Umsida.ac.id – Baitul Arqam Organisasi Otonom (Ortom) Umsida 2026 tidak hanya menghadirkan materi dalam bentuk ceramah, tetapi juga mengajak peserta berdiskusi dan menganalisis berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat.
Melalui materi “Tauhid Implementatif: Implementasi Tauhid dalam Kehidupan Individu dan Sosial”, Dr Dzulfikar Akbar Romadlon SFilI MUd mengajak kader Ortom memahami bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan harus tercermin dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.
Lihat juga: Baitul Arqom Umsida, Cara Membangun Sinergi dan Kepemimpinan UKM Berbasis AIK
Dalam sesi yang berlangsung di Graha Umsida pada Jumat malam, (20/6/2026), peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membahas berbagai kasus, mulai dari kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama, radikalisme, persoalan lingkungan, hingga pemahaman keliru tentang takdir.
Tauhid sebagai Dasar Pengendali Perilaku

Di awal materi, Dr Dzulfikar mengajak peserta merefleksikan makna tauhid dan hubungannya dengan kehidupan manusia. Ia membedakan antara ideologi dan keyakinan.
Menurutnya, ideologi berbicara tentang gagasan masyarakat ideal, sedangkan tauhid merupakan inti dari keimanan seseorang.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan mendasar kepada peserta, “Apakah tauhid itu benar-benar berpengaruh pada kehidupan?”.
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat sejauh mana keyakinan kepada Allah mampu mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak seseorang.
Melalui diskusi kelompok, peserta menyimpulkan bahwa tauhid berfungsi sebagai kontrol internal yang membentengi manusia dari perilaku menyimpang.
Salah satu kelompok menjelaskan bahwa orang yang benar-benar beriman akan selalu mempertimbangkan apakah suatu tindakan sesuai dengan perintah dan larangan Allah sebelum melakukannya.
Peserta juga berpendapat bahwa banyaknya pengetahuan agama tidak selalu berbanding lurus dengan ketakwaan.
Seseorang bisa saja memahami ajaran agama, tetapi belum tentu mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi Kasus: Dari Kekerasan Seksual hingga Radikalisme

Untuk menguji relevansi tauhid dalam kehidupan sosial, peserta diminta menganalisis beberapa kasus yang telah disiapkan pemateri.
Salah satunya adalah kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan agama.
Dalam presentasinya, peserta menilai bahwa tindakan tersebut dapat terjadi ketika seseorang gagal mengendalikan hawa nafsu dan menyalahgunakan posisi atau kekuasaan yang dimiliki.
Kelompok lain membahas fenomena radikalisme dan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Melalui pertanyaan tentang bom bunuh diri, jihad, dan pluralitas, peserta diajak memahami bahwa kesalahan dalam memahami ajaran agama dapat melahirkan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Dr Dzulfikar juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan teori psikologi Sigmund Freud mengenai id, ego, dan superego.
“Id atau nafsu, perlu dikendalikan oleh kesadaran moral dan nilai-nilai keagamaan agar tidak berkembang menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tutur dosen Pascasarjana Umsida itu.
Islam Berkemajuan dan Tauhid yang Membumi
Selain membahas persoalan sosial, peserta juga mendiskusikan isu lingkungan dan pemahaman fatalistik terhadap takdir.
Pada kasus lingkungan, mereka diajak melihat bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Sebagai penguatan materi, Dzulfikar menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang pengendalian syahwat dan pentingnya menjaga hati, serta pemikiran Syekh Muhammad Al-Ghazali yang mengingatkan umat Islam agar tidak berhenti pada tilawah Al-Qur’an semata, tetapi juga melakukan tadabbur dan memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Lihat juga: Menggali Nilai Islam dalam Pedoman Hidup Islami Muhammadiyah
Di akhir sesi, peserta diajak merefleksikan apakah aktivitas yang mereka lakukan di Ortom sudah mencerminkan nilai tauhid dan Islam Berkemajuan dan merumuskan langkah konkret agar organisasi yang mereka pimpin semakin bermanfaat bagi kampus dan masyarakat.(Romadhona)














