Dr Septi tanggapi nasib guru honorer

Formasi Guru Semakin Ketat, Bagaimana Nasib Lulusan Pendidikan? Ini Kata Pakar Umsida

Umsida.ac.id – Penataan guru honorer dinilai masih menyisakan berbagai persoalan di dunia pendidikan. 

Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Septi Budi Sartika MPd, menilai kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga kejujuran dalam pelaksanaan proses pembelajaran di lapangan.

Kualitas Pendidikan Bergantung pada Kejujuran 
kebijakan guru honorer (Pexels).jpg
Ilustrasi: Pexels

Menurut Dr Septi, persoalan pendidikan di Indonesia tidak akan pernah benar-benar selesai apabila tidak ada kejujuran dalam penyampaian data dan proses evaluasi pembelajaran.

Lihat juga: Isu Pendidikan Tinggi Ini Jadi Topik Diskusi Umsida dan DPR RI Komisi X

“Kalau kita mau jujur, sebetulnya itu bermula dari gurunya. Apakah pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dan benar-benar meningkatkan pemahaman siswa,” ujarnya.

Ia menyoroti praktik remedial di sekolah yang sering kali hanya sebatas pengulangan soal ujian tanpa disertai pendalaman materi kepada siswa. 

Padahal, menurutnya, remedial seharusnya menjadi proses pembelajaran ulang agar siswa memahami materi yang belum tercapai.

“Yang seharusnya belum tuntas itu kadang dituntas-tuntaskan. Yang kurang malah dilebih-lebihkan. Kalau seperti itu terus, pendidikan kita mau dibawa ke mana,” katanya.

Dr Septi menjelaskan bahwa data pendidikan yang disampaikan secara jujur akan mempermudah proses pengambilan kebijakan di tingkat sekolah maupun pemerintah. 

Ia menilai bahwa kepala sekolah, pengawas, hingga dinas pendidikan memiliki peran penting dalam memastikan data yang dilaporkan benar-benar sesuai kondisi lapangan.

Selain itu, ia menegaskan bahwa profesi ini seharusnya dibangun dari passion atau panggilan hati, bukan sekadar mengejar gelar sarjana maupun status ASN.

“Menjadi guru itu memang dari hati. Ada rasa senang mengajar dan berbagi ilmu. Kalau tidak punya passion, itu yang berbahaya,” jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai persoalan pendidikan yang viral di media sosial akibat ulah oknum tertentu.

Kebijakan Guru Honorer Dinilai Tak Selalu Kurangi Minat Generasi Muda

Terkait kekhawatiran bahwa kebijakan pengetatan formasi dapat mengurangi minat generasi muda menjadi guru, Dr Septi menilai hal itu tidak sepenuhnya benar.

Lihat Juga :  Keberhasilan 5 Program Saung Sinau di Kepetingan, Rektor Umsida Rencanakan Program Berkelanjutan

Menurutnya, banyak mahasiswa yang awalnya masuk program studi pendidikan karena dorongan tertentu, tetapi kemudian tumbuh rasa suka terhadap profesi ini setelah menjalani proses belajar.

“Ketika mereka belajar dan beradaptasi, akhirnya muncul pemikiran bahwa nanti mereka akan menjadi guru,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah sebenarnya sudah cukup baik dalam meningkatkan kualitas akademik pengajar, salah satunya melalui syarat minimal pendidikan S1 atau D4 serta program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Doktor lulusan Unesa itu menjelaskan bahwa proses peningkatan kualitas pengajar saat ini banyak berbasis pada data Dapodik. 

Guru yang telah lama mengajar namun belum sarjana memiliki peluang mendapatkan bantuan studi lanjut hingga jenjang S1 sebelum mengikuti PPG.

“Kalau memang passion-nya mengajar dan berbagi ilmu, saya rasa minat menjadi guru itu tetap ada,” katanya.

