BA Ortom 2026

Kader Ortom Umsida Harus Siap Jadi Tulang Punggung Muhammadiyah

Umsida.ac.id – Kader organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah tidak hanya dituntut aktif berorganisasi, tetapi juga harus memiliki karakter kepemimpinan, kemampuan manajemen, dan semangat perjuangan yang kuat. 

Pesan tersebut disampaikan Dr Kumara Adji Kusuma SFilI CIFP dalam kegiatan Baitul Arqam Ortom Umsida 2026 yang berlangsung di Graha Umsida pada Jumat, (20/6/2026).

Lihat juga: Baitul Arqom UKM Angkatan 3, Bimbing Mahasiswa Jadi Pemimpin Berkarakter

Menurutnya, Baitul Arqam merupakan bagian penting dari proses kaderisasi Muhammadiyah yang bertujuan membentuk kader berkarakter, berwawasan luas, dan siap melanjutkan estafet perjuangan persyarikatan.

“Kalau kita bicara kader, kader itu adalah tulang punggung organisasi. Tulang punggung yang menegakkan organisasi agar tetap berdiri dan bergerak,” ujarnya.

Kader Ortom Harus Memiliki Iman, Ilmu, dan Amal

BA Ortom 2026 3

Dalam pemaparannya, Dr Adji menjelaskan bahwa proses kaderisasi tidak hanya berfokus pada pemahaman kemuhammadiyahan, tetapi juga penguatan keimanan, wawasan, dan kemampuan berkarya di tengah masyarakat.

Ia menilai setiap Ortom memiliki bidang pengabdian yang berbeda.

Misalnya saja IMM yang bergerak di lingkungan mahasiswa sebagai agen perubahan, sementara Hizbul Wathan dan Tapak Suci memiliki peran masing-masing dalam pembentukan karakter dan keterampilan kader.

Meski berbeda, seluruh Ortom memiliki tujuan yang sama, yakni melahirkan kader Muhammadiyah yang mampu memberikan manfaat bagi umat.

“Kita mungkin berada di organisasi yang berbeda, tetapi semuanya saling melengkapi. Muhammadiyah hadir di banyak lini kehidupan dan itu membutuhkan sinergi antar kader,” katanya.

dosen prodi Manajemen itu juga mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. 

Mulai dari maraknya hoaks, penggunaan media sosial yang negatif, rendahnya literasi, hingga krisis kepemimpinan yang terjadi di berbagai sektor.

Lihat Juga :  Tapak Suci Umsida Raih Juara Umum 1 di Unesa Pencak Silat Challenge 2025

Karena itu, imbuhnya, kader Muhammadiyah harus mampu menjadikan tantangan tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan solusi dan perubahan positif.

Manajemen Organisasi Menjadi Bekal Pemimpin Ortom

Selain membahas kaderisasi, Kepala Sekretariat Rektor Umsida itu juga menekankan pentingnya kemampuan mengelola organisasi. 

Menurutnya, organisasi tidak akan berjalan tanpa perencanaan, pembagian tugas, pelaksanaan, dan evaluasi yang jelas.

Ia menjelaskan bahwa setiap program harus diawali dengan visi yang terukur, target yang jelas, serta pembagian tugas sesuai kompetensi anggota.

“Kalau organisasi tidak memiliki tujuan yang jelas, tidak disiplin, atau hanya banyak rapat tetapi sedikit aksi, itu menjadi penyakit organisasi yang harus dihindari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi, tetapi juga harus menunjukkan contoh konkrit kepada anggotanya.

“Pemimpin itu tahu caranya, menunjukkan caranya, dan ikut melakukannya. Pemimpin bukan penguasa, tetapi pelayan organisasi,” tegasnya.

Baitul Arqam Jadi Momentum Menjadi Generasi Pencerah

BA Ortom 2026 3

Di akhir sesi, Dr Adji mengajak seluruh peserta menjadikan Baitul Arqam sebagai momentum memperkuat semangat perubahan dan tajdid yang menjadi ciri Muhammadiyah.

Ia berharap para kader tidak hanya pulang membawa materi, tetapi juga membawa semangat untuk terus belajar, memperkuat keimanan, dan menghadirkan karya nyata di tengah masyarakat.

Lihat juga: Baitul Arqom Umsida, Cara Membangun Sinergi dan Kepemimpinan UKM Berbasis AIK

“Pencerahan dimulai dari kesadaran diri, kemudian belajar, meningkatkan wawasan, meningkatkan keimanan, dan diwujudkan dalam amal nyata. Dari situlah lahir generasi pencerah yang mampu membawa perubahan,” pungkasnya.(Romadhona)