pengolahan sampah 1

Tim KKN Umsida Kenalkan Cara Baru Mengelola Sampah di Wirobiting dan Sumbersuko

Umsida.ac.id – Persoalan sampah di dua desa membuat tim KKN Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) membuat berbagai inovasi.

Di Desa Wirobiting, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, KKN T 19 membuat Rocket Stove pada Ahad, (9/8).

Sementara KKN P 5 di Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, pada Rabu, (12/8), membuat alat pembakar dengan sistem filter asap untuk mengurangi dampak pembakaran terbuka.

Lihat juga: KKN P 38 Umsida Ubah Limbah Kulit Kopi di Wonokerto Jadi Briket Bernilai Ekonomi

Dusun Biting Rejo Bangun Rocket Stove

pengolahan sampah 3

Pembangunan Rocket Stove di Dusun Bitingrejo dimulai pada 26 Juli 2026 setelah mahasiswa berkoordinasi dengan perangkat desa.

Tungku dibuat menggunakan bata ringan, semen, pasir, perekat, dan rangka besi. 

Mahasiswa menyusun ruang pembakaran dan cerobong dengan prinsip kerja Rocket Stove agar pembakaran dapat berlangsung lebih stabil.

Ketua KKN T 19 Umsida, M Syahrul Romadany, mengatakan kondisi TPS menjadi alasan utama tim memilih program tersebut.

“Kami melihat tumpukan sampah di TPS Biting Rejo semakin banyak. Rocket Stove kami pilih karena pembakarannya lebih sempurna, hemat bahan bakar, dan asapnya jauh lebih sedikit. Tujuannya supaya warga punya alternatif pengolahan sampah yang praktis,” ujarnya.

Pengerjaan dilakukan bersama perangkat desa meski tim menghadapi keterbatasan air di lokasi dan cuaca yang cukup panas.

Setelah konstruksi selesai, tungku diuji menggunakan sampah organik dan limbah kayu. 

Hasil pengujian menunjukkan api dapat menyala stabil dan menghasilkan panas yang cukup.

Tim KKN Ajari Pengoperasian kepada Warga

Pada 9 Agustus tim kembali melakukan finishing sekaligus memberikan pendampingan penggunaan kepada perwakilan masyarakat.

Warga dikenalkan pada cara menyalakan tungku, jenis material yang dapat digunakan, hingga perawatan sederhana.

Kepala Desa Wirobiting Mukhamad Supriyadi SE berharap fasilitas tersebut tetap dimanfaatkan setelah mahasiswa menyelesaikan KKN.

Lihat Juga :  Ajarkan Pengolahan Sampah Kepada Masyarakat, Dosen Umsida Wujudkan SDGs-13

“Kami harap fasilitas ini dirawat dan dimanfaatkan terus setelah KKN selesai. Nanti kami serahkan pengelolaannya kepada warga dan perangkat dusun agar manfaatnya berkelanjutan,” tegasnya.

Pengelolaan Sampah dengan Filter Asap

pengolahan sampah 1

KKN P 5 membuat sistem filtrasi asap untuk program lingkungan di Desa Sumbersuko.

Mereka melihat kebiasaan pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka yang masih dilakukan karena dianggap praktis. 

Asap yang dihasilkan kemudian menjadi perhatian dalam perancangan alat.

Sistem filter pada alat dirancang untuk menyaring sebagian asap hasil pembakaran sebelum dilepaskan ke udara. 

Mahasiswa juga menegaskan kepada warga bahwa filter tersebut tidak menghilangkan asap sepenuhnya, tetapi digunakan untuk mengurangi jumlah asap dibandingkan pembakaran terbuka.

Dalam kegiatan di Balai Desa Sumbersuko, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai komponen dan cara kerja alat. 

Mahasiswa juga melakukan demonstrasi mulai dari memasukkan sampah hingga menunjukkan proses kerja sistem filter.

Aspek pemeliharaan turut menjadi perhatian warga Sumbersuko. 

Sukardi, salah satu warga, kemudian mempertanyakan efektivitas alat tersebut.

“Kalau alat ini dipakai terus, apakah asapnya benar-benar lebih sedikit dibanding pembakaran biasa?” tanyanya.

Penanggung jawab Proker, Riko Yuswo Putranto, menjelaskan fungsi filter sekaligus batas kemampuan alat kepada masyarakat.

Aspek pemeliharaan turut menjadi perhatian warga Sumbersuko. 

Kepala Dusun Beji Ledok, Rohim, menanyakan bagaimana alat tetap dapat digunakan ketika filter mulai kotor.

Lihat juga: KKN P 60 Umsida Sebar Bibit Tanaman untuk Warga Desa Jati, Kediri

Riko menjelaskan bahwa bagian tersebut perlu dibersihkan secara berkala dan diganti apabila kondisinya sudah tidak layak digunakan. 

Sesi diskusi tersebut membuat warga memperoleh gambaran mengenai penggunaan serta tanggung jawab yang diperlukan agar fasilitas dapat bertahan lebih lama.(Lena/Yuqe)