Umsida.ac.id – Ramadan tidak hanya identik dengan peningkatan aktivitas ibadah, tetapi juga lonjakan konsumsi pangan.
Kebutuhan untuk sahur, berbuka, hingga kegiatan sosial membuat permintaan bahan pangan meningkat signifikan dibanding bulan biasa.
Lihat juga: 8 Hal Mengejutkan Kenapa Konsumsi Pangan Saat Ramadan Melonjak
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rahmah Utami Budiandari STP MP menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat selama Ramadan memang mengalami perubahan.
“Selama Ramadan terjadi lonjakan permintaan pada beberapa jenis bahan pangan tertentu,” jelasnya.
Lonjakan Bahan Pangan Paling Signifikan

Menurut Rahmah, bahan pangan yang paling mengalami lonjakan permintaan selama Ramadan umumnya meliputi:
- Bahan pokok: beras dan gula
- Bahan minuman dan makanan manis: gula, buah, dan kurma
- Bahan lauk: daging, telur, minyak goreng, dan santan
“Lonjakan ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan untuk sahur, berbuka puasa, serta berbagai kegiatan sosial seperti buka bersama dan berbagi makanan,” terang kaprodi teknologi Pangan Umsida itu.
Ia juga membahas fenomena “balas dendam” saat berbuka yang turut mempengaruhi volume konsumsi pangan secara keseluruhan.
Fenomena ini didukung berbagai jurnal dan artikel, antara lain:
1. Dorongan fisiologis setelah menahan lapar meningkatkan makan
Setelah berpuasa 12–14 jam, kadar gula darah menurun sehingga tubuh secara alami mendorong konsumsi makanan, terutama makanan manis, untuk segera mengembalikan energi.
Kondisi ini menyebabkan kecenderungan makan lebih banyak saat berbuka.
2. Sebagian besar asupan energi harian terkonsentrasi saat berbuka
Penelitian menunjukkan sekitar 60% asupan energi harian terjadi saat berbuka (iftar), sehingga meskipun jumlah waktu makan terbatas, jumlah makanan yang dikonsumsi dalam satu waktu menjadi jauh lebih besar.
3. Perubahan pola konsumsi ke makanan tinggi lemak, gula, dan energy
Studi di jurnal nutrisi menemukan bahwa selama Ramadan terjadi peningkatan konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol.
Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan memilih makanan yang lebih padat energi, yang dapat meningkatkan total konsumsi pangan tertentu.
4. Faktor psikologis dan rasa puas setelah berbuka
Konsumsi makanan manis saat berbuka juga memberikan rasa puas dan meningkatkan hormon serotonin, sehingga dapat mendorong seseorang untuk makan lebih banyak dari kebutuhan normal.
“Jadi bukan hanya faktor lapar, tetapi juga faktor psikologis yang membuat konsumsi pangan saat berbuka bisa meningkat cukup tinggi,” imbuhnya.
Dampak Lonjakan Konsumsi Pangan
Rahmah menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi selama Ramadan berdampak langsung pada rantai pasok, baik di tingkat produsen maupun distributor.
Dampak tersebut antara lain:
1. Peningkatan permintaan memicu peningkatan produksi dan distribusi
Produsen bahan pangan seperti petani, peternak, dan industri makanan harus meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Distributor dan pedagang juga meningkatkan volume distribusi agar pasokan tetap tersedia di pasar.
Hal ini menyebabkan aktivitas produksi, transportasi, dan distribusi menjadi lebih intensif dibandingkan bulan biasa.
2. Tekanan pada rantai pasok dan resiko keterlambatan distribusi
Lonjakan permintaan dalam waktu singkat dapat menyebabkan tekanan pada rantai pasok, terutama jika produksi tidak dapat segera menyesuaikan.
Akibatnya, kata Rahmah, dapat terjadi keterlambatan distribusi, kekurangan pasokan sementara, atau ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan di beberapa wilayah.
3. Fluktuasi harga bahan pangan
Ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada pasokan, harga bahan pangan cenderung naik.
“Hal ini sering terjadi pada komoditas utama seperti beras, daging, gula, dan minyak goreng,” tuturnya.
Produsen dapat memperoleh keuntungan lebih besar, tetapi distributor dan konsumen menghadapi risiko harga yang lebih tinggi.
4. Peningkatan stok dan manajemen persediaan oleh distributor
Distributor dan pedagang biasanya meningkatkan stok sebelum Ramadan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
“Namun jika perencanaan tidak tepat, bisa saja terjadi kelebihan stok atau sebaliknya kekurangan stok, yang mempengaruhi stabilitas pasar,” ujar Rahmah.
5. Dampak positif terhadap pendapatan produsen dan pelaku distribusi
Peningkatan permintaan selama Ramadan memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi produsen, distributor, dan pedagang.
Periode ini sering menjadi salah satu musim dengan penjualan tertinggi dalam sektor pangan.
“Jadi di satu sisi meningkatkan pendapatan, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan pasokan dan harga jika tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Strategi Industri Pangan Antisipasi Lonjakan Ramadan

Menurut Rahmah, industri pengolahan pangan biasanya sudah mengantisipasi adanya lonjakan atau yang dikenal dengan peak season.
Umumnya pada sebelum terjadi lonjakan maka stok pangan olahan lebih banyak dibandingkan sebelum terjadi lonjakan.
Bentuk antisipasi yang biasanya dilakukan antara lain:
- Perencanaan produksi lebih awal
- Peningkatan stok pangan olahan sebelum Ramadan
- Penguatan distribusi
- Manajemen stok yang lebih ketat
Strategi ini bertujuan memastikan ketersediaan bahan pangan tetap stabil serta mencegah gangguan dalam rantai pasok selama Ramadan.
“Industri biasanya sudah mempersiapkan diri sebelum Ramadan tiba, agar lonjakan permintaan tidak mengganggu stabilitas pasar,” jelasnya.
Lihat juga: Waspada Kebiasaan berbuka Berlebihan, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Ia pun mengingatkan bahwa masyarakat tetap perlu bijak dalam mengatur konsumsi agar kebutuhan pangan terpenuhi tanpa berlebihan.(Romadhona)



















