edukasi petani alpukat

Edukasi Petani Alpukat, KKN P 10 Umsida Angkat Perekonomian Desa Jatisari

Umsida.ac.id Ketergantungan petani alpukat pada penjualan komoditas mentah kerap menjadi kendala utama dalam optimalisasi ekonomi perdesaan. 

Menyadari hal tersebut, Mahasiswa KKN P 10 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menginisiasi program hilirisasi agrikultur yang dilaksanakan di GOR Desa Jatisari, Kecamatan Purwodadi pada Sabtu, (22/8).

Lihat juga: Program LARIS KKN T Umsida, Buka Peluang Usaha bagi Ibu Aisyiyah

Jebakan Harga Komoditas Mentah

edukasi petani alpukat

Selama ini, perekonomian petani alpukat di Desa Jatisari tersendat oleh rantai pasok konvensional. 

Berdasarkan observasi lapangan, tim KKN menemukan bahwa alpukat hasil panen mayoritas langsung dijual dalam kondisi mentah kepada tengkulak. 

“Hal ini membuat margin keuntungan sangat tipis dan petani rentan merugi saat harga anjlok di musim panen raya,” terang Achmad Arifin Nur Hidayatulloh, Ketua KKN.

Selain itu, lanjut Arifin, petani juga belum memiliki keterampilan dalam melakukan pengolahan pascapanen dan ketidaktahuan mengenai cara menembus pasar modern.

Untuk mengurai problematika tersebut, KKN 10 KKN Umsida tidak sekadar memberikan teori.

Dampingi Petani Alpukat Olah Bahan Mentah

Mereka menerapkan metode penyelesaian masalah melalui tiga tahapan intervensi komprehensif, yakni edukasi, pelatihan, dan inkubasi dan digitalisasi.

“Pertama kami ubah cara pandang masyarakat terhadap hasil bumi mereka,” terang Arifin.

Tim KKN memaparkan analisis peluang pasar untuk menyadarkan warga bahwa alpukat adalah bahan baku yang nilai jualnya bisa melonjak drastis jika diolah menjadi produk jadi.

Selanjutnya, tim KKN menggelar lokakarya produksi. 

“Warga kami latih mengolah daging buah alpukat menjadi varian kuliner kekinian yang memiliki umur simpan lebih panjang dan daya tarik komersial tinggi, seperti pancake dan puding,” tuturnya.

Lihat Juga :  Buah Belimbing Disulap Jadi Sabun Alami, Ini Inovasi KKN T 26 Umsida

Untuk memastikan produk terserap pasar, metode penyelesaian dilanjutkan ke tahap pemasaran.

Warga diberikan pembekalan manajemen merek (branding), mulai dari pembuatan logo representatif, standar pengemasan (packaging) yang higienis, penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga strategi pemasaran digital (digital marketing) melalui media sosial.

Fondasi Baru Kemandirian Ekonomi Desa

edukasi petani alpukat

Arifin menegaskan bahwa pendampingan ini digelar untuk memberi solusi yang diberikan tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

“Hilirisasi adalah kunci untuk memutus rantai harga rendah komoditas mentah. Kami berharap masyarakat Desa Jatisari tidak hanya sekadar tahu resep makanan, tetapi terbangun mentalitas kewirausahaannya secara sistematis,” jelas Arifin.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Jatisari, Rodiyah, mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya mewakili kelompok ibu-ibu setempat yang menjadi penggerak utama program ini.

“Selama ini kami sering bingung saat harga alpukat sedang anjlok, akhirnya hanya dijual murah ke tengkulak atau dimakan sendiri,’ terangnya.

Lihat juga: UMKM Desa Balungtawun Naik Kelas melalui Program UMBIKA KKN P 72 Umsida

Menurutnya pendamping tim KKN ini membuat mereka memiliki keterampilan baru membuat aneka olahan alpukat yang tampilannya menarik dan nilai jualnya lebih tinggi.

“Insyaallah, ilmu ini akan kami teruskan menjadi usaha bersama untuk menambah perekonomian keluarga,” ungkap Rodiyah.(Dandi)