Umsida.ac.id – Limbah kulit kopi yang selama ini belum dimanfaatkan optimal oleh warga Desa Wonokerto, Jombang, kini diolah menjadi briket bahan bakar alternatif melalui pelatihan yang digelar oleh tim KKN P 38 Umsida pada Rabu, (5/8/2026).
Program tersebut diikuti ibu-ibu Desa Wonokerto melalui sesi edukasi dan praktik langsung pembuatan briket.
Lihat juga: 2 Tim KKN P Umsida Ajari Buat Pupuk Organik Dari Galon Bekas hingga EcoTakakura
Limbah Kulit Kopi yang Melimpah
Kegiatan ini berawal dari pandangan tim KKN akan potensi kopi yang cukup besar di desa tersebut, tetapi di sisi lain turut menghasilkan limbah kulit kopi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Desa Wonokerto memiliki potensi dari sektor kopi. Setiap musim panen, aktivitas pengolahan kopi turut menghasilkan kulit kopi dalam jumlah yang cukup banyak.
Dengan pelatihan tersebut, mahasiswa KKN mencoba mengenalkan cara sederhana untuk memberikan nilai guna baru pada sisa pengolahan kopi.
Limbah yang sebelumnya dibuang atau hanya dimanfaatkan secara terbatas diolah menjadi produk yang dapat digunakan sebagai bahan bakar sekaligus berpeluang dikembangkan menjadi produk usaha.
Kegiatan kemudian diawali dengan penjelasan mengenai potensi kulit kopi, manfaat briket sebagai alternatif bahan bakar, serta kemungkinan pengembangan produk tersebut agar memiliki nilai jual.
Koordinator program kerja KKN P 38, Daffa Ikhwan Ryantama, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang agar masyarakat melihat limbah dari sudut pandang berbeda.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah kulit kopi yang selama ini tidak berguna bisa diolah menjadi briket yang bermanfaat, ini bisa jadi peluang usaha,” ujarnya.
Dengan memanfaatkan bahan yang memang tersedia di desa, ia harap proses pengembangan produk ini bisa membuat warga menjadi lebih mandiri memanfaatkan bahan sekitar.
Warga Berlatih Membuat Briket

Setelah menerima penjelasan, warga diajak mempraktikkan proses pembuatan briket.
Tahapannya dimulai dari mengolah kulit kopi menjadi arang, kemudian menghaluskannya sebelum dicampur dengan bahan perekat.
Campuran tersebut selanjutnya masuk ke tahap pencetakan hingga membentuk briket.
Dalam sesi praktik, peserta dapat melihat langsung bagaimana kulit kopi yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi dapat berubah menjadi produk baru.
Salah satu peserta, Utami, mengaku baru mengetahui bahwa kulit kopi masih dapat diolah kembali.
“Biasanya kulit kopi kami buang begitu saja. Sekarang jadi tahu kalau bisa diolah menjadi arang,” ungkap warga Desa Wonokerto tersebut.
Pengalaman praktik tersebut menjadi bagian penting dari program karena masyarakat dapat mengenali proses pemanfaatan limbah mulai dari bahan awal hingga menjadi produk yang siap dikembangkan lebih lanjut.
Briket Jadi Solusi Pemanfaatan Limbah

Program KKN P 38 Umsida ini turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Wonokerto.
Kepala Desa Wonokerto, Khoirul Andik, mengungkapkan bahwa inovasi tim KKN ini sangat sesuai dengan potensi yang dimiliki desa itu.
Lihat juga: KKN P 60 Umsida Sebar Bibit Tanaman untuk Warga Desa Jati, Kediri
Menurutnya, pemanfaatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi persoalan limbah hasil pertanian.
“Apabila dikembangkan lagi, produk ini juga berpeluang memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat,” tuturnya.(Merlin)














