Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 sebagai langkah awal mempersiapkan mahasiswa sebelum terjun langsung ke masyarakat.
KKN Umsida 2026 mengusung tema “Sinergi Membangun Desa Mandiri, Berdaya, dan Berdampak untuk Kemajuan Desa dan Ranting.”
Lihat juga: Menilik Program KKN Internasional 4 Mahasiswa Umsida di Malaysia
Pembekalan dilaksanakan di Auditorium KH Ahmad Dahlan kampus 1 Umsida pada Kamis, (11/6/2026) yang diikuti seluruh mahasiswa KKN Pencerahan pada pagi hari, dan KKN Terpadu di siang hari.
Ketua Pelaksana KKN Umsida 2026, Nurfi Laili MPsi Psikolog, menjelaskan lebih rinci tentang pelaksaan program.
Sebanyak 920 mahasiswa dari 24 program studi mengikuti KKN Pencerahan yang akan ditempatkan di enam kabupaten, yakni Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk, dan Lamongan.
Mahasiswa tersebut akan tersebar di 14 kecamatan dan 72 desa dalam 72 kelompok yang dibimbing oleh 51 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Sementara itu, 398 mahasiswa dari 23 program studi mengikuti KKN Terpadu.
Dibimbing oleh 15 DPL, mereka akan mengabdi di 30 desa di Kabupaten Sidoarjo, meliputi Kecamatan Jabon, Porong, Prambon, Krembung, Tarik, dan Balongbendo.
“Kelompok wajib memilih satu program fokus utama yang paling dikuatkan dengan tetap memperhatikan empat bidang unggulan, yaitu pendidikan, lingkungan, kesehatan, serta sosial budaya dan pariwisata,” jelas Nurfi.
Makna Tema KKN Umsida 2026 untuk Desa dan Ranting

Dalam sesi pembekalan, Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Umsida, Prof Sigit Hermawan SE MSi, menjelaskan bahwa KKN Umsidamerupakan implementasi dari Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Menurutnya, tema KKN Umsida tahun ini dipilih karena mencerminkan tujuan besar yang ingin dicapai mahasiswa selama berada di lokasi pengabdian.
Yang pertama, adalah desa mandiri, yakni desa yang mampu mengelola sumber daya dan potensinya secara optimal tanpa ketergantungan berlebihan kepada pihak luar.
Sementara itu, imbuhnya, desa berdaya ditandai dengan masyarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan kesadaran untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
Prof Sigit juga menekankan pentingnya menghadirkan desa yang berdampak, yakni desa yang memperoleh manfaat nyata dan berkelanjutan dari program yang dijalankan.
“Program yang dibuat harus memiliki manfaat yang jelas dan tetap berjalan meskipun mahasiswa sudah selesai melaksanakan KKN,” ungkapnya.
Selain itu, tema tersebut juga menegaskan pentingnya kemajuan desa dan ranting Muhammadiyah secara bersamaan, baik dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun kelembagaan.
Peran KKN Umsida sebagai Fasilitator hingga Agen Perubahan

Dalam pembekalan tersebut, Prof Sigit mengingatkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program kerja, tetapi juga memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat.
Peran pertama adalah sebagai fasilitator yang menjembatani kebutuhan masyarakat dengan sumber daya yang tersedia.
Selain itu, mahasiswa berperan sebagai inovator melalui gagasan-gagasan baru yang sesuai dengan kondisi lokal desa.
Peran lainnya adalah sebagai kolaborator yang membangun kerja sama dengan pemerintah desa dan berbagai pihak terkait.
“Mahasiswa juga harus menjadi agen perubahan yang mampu membawa dampak positif bagi masyarakat,” tegasnya.
Agar program yang dijalankan tepat sasaran, Prof Sigit meminta mahasiswa untuk melakukan pemetaan potensi dan permasalahan desa.
Lihat juga: Umsida Lepas 3 Mahasiswa yang Akan Mengikuti KKN Internasional
Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan program kerja yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Meski seluruh bidang tetap dijalankan, setiap kelompok diwajibkan memilih satu program fokus utama yang sesuai kebutuhan masyarakat, berdampak, dan berkelanjutan.(Romadhona)














