Umsida.ac.id – Ramadan identik dengan beragam hidangan berbuka yang menggugah selera.
Namun di balik kelimpahan makanan tersebut, sering muncul masalah lain yang jarang disadari, yaitu food waste atau sampah makanan.
Tidak sedikit makanan yang tersisa setelah berbuka dan akhirnya terbuang begitu saja.
Lihat juga: Food Waste Justru Meningkat saat Ramadan, Ini 6 Faktor Penyebabnya Menurut Dosen Umsida
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Poppy Diana Sari STP MP, menjelaskan bahwa food waste saat Ramadan bukan hanya soal kebiasaan makan berlebihan, tetapi juga berkaitan dengan dampak lingkungan dan sistem pangan secara global.
Dampaknya Food Waste Saat Ramadan
Menurut Dr Poppy, food waste memiliki dampak besar terhadap lingkungan.
Ketika makanan yang terbuang menumpuk di tempat pembuangan akhir, sisa makanan tersebut akan membusuk dan menghasilkan gas metana.
Gas ini diketahui memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
“Membuang makanan berarti kita juga membuang sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksinya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa produksi makanan membutuhkan air, lahan, energi, hingga proses distribusi yang panjang.
Ketika makanan tidak dimakan dan akhirnya dibuang, semua sumber daya tersebut ikut terbuang sia-sia.
Selain itu, sampah organik yang menumpuk juga dapat menghasilkan cairan lindi yang berbahaya.
Cairan ini berpotensi mencemari air tanah serta merusak ekosistem di sekitar tempat pembuangan.
Dari sisi sistem pangan, food waste juga menciptakan inefisiensi ekonomi. Energi untuk produksi, pengemasan, dan transportasi makanan menjadi sia-sia, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan pangan.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya masalah dalam distribusi pangan global yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ketahanan pangan jangka panjang.
Cara Sederhana Mengurangi Food Waste Saat Puasa

Dr Poppy menekankan bahwa masyarakat sebenarnya dapat melakukan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi food waste, terutama selama Ramadan.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Membuat perencanaan belanja dengan mencatat kebutuhan makanan sesuai porsi keluarga
- Menghindari kebiasaan membeli makanan berlebihan karena “lapar mata” menjelang berbuka
- Mengambil porsi kecil terlebih dahulu saat makan, lalu menambah jika masih lapar
- Menghindari menyajikan terlalu banyak variasi menu yang berpotensi tidak habis
- Menyimpan makanan sisa dengan benar agar dapat dikonsumsi kembali saat sahur
- Menyimpan makanan dalam wadah kedap udara
- Memasukkan makanan ke dalam lemari es maksimal dua jam setelah disajikan
- Mengolah Kembali Sisa Makanan agar Tidak Terbuang
Selain mengatur porsi makanan, Dr Poppy juga menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan food repurposing, yaitu mengolah kembali sisa makanan menjadi hidangan baru.
Menurutnya, kebiasaan sederhana ini tidak hanya membantu mengurangi sampah makanan, tetapi juga menjaga esensi puasa sebagai latihan pengendalian diri.
“Misalnya sisa ayam goreng dapat diolah menjadi suwiran untuk nasi goreng. Sisa sayuran dapat dimasak kembali menjadi tumisan baru,” terangnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memanaskan kembali makanan hingga suhu minimal 75°C sebelum dikonsumsi.
Hal ini bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan.
Dengan pengelolaan makanan yang lebih bijak, masyarakat tidak hanya dapat menghemat pengeluaran rumah tangga, tetapi juga ikut berkontribusi dalam mengurangi sampah makanan.
Lihat juga: Berpakaian Modis Tidak Dilarang dalam Islam
Menurut Dr Poppy, mengurangi food waste sebenarnya merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan sekaligus menghargai setiap proses panjang di balik makanan yang kita konsumsi.(Romadhona)
Sumber: Dr Poppy Diana Sari STP MP



















