Umsida.ac.id – Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai gerakan yang memadukan ilmu dan tindakan nyata.
Gagasan tersebut disampaikan oleh Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI dalam materi bertajuk Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu Amaliyah dan Amal Ilmiah pada kegiatan Baitul Arqam Organisasi Otonom (Ortom) Umsida 2026 yang digelar di Graha Umsida, Jumat (20/6/2026).
Lihat juga: Baitul Arqam Ortom 2026, Perkuat Karakter dan Sinergi Kader Muhammadiyah di Umsida
Dalam kajian tersebut, Rahmad mengajak kader Ortom untuk memahami kembali tradisi intelektual Muhammadiyah yang menempatkan ilmu sebagai dasar gerakan dan amal sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.
Ilmu Amaliyah dan Amal Ilmiah dalam Muhammadiyah

Rahmad menjelaskan bahwa ilmu amaliyah berarti ilmu yang tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan dalam tindakan.
Ia mencontohkan bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajarkan Surat Al-Ma’un bukan sekadar untuk dihafal, melainkan diamalkan melalui kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim.
“Kalau sudah paham ayat itu, ayo sekarang berangkat membantu fakir miskin,” ujarnya saat menggambarkan metode dakwah Ahmad Dahlan.
Sementara itu, amal ilmiah dimaknai sebagai setiap tindakan yang harus didasarkan pada ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Muhammadiyah sejak awal telah membangun tradisi beragama yang bertumpu pada kajian ilmiah, baik dalam memahami Al-Qur’an, hadis, maupun berbagai persoalan kehidupan.
Ia mencontohkan bagaimana penentuan arah kiblat, pemahaman hadis, hingga keputusan-keputusan organisasi dilakukan melalui proses kajian dan penelitian.
Karena itu, imbuh Rahmad, setiap gerakan Muhammadiyah selalu memiliki dasar keilmuan yang jelas.
Tradisi Intelektual Berkemajuan di Tengah Tantangan
Dalam pemaparannya, Rahmad juga membahas tantangan mahasiswa saat ini.
Ia menilik tradisi diskusi ilmiah, kajian sosial, dan penyampaian aspirasi berdasarkan data semakin menurun.
“Sebagai organisasi otonom kemahasiswaan, itu harus membangkitkan tradisi itu,” tegasnya.
Rahmad mengamati bahwa perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (AI), membawa kemudahan sekaligus tantangan.
Tantangannya, kata Rahmad, seperti hoaks, post-truth, dan krisis literasi.
Ia menyebut kondisi penurunan minat baca di kalangan mahasiswa.
Akibatnya, banyak mahasiswa kesulitan menyampaikan gagasan secara mandiri tanpa bergantung pada teks yang telah disiapkan sebelumnya.
Mahasiswa dapat memperoleh jawaban dengan cepat, tetapi di sisi lain berisiko kehilangan kebiasaan berpikir kritis, berdiskusi, dan melakukan kajian secara mendalam.
Nilai Islam Berkemajuan sebagai Karakter Kader

Menutup materi, Rahmad memaparkan empat nilai utama Islam Berkemajuan.
Pertama, setiap sikap dan perilaku harus berlandaskan tauhid yang murni melalui integrasi iman, ibadah, dan akhlak.
Kedua, mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, menjadi pelopor gerakan tajdid yang responsif terhadap perkembangan zaman.
Dan keempat, mengedepankan sikap wasathiyah, toleran, dan berkebangsaan.
Lihat juga: IMM Umsida Bawa 6 Tuntutan ke DPRD, Serukan Tata Ulang Indonesia
Nilai-nilai tersebut, menurut Rahmad, harus tercermin dalam kualitas pribadi kader Muhammadiyah yang ikhlas dalam berjuang, memiliki prinsip hidup yang kuat, menerjemahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ke dalam tindakan, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan penuh kesadaran dan makna.(Romadhona)














