Umsida.ac.id – Dua kelompok Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (KKN Umsida) menghadirkan program pendidikan berbasis teknologi bagi pelajar di Kabupaten Sidoarjo dan Nganjuk.
Kegiatan tersebut mencakup pengenalan Artificial Intelligence (AI), peluncuran perpustakaan digital, serta pelatihan pembuatan video kreatif.
Lihat juga: Siswa SDN Cangkring 2 Belajar Menabung, Menjaga Diri, dan Melawan Bullying
KKN T 7 Umsida memberikan edukasi AI sekaligus memperkenalkan perpustakaan digital Candipari Pintar kepada siswa dan guru SDN 2 Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo pada Sabtu, (1/8/2026).
Sementara itu, KKN P 58 Umsida menggelar workshop “Kuasai Editing Visual: Dari Ide Jadi Karya Visual” bagi siswa SMAN 1 Loceret di Aula Museum Dr Soetomo, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk pada Senin, (3/8/2026).
Kedua program tersebut mengajak siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya sebagai media belajar dan menghasilkan karya yang bernilai edukasi.
KKN Umsida Ajari tentang AI
Sosialisasi di SDN 2 Candipari diikuti oleh siswa kelas V dan VI bersama para guru.
Mahasiswa mengenalkan pengertian dasar AI, cara kerja, manfaat, serta resiko yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya.
Koordinator sosialisasi AI, Syafira Dwi Aisya Putri, mengatakan bahwa para siswa sebenarnya sudah cukup dekat dengan berbagai aplikasi berbasis AI.
“Kami melihat siswa-siswi di sini sudah cukup akrab dengan aplikasi berbasis AI, tetapi pemahaman mereka tentang cara kerja serta dampak baik dan buruknya masih perlu diperkuat,” ujarnya.
Oleh karena itu, siswa diarahkan agar teknologi digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti seluruh proses berpikir dan kreativitas.
Guru SDN 2 Candipari, Dania Ika Haryanti, berpendapat bahwa topik tersebut sesuai dengan perkembangan pendidikan saat ini.
“AI dapat mempermudah proses belajar, tetapi tetap membutuhkan pendampingan agar penggunaannya tidak menimbulkan dampak yang merugikan,” terangnya.
Menurutnya, materi dari mahasiswa membuat siswa lebih memahami berbagai fungsi AI sekaligus mendorong mereka untuk menghasilkan sesuatu melalui teknologi.
Literasi Digital Candipari Pintar
Selain sosialisasi AI, KKN T 7 Umsida meluncurkan perpustakaan digital Candipari Pintar sebagai luaran program kerja bidang pendidikan.
Perpustakaan tersebut terdiri dari buku elektronik, materi pelajaran, dan referensi tambahan yang dapat diakses secara daring oleh guru maupun siswa.
Penanggung jawab Candipari Pintar, Bagas Fais Rizki Begi, menjelaskan bahwa akses bahan bacaan yang lebih luas diharapkan dapat membantu meningkatkan kebiasaan membaca siswa.
“Perpustakaan digital ini kami buat supaya guru dan siswa punya akses bahan bacaan yang lebih luas, tidak terbatas pada buku cetak di sekolah,” jelasnya.
Bantu Siswa Mengemas Sejarah lewat Video

Program pendidikan berbasis teknologi lainnya dilaksanakan KKN P 58 Umsida bersama puluhan siswa SMAN 1 Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Workshop tersebut menjadi pembekalan bagi peserta yang akan mengikuti lomba video bertema sejarah Monumen Dr Soetomo.
Kegiatan ini dipandu oleh Naufal Mustadhy Rosyid, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Umsida yang memiliki pengalaman dalam dokumentasi tour and travel.
Materi tidak hanya membahas cara mengedit video.
Peserta juga mempelajari teknik pengambilan gambar, penyusunan konsep, storytelling, hingga pembuatan alur yang mampu menarik perhatian penonton sejak bagian awal.
Ketua KKN P 58 Umsida, Rico Dimas Firmansyah, mengatakan bahwa pelatihan tersebut diberikan agar peserta tidak sekadar mengandalkan templat yang sudah banyak digunakan.
“Kami ingin mereka mampu membuat karya yang lebih kreatif, memiliki ciri khas, dan dapat menyampaikan pesan dengan baik,” ujarnya.
Video dipilih sebagai media untuk mengenalkan sejarah Monumen Dr Soetomo kepada generasi muda.
“Menurut kami, bentuk visual lebih dekat dengan keseharian remaja yang terbiasa mengakses informasi melalui media sosial,” kata Rico
Ia menjelaskan bahwa video yang baik tidak dimulai dari aplikasi editing, melainkan dari konsep dan cerita yang ingin disampaikan.
“Ide yang sederhana pun dapat menjadi karya visual yang menarik apabila dikemas dengan teknik storytelling yang tepat. Jadi peserta tidak hanya belajar mengedit, tetapi juga memahami bagaimana membangun sebuah cerita,” jelasnya.
Peserta kemudian mempelajari proses produksi secara bertahap, mulai dari perencanaan, pengambilan gambar, hingga penyuntingan menggunakan perangkat yang mudah diakses pelajar.
Workshop berlangsung interaktif melalui sesi praktik dan diskusi.
Beautyca, salah satu peserta, mengaku baru memahami cara menyusun bagian pembuka, isi, dan penutup agar video lebih menarik untuk ditonton.
Lihat juga: 3 Program KKN Umsida Ajarkan Kecakapan Hidup kepada Siswa
Pengetahuan itu akan digunakannya untuk mengikuti lomba.
Sementara itu, Salwa, siswa kelas XII-1, menilai materi tersebut juga bermanfaat untuk pengelolaan media sosial organisasi sekolah.
Ia memperoleh referensi mengenai aplikasi editing yang tetap dapat digunakan pada perangkat dengan spesifikasi terbatas.(Rifqi/Gata)














