Umsida.ac.id – Perubahan dunia kerja yang semakin cepat menjadi pesan utama yang disampaikan Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-47 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (27/06/2026).
Di hadapan ribuan wisudawan, ia mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi lulusan perguruan tinggi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Lihat: Formasi Guru Semakin Ketat, Bagaimana Nasib Lulusan Pendidikan? Ini Kata Pakar Umsida
Menurutnya, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga kebutuhan dunia industri terus berubah sehingga menuntut lulusan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Bekali Lulusan Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Dzulfikar menegaskan bahwa dunia setelah wisuda merupakan dunia yang sama sekali berbeda dengan kehidupan selama di bangku kuliah.
“Kita harus memahami bahwa dunia yang sedang kita jalani hari ini totally different.Dunia sekarang berjalan sangat cepat,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah itu.
Menurutnya, perkembangan tersebut turut mengubah kebutuhan dunia kerja.
Mengutip laporan World Economic Forum, ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mismatch job skill, yakni ketidaksesuaian antara kompetensi yang dipelajari selama kuliah dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.
Ia mengisahkan pengalamannya bertemu pekerja migran Indonesia di luar negeri yang harus bekerja di bidang berbeda dari latar belakang pendidikannya karena tuntutan dunia kerja.
“Yang akan dihadapi adik-adik setelah wisuda adalah kenyataan bahwa apa yang dipelajari selama kuliah belum tentu menjadi keterampilan utama yang dibutuhkan perusahaan maupun masyarakat,” ungkapnya.
Tantangan Kemampuan Bahasa Jadi Bekal Lulusan
Dalam orasinya, ia juga menilai kemampuan bahasa asing menjadi tantangan besar bagi generasi muda Indonesia untuk bersaing di pasar kerja global.
Ia menyebut banyak peluang kerja tersedia di berbagai negara, seperti Jerman, Jepang, hingga Korea Selatan.
Namun, keterbatasan kemampuan bahasa membuat banyak kesempatan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja Indonesia.
“Tantangan terbesarnya adalah bahasa. Banyak mahasiswa terlambat mempersiapkan hal tersebut sehingga ketika ingin masuk ke pasar global mengalami kesulitan,” katanya.
Karena itu, ia mengajak para lulusan memanfaatkan berbagai program pemerintah yang mendukung penyiapan tenaga kerja menuju pasar kerja internasional.
Alumni Muhammadiyah Harus Menjadi Leader yang Tangguh

Meski dunia berubah sangat cepat, Dzulfikar meyakini lulusan Umsida memiliki modal penting yang menjadi ciri khas alumni Muhammadiyah.
“Ada satu yang menjadi khas alumni-alumni Muhammadiyah, yaitu resilience atau ketangguhan. Saya melihat dari pancaran wajah para wisudawan hari ini, ketangguhan itu senantiasa ada. Dan itulah yang akan membawa adik-adik sukses mengejar cita-cita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar.
Menurutnya, ilmu pengetahuan, inisiatif, dan keahlian akan menjadi pembeda di tengah dunia yang semakin tanpa batas.
“Jangan pernah berbangga diri. Teruslah belajar, karena orang yang memiliki ilmu tidak akan pernah terasing di mana pun berada. Sebaliknya, dunia tidak memberi tempat bagi mereka yang tidak memiliki ilmu, tidak punya inisiatif, dan tidak memiliki keahlian,” pesannya.
Lihat juga: Krisis di Balik Toga, Sarjana Cari Arah Tujuan
Menutup orasinya, Dzulfikar berharap seluruh lulusan Umsida mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perubahan, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, serta hadir sebagai pemimpin yang membawa solusi di tengah tantangan masa depan.(Romadhona)