Dr Septi menjelaskan bahwa di negara-negara maju pun profesi umumnya lahir dari passion masing-masing individu, termasuk profesi guru.

Formasi Ketat, Lulusan Pendidikan Perlu Adaptasi
Dr Septi tanggapi nasib guru honorer
Ilustrasi: Pexels

Dr Septi mengakui bahwa pengetatan formasi guru memang akan berdampak pada lulusan program studi pendidikan. 

Ia menilai persaingan ke depan akan semakin ketat dibanding sebelumnya.

“Kalau dibanding prodi lain seperti kedokteran atau teknik, memang masuk ke prodi pendidikan selama ini seleksinya belum terlalu ketat,” ujar dosen Prodi IPA itu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengetatan formasi tidak serta-merta berarti penutupan paksa program studi pendidikan.

“Kalau kampus yang mengajukan penutupan, mungkin iya. Tapi bukan berarti harus ditutup paksa,” jelasnya.

Ia menilai yang perlu dilakukan adalah peningkatan kualitas lulusan pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja dan perkembangan dunia pendidikan saat ini.

Lihat juga: Krisis Pendidikan di Mengintai Indonesia, Guru Tidak Diperlakukan Layak

Lulusan pendidikan, imbuhnya, juga perlu memiliki kemampuan adaptasi dan kompetensi tambahan agar tidak hanya bergantung pada formasi guru ASN semata.(Romadhona)

Sumber: Dr Septi Budi Sartika MPd

Berita Terkini

Bramasgana umsida bantu NTT (2)
Bramasgana Umsida Berangkat ke NTT, Fokus Pulihkan 2 Hal
September 30, 2026By
duta pencerah 2026 2
Tutup Fortama, Umsida Kukuhkan Duta Pencerah 2026 Hingga Ajak Lawan LGBT
September 28, 2026By
maba 2026 (2)
UKM Umsida Ajak Maba 2026 Temukan Ruang Mengembangkan Diri
September 28, 2026By
mastama 2026
Mastama Umsida 2026 Kenalkan Ortom Kampus Lewat Konsep Baru
September 27, 2026By
wali mahasiswa baru umsida (2)
Mengapa Wali Mahasiswa Mempercayakan Putra-Putrinya ke Umsida?
September 26, 2026By
sinergi pendidikan dengan wali maba
Percayakan Pendidikan di Umsida, Fortawa 2026 Perkuat Sinergi Wali Maba
September 26, 2026By
fasilitator pkmu 2026
Menuju PKMU 2026, Fasilitator Umsida Didorong Hadir dengan Keteladanan
September 25, 2026By
Akidah dan Akhlak
Jelang PKMU 2026, Umsida Matangkan Kesiapan Pendampingan Akidah dan Akhlak
September 23, 2026By

Riset & Inovasi

PLP SDN Sidokumpul
Siswa SDN Sidokumpul Peringati Kesaktian Pancasila Bersama Tim PLP 2 Umsida
October 5, 2026By
kunjungan perpustakaan daerah 2
Kunjungi Perpustakaan Daerah, PLP 2 Umsida Tumbuhkan Minat Baca Siswa
September 24, 2026By
Pasar Desa Samiler
Buka Pasar Desa Samiler, PPK Ormawa Himagro Sajikan Nuansa Tradisional
September 22, 2026By
ekspor gula kelapa
Siapkan Produk Gula Kelapa Siap Ekspor, Umsida Dampingi PT Delima Nira Natural
September 21, 2026By
beras rumput laut
Keunggulan Diarice, Beras Analog dari Rumput Laut yang Kaya Nutrisi
September 16, 2026By

Prestasi

tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By
beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By
snap and style
Snap and Style Antar Inovasi Bisnis Digital Umsida Tembus KMI Expo XVII 2026
September 9, 2026By

Opini

bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By
satanic dan seni
Gunakan Simbol Satanic Saat Perayaan Seni, Ini Tanggapan Pakar Umsida
September 15, 2026By