halal lifestyle

Prof Hana: Halal Lifestyle Bukan Sekadar Tren

Umsida.ac.id – Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku sosial di era globalisasi telah membawa masyarakat pada pola hidup baru, termasuk dalam memahami konsep halal lifestyle.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT IPM, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Selasa, (26/5/2026).

Lihat juga: Halal Center Umsida Siap Dampingi Sertifikasi Halal 3 Perusahaan

Menurutnya, media sosial dan perkembangan digital saat ini sangat memengaruhi cara masyarakat berpikir, mengambil keputusan, hingga memilih produk yang dikonsumsi sehari-hari.

“Kita sekarang hidup di era yang menuntut kita lebih kreatif melihat apa yang ada di sekitar kita, salah satunya terkait gaya hidup halal,” ujarnya.

Dosen Prodi Teknik Industri itu menjelaskan bahwa konsep halal saat ini tidak lagi hanya dipahami sebagai kewajiban agama semata, tetapi telah berkembang menjadi gaya hidup yang mencerminkan kualitas, kesehatan, dan nilai kehidupan.

Halal dan Thayyib Tidak Bisa Dipisahkan

Ia menegaskan bahwa halal tidak dapat dimaknai hanya dari produk yang terlihat di depan mata. 

Menurutnya, konsep halal harus dipastikan mulai dari bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga produk tersebut diterima oleh konsumen.

“Halal dan thayyib itu tidak bisa dipisahkan,” kata Guru Besar bidang Halal Supply Chain itu.

Lantas ia memberi contoh sederhana mengenai buah pisang yang secara zat halal dikonsumsi. 

“Pisang memang halal, tapi jika pisang itu berada di sebelah tempat sampah (berpotensi terkontaminasi), maka produk tersebut tidak lagi memenuhi unsur thayyib atau baik untuk dikonsumsi,” tuturnya.

Karena itu, kata Prof Hana, konsep halal lifestyle juga berkaitan erat dengan standar kualitas dan keamanan pangan. 

Ia menjelaskan bahwa banyak masyarakat nonmuslim saat ini mulai memilih produk halal karena memandang adanya jaminan kualitas dalam proses produksinya.

“Mereka yakin bahan bakunya bagus, proses produksinya bagus, disajikan dengan baik, dan dikelola dengan sumber daya manusia yang baik,” jelasnya.

Halal Berkaitan dengan Etika dan Keamanan Konsumsi
halal lifestyle (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Selain kualitas, Prof Hana menyebut halal lifestyle juga mencakup aspek etika. 

Lihat Juga :  Halal Center Umsida Pastikan Makanan dan Pengolahan Gizi RSIA Nganjuk Tersertifikasi Halal

Salah satu contohnya terdapat pada proses penyembelihan hewan kurban yang harus memenuhi standar kesejahteraan hewan.

Menurutnya, hewan tidak boleh diperlakukan secara kasar dan tidak diperbolehkan melihat proses penyembelihan hewan lainnya.

“Itu bagian dari etika dalam proses produksi halal,” ungkapnya.

Produk makanan, khususnya daging, juga harus didistribusikan dengan cara yang benar agar tidak terkontaminasi dan tetap aman dikonsumsi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Hana menjelaskan bahwa pertumbuhan halal lifestyle di dunia juga dipengaruhi meningkatnya permintaan produk halal dari negara-negara nonmuslim seperti Jepang, Australia, Taiwan, dan Thailand.

Hal tersebut terjadi karena tingginya mobilitas masyarakat muslim dunia, sehingga banyak negara mulai menyediakan produk dan layanan halal untuk menarik wisatawan maupun konsumen muslim.

Halal Lifestyle Tak Hanya Tentang Makanan
halal lifestyle 3
Ilustrasi: Pexels

Prof Hana mengatakan bahwa halal lifestyle kini telah berkembang ke berbagai sektor, tidak hanya makanan dan minuman, tetapi juga fashion, kosmetik, hingga halal tourism.

Lantas ia memberi contoh bahwa bahan pendukung seperti kuas roti, gelatin, keratin, hingga bahan kosmetik dapat menjadi titik kritis kehalalan suatu produk.

“Gaya hidup halal itu melingkupi semuanya, mulai dari bahan, proses produksi, fasilitas produksi, sampai pelayanan,” tutur Prof Hana.

Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, kewajiban sertifikasi halal telah diatur dalam Undang-Undang Jaminan Produk Halal sejak 2014 dan diperbarui melalui Undang-Undang Cipta Kerja tahun 2020.

“Semua produk yang dikonsumsi dan beredar di Indonesia harus tersertifikasi halal,” jelasnya.

Karena itu, pengetahuan mengenai halal lifestyle dinilai sebagai soft skill penting bagi generasi muda, khususnya dalam memahami kandungan produk dan keamanan bahan yang digunakan.

Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih teliti membaca komposisi bahan pada produk makanan, kosmetik, maupun produk lainnya karena banyak istilah asing yang berpotensi mengandung unsur nonhalal.

Lihat juga: Bimtek Juleha, Cara Halal Center Umsida Bimbing Juru Sembelih Mengolah Hewan Ternak

“Keaslian sertifikat tersebut bisa diakses melalui lama BPJPH hanya dalam hitungan detik,” tutupnya.(Romadhona)