pelatihan kinerja

Gelar Pelatihan Peningkatan Kinerja, Umsida Bangun Produktivitas melalui Tiny Habits

Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Pelatihan Peningkatan Kinerja bertema “Enhancing Productivity Through Tiny Habits” bagi tenaga administrasi Umsida pada Senin, (15/6/2026) di Aula Mas Mansyur, GKB 2 Lantai 7 Kampus 1.

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 tenaga administrasi ini menghadirkan Tino Salim MM, Direktur SEC, sebagai narasumber. 

Lihat juga: Gelar Pelatihan Integrasi AI, Umsida Tingkatkan Kemampuan Dosen di Era Digital

Peningkatan Kinerja di Tengah Perubahan 

pelatihan kinerja

Direktur Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (DPSDM) Umsida, Dr Rifdah Abadiyah SE MSM, menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi momentum untuk menutup tahun 1447 Hijriah dengan membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih baik.

Menurutnya, Umsida saat ini sedang mengalami percepatan perkembangan yang sangat besar, sehingga seluruh pegawai dituntut untuk siap menghadapi berbagai perubahan, termasuk penempatan tugas dan struktur kerja baru.

“Perubahan itu agar kita sudah tidak kaget dengan perubahan, salah satu yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita bisa memiliki satu kebiasaan dan perilaku yang produktif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama pelatihan bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan menghasilkan perubahan perilaku kerja yang berdampak pada peningkatan layanan.

“Yang penting hasil hari ini ke depannya ada peningkatan perilaku. Kalau perilaku meningkat, maka akan menurunkan komplain dari mahasiswa, orang tua mahasiswa, maupun pihak lain,” ungkapnya.

Perbedaan Sibuk dan Produktif

Dalam sesi pertama, Tino Salim mengajak peserta memahami perbedaan antara kesibukan dan produktivitas yang selama ini sering disalahartikan.

Menurutnya, seseorang yang terlalu sibuk cenderung mengalami burnout, merasa terburu-buru, mudah terdistraksi, dan berusaha menyelesaikan semua hal sekaligus tanpa prioritas yang jelas.

“Kalau semuanya dikerjakan sekaligus, itu bukan produktif, hanya sibuk. Yang penting adalah kita menetapkan prioritas,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan jeda bagi tubuh dan pikiran selama bekerja. 

Menurutnya, istirahat tidak harus selalu identik dengan makan atau minum kopi.

“Break itu bisa sesederhana berdiri dari kursi, berjalan sebentar, atau mengalihkan perhatian dari pekerjaan selama beberapa menit,” terangnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa mengejar kesempurnaan secara berlebihan justru dapat menghambat produktivitas.

“Kalau semuanya harus sempurna seratus persen, akhirnya pekerjaan selesai lebih lambat. Kita perlu keseimbangan antara kemajuan dan kesempurnaan,” katanya.

Menerapkan Tiny Habits

pelatihan kinerja

Dalam pelatihan tersebut, Tino memperkenalkan berbagai kebiasaan kecil (tiny habits) yang dapat membantu meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa produktivitas berawal dari perilaku yang dilakukan secara konsisten setiap hari. 

Salah satu kebiasaan yang ia soroti adalah membangun rutinitas pagi yang baik.

Menurutnya, menyelesaikan tugas-tugas sederhana sejak pagi dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi pekerjaan yang lebih besar sepanjang hari.

Peserta juga diajak untuk membiasakan membuat perencanaan harian, menyingkirkan pekerjaan yang belum mendesak, serta mengerjakan tugas yang paling menantang terlebih dahulu melalui konsep eat the frog.

“Kerjakan pekerjaan yang paling menantang di pagi hari ketika energi dan konsentrasi masih tinggi,” ujarnya.

Mengurangi Distraksi dan Membangun Growth Mindset

Salah satu penyebab utama rendahnya produktivitas, menurut Tino, adalah distraksi dari penggunaan handphone yang berlebihan saat bekerja.

Ia menyarankan peserta menerapkan teknik fokus selama 20 hingga 25 menit tanpa gangguan handphone agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih efektif.

Selain pengelolaan waktu, ia juga mengajak peserta membangun growth mindset, yaitu pola pikir yang percaya bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar dan adaptasi.

Lihat juga: Gelar Pelatihan PFA, Satgas PPKPT Umsida Siap Tangani Krisis Psikologis

Tino menilai pola pikir ini sangat penting di tengah perubahan yang terjadi di lingkungan kerja.

“Orang yang paling fleksibel adalah pemenang. Mau ditempatkan di mana saja, dia mau belajar dan beradaptasi,” tegasnya.(Romadhona)