiatan tersebut lantaran menerima banyak ilmu baru tentang tata rias, “Alhamdulillah bisa menang, walaupun menurut saya itu cuma kebetulan, tapi saya merasa seneng banget bisa ikut beauty class kemarin. Banyak banget hal-hal positif yang saya dapat seperti cara memoles eyeliner. Saya baru tau loh kalo bikin eyeliner itu memulai nya dari ujung luar ke dalam bukan dari dalam ke luar, nah selama ini saya kebalikannya. Terus bikin alis biar natural itu gimana, itu ilmu baru juga,” ungkap Nana.

Berbeda dengan Rista yang sudah memiliki kemampuan dasar merias wajah, baginya Meraih The Best Make Up sangat membahagiakan karena dapat naik ke panggung, berpose dan bersalaman dengan Dimas Beck, artis nasional yang saat itu menjadi tamu kehormatan. “Dimas Beck mengajak kita dan beberapa pemenang lain bernyanyi di atas panggung, itu sesuatu banget, bisa satu stage  dengan artis. Kapan lagi kan…” ungkapnya sangat senang. (dian)

15

UMSIDA Persiapan Lomba Hidroponik untuk Masyarakat Desa di Sidoarjo

Tanaman merupakan terminal karbon motor menempel di daun dan menjadi penangkal polutan. Begitulah Ir. Heksa Widagdo, M.M, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) kabupaten Sidoarjo mengawali paparannya tentang Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di daerah perkotaan. “Sejengkal tanah apabila ditanami, pasti memberikan hasil yang baik. Tanaman mempunyai oksigen yang berguna untuk kehidupan. Oleh karena itu, jumlah perbandingan antara tanaman dengan jumlah manusia dan kadar polutan harus seimbang agar tidak semakin menambah polusi. Jika RTH terbentuk baik, polutan bisa dibawah batas ambang, ungkap Heksa dalam acara Sosialisasi Kompetisi Kampung Hydroponik, kerjasama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), SBOTV, dan DLHK (30/3).

Heksa melakukan uji polusi di alun-Alun Sidoarjo dan di Taman, yang paling bagus kadar oksigennya di alun-alun. Hal ini disebabkan banyaknya tanaman yang tertata rapi dan strategis. Tanaman berfungsi sbg pori-pori. Air hujan yang turun diserap oleh pori-pori yaitu akar. Karena itu, bisa dibayangkan jika kebanyakan tanah ditanami beton, tentu air akan terus mengalir sebagaimana sifatnya, mencari tempat lebih rendah. Inilah yang menyebabkan banjir.

Hidroponik sejatinya penanaman dengan media tanpa tanah, namun dengan media spt rockwool, cocopeat (serbuk sabut klapa), hydroton (lempung), sekam bakar (sering dicampur cocopeat), pasir, kerikil, dan serbuk kayu. Menurut Muhammad Abror, Dekan Fakultas Pertanian UMSIDA, hidroponik dapat ditumbuhkan di tempat minim tanah dan dapat mengurangi penyakit. Penyakit didapat dari semisal kasus yang terjadi pada cuaca hujan, air yang turun ke tanah, pasti terpercik ke daun dan akan membawa bakteri yang sering kita lihat bintik-bintik berwarna putih, karena itu hasil panen tanaman hidroponik lebih baik daripada di tanah. Yang dibutuhkan untuk penanaman hidroponik adalah cahaya matahari, air, nutrisi, dan udara.

Kriteria media tanam yang baik untuk hidroponik adalah tidak mempengaruhi nutrisi, tidak menyumbat sistem perairan, mempunyai pori-pori yang baik. Nutrisi penting krn media tanam tdk mengandung unsur hara makro N, P K S Ca Mg) mikro Mn, Mo Zn Fe sesuaikan dengan jenis tanaman yang ditanam. Membuat sendiri atau membeli yang siap saji. Jenis tanaman yg dapat digunakan untuk hidroponik adalah sawi, bayam, kangkung, pokcoy, selada. (dian)

 

2

Eksistensi Legislative Daerah Dalam Mendorong Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dari KKN

Memiliki pemimpin adil bijaksana serta pro-rakyat tanpa pamrih mungkin masih menjadi impian bangsa Indonesia saat ini oleh karena sangat banyaknya kasus kolusi korupsi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi rahasia umum dan lazim terlaksana di NKRI tercinta ini. Membersihkan hukum di Indonesia dari KKN merupakan impian mendasar rakyat Indonesia yang tentunya akan masih dan selalu ada harapan. Hal ini dapat bermula dari eksistensi legislatif daerah yang jujur dan bermental cemerlang.

