inovasi pengelolaan sampah 1

Pengelolaan Sampah Lebih Efektif, 2 Tim KKN Umsida Buatkan Insinerator

Umsida.ac.id Kebiasaan membakar sampah secara terbuka hingga membuangnya ke sungai masih menjadi persoalan pengelolaan sampah yang ditemui mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di sejumlah desa. 

Di Desa Penambangan, Sidoarjo, dan Desa Candiwatu, Mojokerto, tim KKN umsida mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pembangunan fasilitas pembakaran sekaligus edukasi pengelolaan sampah.

Lihat juga: Edukasi Pengelolaan Sampah, KKN T 2 Umsida Buatkan Alat Pres Sampah

KKN T 28 membangun insinerator berbahan bata ringan di Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo pada Ahad, (16/8/2026).

Sementara itu, KKN P 47 mengenalkan tempat pembakaran sampah minim asap kepada warga Dusun Watutumang, Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, pada Sabtu (22/8/2026).

Kedua program tersebut membuat masyarakat memiliki alternatif dalam menangani sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Insinerator di Desa Penambangan

Pembangunan insinerator di Desa Penambangan diawali dengan observasi lapangan bersama pemerintah desa untuk menentukan lokasi yang sesuai.

Ketua KKN T Kelompok 28, Ahmad Derri Erfanda mengatakan bahwa insinerator ini bisa menjadi solusi sederhana yang bisa digunakan untuk pengelolaan sampah yang lebih baik.

Ia dan tim menyusun rancangan, menentukan beberapa bagian penting seperti area pembakaran, ventilasi, cerobong asap, dan pintu pembakaran. 

Insinerator dibuat dengan ukuran sekitar 0,8 x 1,5 meter.

Setelah desain selesai, mahasiswa menyiapkan bata ringan, semen, pasir, besi penyangga, koral, serta perlengkapan kerja lainnya.

Proses pembangunan dipimpin Dicky Bayu Pamungkas. 

Pekerjaan dimulai dari pembuatan pondasi, penyusunan bata ringan dengan semen mortar, hingga pemasangan besi penyangga, pintu pembakaran, dan cerobong asap.

“Pembangunan ini tidak terlepas dari kerja sama anggota tim. Setiap orang menjalankan tugasnya masing-masing sehingga pembangunan insinerator dapat diselesaikan secara optimal,” jelas Dicky.

Pengelolaan Sampah Tak Berhenti pada Pembangunan Fasilitas

inovasi pengelolaan sampah

Setelah rampung, insinerator diserahkan kepada Kepala Desa Penambangan dan dilanjutkan dengan uji coba menggunakan sampah kering.

Pengujian dilakukan untuk melihat fungsi ruang pembakaran, sirkulasi udara, hingga pembuangan asap.

Akhmad Alfandi, anggota KKN T 28, menjelaskan bahwa insinerator digunakan untuk mengolah sampah melalui proses pembakaran yang lebih terkendali dibandingkan pembakaran terbuka.

Pembangunan fasilitas tersebut berlangsung sekitar tiga hari.

Lihat Juga :  5 Cara Meminimalisir Paparan Radioaktif pada Udang Menurut Pakar Umsida

Keberadaan insinerator juga diharapkan dapat mendukung lingkungan kawasan wisata di desa.

“Dengan mencakup lingkungan wisata, insinerator ini juga memberikan manfaat bagi UMKM yang berada di kawasan wisata Desa Penambangan,” ujar Kepala Desa Penambangan, Helmy Firmansyah.

Pengelolaan Sampah Dimulai dari Kebiasaan Warga

Persoalan berbeda ditemukan KKN Kelompok 47 di Dusun Watutumang.

Dari hasil observasi, mahasiswa melihat sebagian warga masih membakar sampah secara langsung di halaman rumah. 

Sementara beberapa warga yang tinggal di sekitar sungai masih membuang sampah ke aliran air.

Karena itu, mahasiswa tidak hanya mengenalkan tempat pembakaran sampah minim asap, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pemilahan.

Warga diberi penjelasan bahwa tidak semua jenis sampah sebaiknya masuk ke tempat pembakaran. 

Sampah yang masih bisa digunakan kembali atau didaur ulang perlu dipisahkan, sedangkan sampah organik dapat ditangani dengan metode lain yang sesuai.

Tempat pembakaran tersebut diperkenalkan sebagai alternatif untuk jenis sampah tertentu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Mahasiswa juga menekankan bahwa istilah “minim asap” bukan berarti tanpa asap.

Penggunaannya tetap perlu memperhatikan jenis dan jumlah sampah, kondisi api, serta keamanan lingkungan sekitar.

Demonstrasi Alat Pengelolaan Sampah

Agar warga tidak hanya menerima penjelasan, KKN P 47 memperagakan cara menggunakan fasilitas tersebut.

Demonstrasi dimulai dari menyiapkan bahan bakar, menyalakan api hingga stabil, memasukkan sampah yang sesuai, lalu memastikan api benar-benar padam setelah pembakaran selesai.

Kepala Desa Candiwatu, Andik Yulianto melihat fasilitas tersebut berpeluang dikembangkan apabila hasil uji cobanya berjalan baik.

Lihat juga: Ajari Olah Sampah Hingga Buat Eco Enzyme, KKN Umsida Bangun Kepedulian Lingkungan

“Saya berterima kasih atas program kerja adik-adik KKN yaitu tempat pembakaran sampah minim asap. Ini nanti pasti sangat bermanfaat untuk Desa Candiwatu. Setelah uji coba dan berhasil, mungkin kita juga akan membuat di beberapa titik di desa ini,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan perwakilan Karang Taruna, Lis.

“Semoga ke depannya warga di sini bisa lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan lagi dan bisa membuat tempat pembakaran sampah ini lebih bermanfaat,” ungkapnya.(Syafa/Mega)