Umsida.ac.id – Maraknya kasus pelecehan seksual di sejumlah kampus besar Indonesia, mulai dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga Universitas Padjadjaran (Unpad) yang mencuat hampir bersamaan pada April 2026 memantik keprihatinan luas.
Lihat juga: Perlindungan Perempuan Korban Pelecehan Seksual Belum Maksimal, Menurut Dosen Umsida
Merespons hal ini, Nurfi Laili MPsi Psikolog, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), memberikan pandangannya.
Kejadian Lawas di Perguruan Tinggi
Ia menyampaikan bahwa kasus pelecehan seksual sebenarnya sudah terjadi sejak lama di lingkungan kampus, namun baru ramai dibicarakan karena beberapa kasus terbongkar bersamaan.
“Kasus pelecehan seksual di kampus itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bisa ter-blow up sekarang karena ada orang dalam yang merasa tidak nyaman dan akhirnya berani menyampaikan ke luar untuk mencari pertolongan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pada beberapa institusi, kondisi seperti ini bahkan cenderung ditutupi, sehingga selama ini tampak seolah tidak terjadi apa-apa karena tidak ada yang berani berbicara.
Mengapa Justru Pelaku Merupakan Orang “Terdidik”?

Menurut Kasi Abdimas dan Kekayaan Intelektual DRPM Umsida itu, pelaku yang seringkali berasal dari kalangan terdidik tidak lepas dari faktor kesadaran diri atau awareness yang rendah.
Pendidikan Bagus Belum Menjamin Akhlak
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin seseorang memiliki pemahaman yang baik tentang menghargai diri sendiri dan orang lain.
“Meskipun dia sudah banyak belajar tentang ilmu, namun kalau kesadaran atas dirinya itu masih kurang, menurut saya itu juga bisa menjadi celah. Apalagi di lingkungan yang kurang baik pula,” tutur dosen lulusan S2 Unair itu..
Pentingnya Pola Komunikasi Keluarga
Selain itu, ia berpendapat bahwa pola komunikasi di dalam keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk mengkomunikasikan apa yang dia pikirkan kepada orang lain.
“Jika di keluarga tidak ada komunikasi yang berkaitan dengan cara memaknai kondisi diri sendiri dan menghargai kondisi orang lain, maka itu bisa jadi celah bagi mereka untuk menyampaikan hal-hal kotor ke luar,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan pola pengasuhan generasi sebelumnya yang cenderung memberikan fasilitas berlebih kepada anak.
Kondisi tersebut, menurut Nurfi, justru melemahkan daya juang dan kepekaan sosial individu.
“Itu akan melemahkan kemampuan individu untuk bisa aware dengan dirinya, kebutuhannya, dan lingkungan sekitarnya,” kata dia.
Mengapa Pelaku Pelecehan Seksual Memiliki Circle?
Beberapa kasus yang terjadi di perguruan tinggi, kebanyakan pelaku melakukannya secara berkelompok.
Menurut Nurfi, Jadinya Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk bisa terafiliasi pada suatu kelompok tertentu.
Misalnya saja pada masa remaja kebanyakan mereka memiliki friendship centered agar diterima di kelompok tersebut.
Jadi pelaku kasus ini mencari pengakuan di dalam kelompoknya.
Jika dia tidak mengikuti apa yang dilakukan kelompok tersebut maka ia akan diasingkan.
“Seseorang yang memiliki pikiran berbeda dari kelompok itu maka ia akan berpikir panjang. Dia tidak tahu bagaimana keluar dari situasi yang toxic tersebut sehingga yang dia lakukan hanya mengikuti arus agar punya teman” terang Nurfi.
Hancurnya Harga Diri Hingga Respon Buruk Fisik

Korban pelecehan seksual paling besar berdampak pada kondisi psikologis.
“Ketika tahu bahwa kita itu menjadi objek pembicaraan yang porno, kita merasa bahwa sejijik diri kita. Dan pikiran itu akan menghancurkan self-esteem atau harga diri. Apalagi tidak ada keluarga yang mendukung,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, gangguan psikologis tersebut dapat berkembang menjadi gangguan fisik atau psikosomatis, seperti kecemasan, jantung berdebar, hingga reaksi ekstrem seperti pingsan atau freeze saat menghadapi situasi tertentu.
Nurfi mengatakan, “Kalau tidak ditangani, respon fisiknya akan lebih besar. Bisa saja dia menarik diri dari lingkungan sosial,”.
Menurutnya, pelaku pelecehan seksual seringkali menargetkan individu dengan harga diri rendah, karena dianggap lebih mudah menjadi korban.
“Pelaku seperti punya radar untuk mendeteksi mana individu yang self-esteem-nya rendah, dan itu yang dijadikan target,” pungkasnya.
Lihat juga: Perempuan Tewas Diperkosa Sopir Travel, Sebegitu Tidak Amankah Indonesia Terhadap Perempuan?
Oleh karena itu, pengenalan tentang harga diri harus dijadikan pondasi bahkan sejak anak berada di fase toilet training (sekitar 2 tahun).(Romadhona)
Sumber: Nurfi Laili MPsi Psikolog



















