KHGT Muhammadiyah dan rukyatul hilal

KHGT, Rukyatul Hilal, dan Perjalanan Panjang Keilmuan Islam

Umsida.ac.idGagasan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) muncul dari kebutuhan globalisasi. 

Umat Islam kini tersebar di berbagai benua, terhubung dalam sistem ekonomi, pendidikan, dan administrasi global. 

Lihat juga: Hisab dan Rukyatul Hilal yang Jadi Dinamika di Nusantara

Ketika kalender Hijriyah berbeda antar negara, muncul persoalan administratif, dari penentuan hari libur hingga penyelenggaraan ibadah secara internasional.

KHGT berupaya menetapkan satu tanggal Hijriyah global berdasarkan kriteria astronomi tertentu. 

Secara ilmiah, posisi bulan dapat dihitung dengan akurasi sangat tinggi. 

Model visibilitas hilal kini berbasis parameter elongasi, tinggi bulan, umur bulan, dan beda azimut. 

Artinya, secara saintifik, ketidakpastian visual bisa diperkecil. 

Namun, pertanyaannya bukan semata teknis. Apakah unifikasi global selaras dengan turats?

Di sinilah diskursus menjadi menarik. Dalam sejarah fikih, terdapat perbedaan tentang ikhtilaf al-mathali’ (perbedaan tempat terbit bulan). 

Sebagian ulama berpendapat bahwa jika hilal terlihat di satu wilayah, maka berlaku untuk wilayah lain. 

Sebagian lain membatasi pada wilayah tertentu. Artinya, perdebatan global versus lokal sudah ada sejak klasik. 

KHGT dapat dibaca sebagai pengembangan dari pendapat yang mendukung kesatuan mathla’ (tempat terbit matahari, fajar, atau bulan). 

Nusantara: Laboratorium Keilmuan Islam
KHGT Muhammadiyah dan rukyatul hilal
Ilustrasi: Pexels

Indonesia adalah ruang dialog unik antara turats dan modernitas. 

Dua organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mewakili dua pendekatan metodologis. 

Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal.

Bahkan sejak juli 2024 bertepatan dengan 1 Muharram 1446 H , Muhammadiyah mulai menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sebagai penerapan awal di internal Persyarikatan melalui Musyawarah Nasional Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada Februari 2024 di Pekalongan, serta diluncurkan secara terbuka di di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Rabu (25/6/2025).

Sementara NU juga mengembangkan rukyat dengan dukungan hisab imkan rukyat (kemungkinan terlihat). 

Keduanya sama-sama merujuk pada turats, namun berbeda dalam penerapannya.

Perbedaan ini sering dibaca sebagai konflik, padahal sejatinya ia adalah dinamika ijtihad. 

Dalam tradisi Islam, perbedaan ijtihad bukanlah perpecahan aqidah, melainkan kekayaan metodologi. 

Di pesantren-pesantren Jawa, kitab falak seperti Sullam al-Nayyirain diajarkan berdampingan dengan fikih klasik. 

Ini menunjukkan bahwa Nusantara tidak alergi pada sains, tetapi mengintegrasikannya dalam kerangka syariah.

Lihat Juga :  Umsida Sosialisasikan KHGT, Satukan Umat Islam dalam Satu Sistem Waktu

Dalam metodologi kajian keilmuan Islam terdapat istilah yang dikenal dengan “burhani” yakni suatu kaidah memahami nash (teks yang bersumber dari hadits) dilengkapi dengan data-data sains dan hasil observasi. 

Rukyatul Hilal dan KHGT Satu Ekosistem

Rukyatul hilal adalah observasi sebagai implementasi narasi “bayani”, sedangkan hisab adalah teori matematis yang diperoleh dari data-data rukyatul hilal. 

Keduanya membentuk satu ekosistem epistemik.

Ilmu falak modern telah mengkonfirmasi bahwa hilal sangat tipis dan sering tak terlihat meski secara geometris sudah wujud. 

Di sinilah hisab membantu menjelaskan fenomena kegagalan rukyat. 

Maka, pertentangan keduanya sebenarnya adalah dikotomi semu. Yang dibutuhkan adalah integrasi metodologis.

