Umsida.ac.id – Setelah melaksanakan qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah, para kader muda Umsida tidak langsung beristirahat.
Kader Ortom Umsida diajak menyelami makna Al-Qur’an melalui rangkaian kegiatan Fathul Qulub, sebuah sesi refleksi yang menjadi bagian penting dalam proses perkaderan Muhammadiyah.(19/6)
Lihat juga: Resapi Gerakan Ilmu Amaliyah dan Amal Ilmiah, Ini Bekal untuk Ortom Umsida
Kegiatan ini tidak hanya mengajak peserta membaca dan memahami ayat Al-Qur’an, tetapi juga menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin organisasi mahasiswa.
Fathul Qulub untuk Membuka Hati dan Muhasabah Diri

Kasi Pembinaan AIK Mahasiswa DAIK Umsida, Ima Faizah SP MPdI menjelaskan bahwa Fathul Qulub merupakan agenda yang lazim ditemui dalam berbagai kegiatan perkaderan Muhammadiyah maupun organisasi otonomnya.
“Fathul Qulub itu bertujuan untuk membuka hati. Membuka hati terhadap permasalahan-permasalahan, membuka hati terhadap apa yang ada di Al-Qur’an, kemudian diterima dengan baik dan bisa dijadikan sebagai muhasabah,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut diawali dengan membaca Al-Qur’an untuk melunakkan hati.
Setelah itu peserta diajak memahami kandungan ayat, menghubungkannya dengan realitas yang mereka hadapi, lalu merefleksikannya dalam kehidupan pribadi maupun organisasi.
Karena itu, Fathul Qulub tidak berhenti pada aktivitas membaca dan memahami makna ayat semata.
Peserta juga diajak melihat apakah nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an sudah benar-benar diterapkan dalam keseharian mereka.
Pemimpin Harus Berjuang karena Allah, Bukan Validasi
Ima menilai para peserta sebenarnya telah memahami berbagai persoalan yang sering muncul dalam organisasi.
Yang perlu diperkuat adalah keberanian untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik kepemimpinan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa tujuan hidup seorang kader bukanlah mencari pengakuan manusia, melainkan mengharap ridha Allah SWT.
“Kesuksesan kita itu tidak diukur dari seberapa banyak circle kita, tetapi dari bagaimana Allah ridha dengan apa yang kita lakukan,” tuturnya.
Implementasi Al-Qur’an dalam Kepemimpinan Mahasiswa

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengkaji ayat yang telah ditentukan.
Setiap kelompok diminta menemukan kandungan ayat, implementasinya dalam kehidupan kampus dan organisasi, serta contoh nyata yang sering terjadi di lingkungan mahasiswa.
Salah satunya yakni Ketua Korkom IMM Umsida, Muhammad Ghulam Saifullah, mengungkapkan bahwa kelompoknya mendapat tugas mengkaji Surat An-Nisa ayat 142 yang membahas tentang ciri-ciri orang munafik.
“Di situ menjelaskan terkait orang munafik. Ada beberapa poin seperti malas beribadah dan beribadah bukan karena Allah,” jelasnya.
Dari pembahasan tersebut, kelompoknya mengaitkan ayat tersebut dengan pentingnya integritas seorang mahasiswa dan pemimpin organisasi.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjaga kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.
Hal itu menjadi penting karena seorang pemimpin akan selalu menjadi contoh bagi anggota maupun lingkungan sekitarnya.
Ia mengaku mendapatkan refleksi baru mengenai cara memimpin yang benar sebagai kader Muhammadiyah.
“Yang paling saya rasakan adalah lebih tersadarkan lagi sebagai seorang pemimpin dan kader Muhammadiyah. Kadang dalam organisasi kita mencari validasi. Dari sini saya jadi lebih sadar bagaimana cara memimpin yang baik,” ungkapnya.
Lihat juga: Ajak Diskusi Kasus, Baitul Arqam Ortom Umsida Perkuat Pemahaman Tauhid Kader
Di akhir sesi, seluruh peserta diajak mengikrarkan komitmen sebagai kader Muhammadiyah.
Ikrar tersebut merupakan janji yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata selama memimpin organisasi maupun saat terjun di tengah masyarakat.(Romadhona)














