Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Kajian Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis (26/2/26) di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan, Kampus 1 Umsida.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini mengusung tema “Penguatan Mutu dan Reputasi PTMA untuk Islam Berkemajuan.”
Lihat juga: 4 Strategi Dakwah Islam Berkemajuan
Kajian ini diikuti oleh seluruh dosen, pimpinan unit, dan tenaga kependidikan yang ada di Umsida.
Kegiatan diawali dengan tadarus bersama yang dipandu oleh Anis Farihah MThI yang dilanjutkan dengan opening speech yang disampaikan oleh Ir Tamhid Masyhudi.
Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa bulan Ramadan menjadi momen memetik hasil dari proses ibadah dan penguatan spiritual yang telah dilakukan sebelumnya.
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan merawat, dan Ramadan adalah bulan panen,” tuturnya.
Ir Tamhid juga menyinggung bahwa kegalauan adalah bagian dari naluri manusia.
Namun, ia mengingatkan agar kegelisahan itu tidak membuat seseorang kehilangan arah.
“Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Apa pun kesalahan kita, segera kembali dan memohon ampun kepada-Nya,” ujarnya.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh civitas akademika Umsida untuk terus menanam kebaikan dan karya, sebagaimana hadis Nabi tentang menanam benih meski esok hari kiamat.
Strategi Peningkatan Mutu dan Reputasi PTMA

Memasuki sesi materi pertama, Prof Ahmad Muttaqin MAg MA PhD menyampaikan paparan bertajuk “Strategi Peningkatan Mutu dan Reputasi PTMA.”
Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan global seperti disrupsi AI, tuntutan akreditasi, dan kompetisi reputasi internasional.
“Mutu adalah budaya, bukan sekadar target, apalagi gimmick,” tegas Sekretaris Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah itu.
Ia menjelaskan bahwa penguatan reputasi perlu dibangun melalui tata kelola yang baik, SDM unggul, kurikulum adaptif berbasis OBE, riset berdaya saing, layanan prima, serta penguatan nilai AIK sebagai fondasi Islam berkemajuan.
Di era digital, imbuhnya, juga menekankan pentingnya transformasi menuju smart campus dan pengambilan keputusan berbasis data.
“Kita tidak boleh menurunkan prestasi, harus naik dengan cara audacity to flight higher, karena nekat itu akan menemukan jalan yang lebih tinggi yang tentunya membutuhkan sinergi seluruh stakeholders,” ujarnya.
Memaknai Core Values dan Risalah Islam Berkemajuan

Materi kedua disampaikan oleh Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi dengan tema “Memaknai Core Values dan Tagline UMSIDA.”
core values adalah nilai inti yang menjadi dasar berpikir, bersikap, dan bertindak di lingkungan kampus
“Core values menjadi identitas sekaligus pedoman dalam pengambilan keputusan dan standar perilaku yang konsisten,” ujarnya.
Core Values Umsida, lanjut Dr Hidayatulloh, dirumuskan dalam akronim Uswah, Mandiri, Sinergi, Integritas, Dinamis, dan Amanah, yang harus hidup dalam karakter moral dan kinerja seluruh sivitas akademika.
Terkait tagline Umsida “Dari Sini Pencerahan Bersemi”, ia menjelaskan bahwa Umsida menjadi titik awal lahirnya perubahan dan pencerahan ilmu, nilai keislaman, serta kemanusiaan yang tumbuh berkelanjutan
“Umsida harus unggul dan inovatif, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam,” tegasnya setelah memaknai yel-yel Unggul, Inovatif, Islami.
Kegiatan dilanjutkan dengan istirahat dan salat Dzuhur berjamaah, kemudian kembali dengan pembimbingan BQ dan ibadah.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembimbingan Baitul Qur’an (BQ) dan ibadah wajib seperti wudhu, salat, serta bacaan sesuai Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah yang dipandu oleh tim fasilitator dari Direktorat Al Islam dan Kemuhammadiyahan (DAIK Umsida).
Di kegiatan ini, para peserta kajian tak hanya dibimbing, tapi juga melakukannya langsung.
Rangkaian acara berlanjut pada sesi siang, Wakil ketua BPH Umsida, Prof Achmad Jainuri MA PhD menyampaikan materi ketiga bertajuk “Risalah Islam Berkemajuan dan Implementasinya dalam Peningkatan Mutu dan Reputasi PTMA.”
Ia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan harus berlandaskan tauhid sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Ikhlas.
Tauhid, menurutnya, tidak hanya menyangkut aspek uluhiyah dan rububiyah, tetapi juga menjadi fondasi keterkaitan antara iman dan akidah dalam pandangan Muhammadiyah.
“Tauhid adalah dasar. Dari sanalah arah berpikir, bersikap, dan bertindak ditentukan,” tegasnya.
Prof Jainuri juga menekankan prinsip rahmatan lil alamin sebagai ciri universalitas Islam yang berlaku sepanjang masa dan menembus batas geografis.
Lihat juga: Kampus Islami Harus Hidup dalam Aktivitas Mahasiswa Umsida
Materi tersebut sekaligus menutup rangkaian acara kajian Ramadan di Auditorium. Setelah itu, para peserta melaksanakan salat Asar berjamaah di Masjid An Nur Umsida.(Romadhona)



