Jika kita kembali pada maqashid, menjaga agama (hifz al-din), menjaga persatuan (hifz al-ummah dalam makna luas), dan menciptakan kemaslahatan, maka pertanyaan kuncinya adalah: metode mana yang paling membawa maslahat kolektif?

KHGT menjanjikan keseragaman global, tetapi juga berpotensi mengabaikan tradisi lokal.

Atau Rukyatul hilal menjaga simbol kebersamaan melihat langit, tetapi kadang memunculkan perbedaan tanggal. 

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendekatan gradual dan dialogis mungkin lebih realistis daripada keputusan sepihak.

KHGT dan Rukyatul Hilal Bukan untuk Dipertentangkan

Pada akhirnya, persoalan penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah bukan sekedar soal tanggal. 

Ia menyentuh identitas, otoritas, dan epistemologi. 

Turats memberi kita fondasi normative, sains memberi kita alat, dan konteks nusantara memberi kita kearifan sosial.

Islam adalah agama teks, dan konteks sekaligus peradaban ilmu. 

Dari Basrah hingga kepulauan Nusantara, umat Islam selalu berdialog dengan langit, kadang melalui mata, kadang melalui angka. 

KHGT dan rukyatul hilal bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. 

Keduanya adalah bagian dari perjalanan panjang keilmuan Islam. 

Yang diperlukan bukan polarisasi, melainkan kebesaran hati untuk mengakui bahwa ijtihad selalu bergerak bersama zaman. 

Lihat juga: Penentuan Hilal dan Dinamika Keilmuan Islam di Nusantara

Dan mungkin, ketika kita kembali menengadah ke ufuk barat, kita tak hanya melihat hilal, tetapi juga melihat bagaimana Islam terus hidup dalam dialektika keilmuan dan keimanan.

Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI

*(Dosen Umsida, muhasib, dan penggemar ilmu falak)

Berita Terkini

program studi umsida terakreditasi unggul
Umsida Teguhkan Langkah Menuju ASEAN Recognition 2038
February 13, 2026By
penghargaan dosen dan tendik, prof syafiq
Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
February 10, 2026By
abdimas prof Sigit 1
Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
February 10, 2026By
Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By
aset kripto menurut dosen Umsida
Risiko Aset Kripto dan Bitcoin, Dosen Umsida Paparkan dari Perspektif Hukum dan Teknologi
December 15, 2025By
SDGs Center Umsida
SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
November 20, 2025By
Apresiasi sekolah partnership Umsida
Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru
November 20, 2025By
kick off penerimaan mahasiswa baru Umsida 4_11zon
Umsida Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
November 19, 2025By

Riset & Inovasi

pelatihan koding dasar dan kecerdasan artifisial
Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
February 3, 2026By
Edukasi TOSS TB 2
Edukasi TOSS TB, Upaya FK Umsida Perkuat Kader Kesehatan Desa Ketimang
January 28, 2026By
kolaborasi Umsida dan pondok pesantren
Kolaborasi FKG, FK, dan Fikes Jadi Relawan Kesehatan di Pondok Pesantren Nurul Haromain
January 21, 2026By
ketahanan pangan dan branding umkm
Kembangkan UMKM Lokal, Tim Abdimas Umsida Beri 2 Pelatihan di UMKM Babakaran Raos
January 21, 2026By
pelajar muhammadiyah tanam kelor
Pelajar Muhammadiyah Jadi Kader Peningkatan Kemandirian Lingkungan dan Ekonomi Abdimas Umsida
January 10, 2026By

Prestasi

mahasiswa Umsida raih 8 penghargaan
Mahasiswa Ini Meraih 8 Penghargaan dalam Kurun Waktu 3 Bulan
February 13, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026.
Usai Juara 1, IMEI Team Umsida Akan Buat Mobil Urban
February 5, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 4, 2026By
kejuaraan ju jitsu mahasiswa Umsida
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 20, 2026By
persiapan shell eco marathon
IMEI Umsida Tancap Gas di Shell Eco Marathon Qatar 2026 dengan Improvisasi Kendaraan Listrik
January 19, 2026By