Umsida.ac.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN-P) 43 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengenalkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin penghalus singkong dan tepung Modified Cassava Flour (MOCAF) kepada masyarakat Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.
Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Desa Kemasantani pada Selasa (18/8/2026).
Lihat juga: KKN P 38 Umsida Ubah Limbah Kulit Kopi di Wonokerto Jadi Briket Bernilai Ekonomi
Kegiatan ini dihadiri oleh 45 Ibu-ibu PKK Desa Kemasantani serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Akhmad Mulyadi DrsEc MSA.
Pemaparan ini menjadi bentuk pengenalan inovasi teknologi sekaligus upaya memanfaatkan potensi singkong yang melimpah di Desa Kemasantani menjadi produk pangan bernilai tambah.
Kenalkan TTG Penghalus Singkong

Pemaparan mengenai Teknologi Tepat Guna disampaikan oleh Ragil Akbar Fitriansyah, mahasiswa Prodi Teknik Mesin, selaku perancang mesin teknologi tepat guna.
Ia menjelaskan bahwa pembuatan mesin penghalus singkong dibuat karena belum tersedianya alat serupa di Desa Kemasantani.
“Alat ini memang dirancang sesuai kebutuhan Desa Kemasantani karena sebelumnya di desa ini belum tersedia alat penghalus singkong,” ujar Ragil.
Proses pembuatan alat dimulai dengan menyiapkan berbagai komponen, seperti mesin FFD, dinamo, pulley, fan belt, kabel soket, serta perlengkapan las.
Kemudian, komponen tersebut dirancang dan dirangkai hingga menghasilkan mesin yang dapat digunakan untuk menghaluskan singkong.
“Keunggulannya lebih efisien dan hemat tenaga, dengan hasil yang jauh lebih maksimal dibandingkan proses manual,” ujarnya.
Cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Singkong yang telah melalui proses awal dimasukkan ke dalam mesin FFD.
Selanjutnya, dinamo menggerakkan mesin sehingga singkong dapat dihaluskan melalui saringan yang telah ditentukan.
Meski demikian, proses pembuatan dan uji coba alat juga menghadapi tantangan, khususnya terkait kapasitas listrik yang sesuai dengan kapasitas listrik rumah tangga desa tersebut.
“Untuk penggunaan listriknya sudah kami sesuaikan dengan kapasitas listrik rumah tangga, sehingga alat ini dapat digunakan oleh masyarakat di rumah tanpa membutuhkan daya listrik yang besar,” tambahnya.
Desa Kemasantani Olah Singkong Jadi Tepung

Selain pemaparan mengenai TTG, mahasiswa KKN P 43 juga memperkenalkan tepung MOCAF yang berbahan dasar singkong.
Pemaparan mengenai tepung MOCAF disampaikan oleh Fatma Maria Ulfa, mahasiswa Prodi Manajemen, selaku anggota kelompok.
Dalam pemaparannya, Fatma menjelaskan mengenai proses pengolahan singkong menjadi tepung MOCAF serta potensi pemanfaatannya sebagai bahan pangan.
Pengolahan tersebut menjadi salah satu bentuk diversifikasi produk berbahan dasar singkong yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Potensi tepung singkong untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi menurut kami cukup besar, apalagi singkong di Desa Kemasantani yang melimpah,” terangnya.
Jadi, kata Fatma, selain diolah menjadi samiler, singkong juga dapat dikembangkan menjadi tepung singkong atau MOCAF sebagai produk olahan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Ketua PKK Desa Kemasantani, Yuli Astriani turut mengapresiasi bantuan alat penghalus tepung singkong dari mahasiswa KKN P 43 Umsida.
Lihat juga: Bersama Warga Gondang, KKN P 46 Buat Diversifikasi Olahan Susu
Ia berharap alat tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mengolah singkong menjadi tepung MOCAF, meningkatkan nilai ekonomi hasil panen, serta menambah pendapatan keluarga.
“Semoga bisa dimanfaatkan dan dirawat bersama, sehingga ibu-ibu PKK dapat memproduksi tepung singkong secara mandiri dan Desa Kemasantani bisa menjadi desa penghasil tepung singkong atau MOCAF,” ujarnya.(Putri)














