Umsida.ac.id – Fenomena “Godzilla El Nino” ramai dibicarakan dan menimbulkan kekhawatiran.
Namun, seberapa berbahaya sebenarnya dampaknya?
Menurut dosen pertanian Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Intan Rohma Nurmalasari SP MP, istilah tersebut menggambarkan kondisi El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dibanding biasanya.
Lihat juga: La Nina: Penyebab, Dampak, dan Potensi Bencana Menurut Pakar Umsida
“Godzilla El Nino itu bukan istilah ilmiah, tapi menggambarkan anomali suhu laut yang sangat tinggi dan berlangsung lama, sehingga dampaknya lebih luas dan lebih ekstrem,” ujarnya.
Picu Kekeringan Ekstrem dan Gangguan Iklim
Menurut Intan, El Nino terjadi karena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mengganggu pola cuaca global.
Namun pada kondisi “Godzilla”, pemanasan tersebut melampaui batas normal dan memicu gangguan yang lebih besar.
“Ini bukan sekadar El Nino biasa, tapi kombinasi antara pemanasan laut ekstrem dan umpan balik atmosfer yang lebih kuat,” jelasnya.
Akibatnya, suhu udara meningkat, pola angin berubah, dan curah hujan menurun secara signifikan.
Dampak ini sangat terasa di Indonesia dalam bentuk kekeringan yang lebih panjang.
Tanaman yang Paling Terdampak

Meski kondisi saat ini belum ekstrem, Intan menekankan bahwa sektor pertanian tetap menjadi sektor yang paling rentan terhadap fenomena El Nino.
“Sektor pertanian sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan, terutama pada fase-fase kritis tanaman seperti perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji,” ujarnya.
Dalam kondisi ekstrem, imbuhnya, penurunan produktivitas bahkan bisa mencapai 20 hingga 50 persen, tergantung jenis tanaman dan kondisi lahan.
“Selain itu, stres air juga memperparah serangan hama dan penyakit,” terang Kaprodi Agroteknologi itu.
Intan mengkategorikan jenis tanaman dan dampaknya:
Sangat rentan: padi dan sayuran daun karena membutuhkan air yang banyak, sensitif di fase kritis pertumbuhan, dan kualitas dan rentan menurun.
Cukup rentan: jagung dan kedelai. Jagung cukup rentan saat fase pembungaan dan kedelai bisa terpengaruh kekeringan saat pembentukan polong.
Relatif tahan: singkong, sorgum, dan ubi jalar
“Menurut analisis saya, ke depan komoditas tahan kering seperti sorgum berpotensi menjadi alternatif strategis dalam menghadapi iklim ekstrem,” tuturnya.
Bisa Picu Krisis Pangan Jika Tidak Diantisipasi
Dampak El Nino tidak hanya berhenti di lahan pertanian, tetapi juga berpengaruh pada sistem pangan secara luas.
Intan menjelaskan bahwa kekeringan akan menyebabkan penurunan debit air irigasi dan meningkatkan risiko gagal panen, terutama di lahan tadah hujan.
Akibatnya, produksi menurun dan mendorong kenaikan harga pangan.
“Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa melemahkan ketahanan pangan nasional, terutama pada komoditas strategis seperti beras,” tandas Ketua Pusat Studi SDGs Umsida itu.
Syamsudduha juga menambahkan bahwa krisis air menjadi dampak paling cepat yang muncul
Strategi Hadapi Godzilla El Nino: Petani Harus Adaptif

Menghadapi potensi dampak tersebut, Intan menekankan pentingnya kesiapan petani sejak dini.
“Petani harus mulai melakukan adaptasi sejak dini, bukan reaktif saat dampak sudah terjadi,” tegasnya.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain:
- Menyesuaikan kalender tanam
- Memilih varietas tahan kekeringan
- Efisiensi penggunaan air
- Diversifikasi tanaman untuk mengurangi risiko kerugian total
- Menyimpan cadangan air seperti embung
Selain itu, ada beberapa teknik pertanian yang dinilai efektif untuk menghadapi kondisi kering, seperti:
- Penggunaan mulsa untuk menjaga kelembaban tanah
- Irigasi tetes yang lebih hemat air dan tepat sasaran
- Pemanfaatan biochar untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air
- Sistem tumpangsari untuk mengurangi risiko gagal panen
- Konservasi tanah dan air seperti guludan, rorak, dan penutup tanah
- Agroforestri, kombinasi tanaman dengan pohon untuk mengurangi suhu mikro
Lihat juga: Godzilla El Nino 2026, Benarkah Mengancam Indonesia? Ini Penjelasan Pakar Lingkungan Umsida
“Pendekatan terbaik bukan satu teknik tunggal, tetapi kombinasi adaptasi agronomis ditambah manajemen air dan pemilihan varietas,” tutup Intan. (Romadhona)
Sumber: Intan Rohma Nurmalasari SP MP



