1

Untuk menengahi kekacauan ini, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menyelenggarakan kuliah tamu menghadirkan Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Da’im, SPd, MM yang membahas secara gamblang tentang Eksistensi Legislative Daerah Dalam Mendorong Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dari KKN (29/4). Suli menceritakan tentang proses pencalonannya sebagai Caleg dari dapil Ngawi Madiun. Disanalah terungkap, bahwa memang aroma korupsi tidak bisa sepenuhnya terelakkan. Bagi Caleg dengan mental kacang, setelah menduduki posisi wakil rakyat tentulah akan mencari kesempatan mengais rejeki haram. Namun sebaliknya, bagi Caleg bermental cemerlang, kedudukan sebagai legislatif tersebut tentu akan diimbangi dengan sumbangsih pembangunan misalnya dari sisi infrastruktur, bagi daerah yang mendulang namanya,” ungkapnya di hadapan mahasiswa Fakultas Hukum, UMSIDA.

Suli Daim

Era otonomi daerah sejatinya membuka peluang seluas luasnya bagi Daerah untuk membangun wilayahnya. Tapi tetap saja, “Untuk membangun pemerintahan yang bersih dari KKN, memerlukan nurani yang bersih dan matang. Jadi, sekali lagi, hanya orang-orang yang “memang pantas” saja sebagai legislatif yang dapat eksis dan memberi energi positif bagi sekelilingnya. Menjalankan fungsi anggaran, Policy making dan pengawasan, itulah yang senantiasa diharapkan sejalan,” sambungnya penuh antusias dengan pesan agar mahasiswa menjadi generasi yang energik dan berani menyuarakan kebenaran. (fat/dian)

 

1

Penelitian Kembangkan Potensi Kehidupan

Setelah sukses mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Desain Pembelajaran di Era ASEAN Economic Community (AEC) Untuk Pendidikan Indonesia Berkemajuan” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) kembali disibukkan dengan aktivitas akademik untuk membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi dengan mudah. Menulis skripsi memang gampang-gampang susah, karena itu harus memahami metode dengan baik agar hasilnya penemuannya juga baik.

Untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas penelitian mahasiswa calon guru  serta mensinergikan pandangan tentang penelitian terkini antara dosen dan mahasiswa, FKIP menyelenggarakan BEDAH BUKU METODE PENELITIAN PENDIDIKAN (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D) bersama penulis Prof. Dr. Sugiyono, M.Pd (5/4). Buku karangan pakar metode penelitian berlevel internasional tersebut sering menjadi rujukan utama mahasiswa atau dosen FKIP UMSIDA untuk melakukan penelitian.

4

Kegiatan yang dihadiri 450 peserta dari berbagai lini akademik tersebut diselenggarakan untuk menjawab masalah yang terjadi pada saat perkuliahan di FKIP, “Perbedaan background pendidikan yang berbeda-beda pada dosen sehingga mahasiswa memiliki sudut pandang yang relatif berbeda pada sudut pandang metodologi penelitian. Hal ini berdampak pada tidak sedikitnya mahasiswa yang mengalami kesulitan ujian skripsi dikarenakan hal tersebut,” ungkap Muhammad Faisal, Kepala Kemahasiswaan FKIP UMSIDA. “Selain itu tema penelitian yang diangkat mahasiswa kurang inovatif karena lebih dari 70% penelitian yang dilakukan mahasiswa memiliki metode penelitian eksperimen kuantitaif. Padahal penelitian berbasis kualitatif, pengembangan, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat penting bagi guru di era saat ini,” sambungnya.

2

Sugiyono, sang penulis menjelaskan secara gamblang melalui power point dan paparan yang serius tapi santai, dibumbuhi dengan guyonan ala intelektual. Sugiyono membedakan metode penelitian pendidikan dari pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D.  “Mobil, laptop, dan semua elektronik yang ada di sekitar kita ini adalah hasil penelitian, bahkan buku pembelajaran sekalipun,” Ungkap Sugiyono memberikan perumpamaan nyata. Karena itu, melakukan penelitian berarti mengembangkan ilmu pengetahuan dan sarana prasarana, fasilitas infrastruktur, hingga layanan pada masyarakat dari segala lapisan.

Dari segi profit, penelitian dapat digunakan untuk mengajukan kepangkatan akademik, yang tentunya berdampak pada bertambahnya pendapatan. Apabila guru tidak memahami metode penelitian secara utuh, akan sulit bagi guru untuk mengembangkan pengetahuan, terlebih mengajukan kepangkatan, sementara guru memiliki kewajiban membuat penelitian minimal 1 penelitian selama 4 tahun. (dian)