puasa dalam psikologi (Pexels)

Mengapa Orang Lebih Mudah Emosi saat Puasa? Ini Penjelasannya

Umsida.ac.id – Mengapa saat puasa ada orang yang tetap tenang dan produktif, sementara yang lain justru mudah tersinggung? 

Apakah puasa benar-benar melatih pengendalian diri, atau hanya soal menahan lapar dan haus?

Lihat juga: Ramadan Bukan Tentang Diet, Tapi Juga Soal Self-Mastery Akan Duniawi

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik. 

Dari sudut pandang psikologi, puasa adalah latihan besar dalam mengelola dorongan, emosi, dan respons stres.

3 Arti Puasa dalam Psikologi
kebiasaan saat puasa (pexels)
Ilustrasi: Pexels

Menurut Ghozali, secara psikologis puasa adalah proses kognitif dan emosional yang melatih otak untuk mengelola keinginan.

  1. Menunda Kepuasan (Delay of Gratification)

Delay of gratification adalah kemampuan menolak kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih besar di masa depan. 

Dalam konteks puasa, seseorang menahan makan dan minum sekarang demi waktu berbuka, tujuan spiritual, atau nilai ketakwaan.

Kemampuan ini, menurutnya, menjadi salah satu indikator penting kecerdasan emosional dan kesuksesan jangka panjang. 

  1. Menyadarkan Diri (Mindfulness)

Selain itu, puasa juga melatih kesadaran diri atau mindfulness terhadap sensasi tubuh dan kebiasaan kita sehari-hari.

Banyak orang makan bukan karena lapar, tetapi karena bosan, stres, atau kebiasaan. 

“Puasa memutus pola kebiasaan otomatis tersebut dan membuat kita lebih menyadari alasan di balik dorongan-dorongan kita,” ujar Sekretaris Prodi Psikologi itu.

  1. Menguatkan Peran Otak dalam Mengendalikan Impuls

Secara alami, saat tubuh merasa lapar, insting dasar yang diatur oleh bagian otak primitif akan mendorong untuk segera mencari makanan. 

Tapi korteks prefrontal (bagian otak yang bertugas mengambil keputusan), secara sadar menahan dan mengesampingkan impuls biologis tersebut.

Ia juga mengaitkan hal ini dengan makna takwa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, yang pada intinya mengajarkan kemampuan menahan diri dari hawa nafsu.

“Ini adalah bentuk self-control tingkat tinggi. Seseorang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga mengendalikan pikiran dan emosi,” ujarnya.

Lihat Juga :  Capaian Prestasi Bertambah, Mahasiswa Psikologi Umsida Juara 1 IPSI Malang Championship
Mengapa Emosi Bisa Lebih Sensitif?

Saat tubuh kekurangan asupan, sistem emosi juga ikut terpengaruh. 

Ghozali menjelaskan bahwa kondisi lapar dapat memicu perubahan suasana hati.

“Kondisi tersebut biasa disebut hungry and angry,” tuturnya.

Dengan berpuasa, lanjut Ghozali, seseorang dituntut untuk tetap tenang, sabar, dan menjaga perilakunya meski sedang berada dalam ketidaknyamanan fisik. 

Ini melatih ketahanan mental dan kemampuan meregulasi emosi. 

Kondisi tarik-menarik antara otak primitif (dorongan insting) dan Korteks prefrontal (upaya menahan diri) inilah yang membuat sebagian orang menjadi lebih mudah tersinggung.

Dalam ajaran Islam, dorongan insting dasar yang menuntut pemenuhan keinginan fisik secara instan ini sangat erat kaitannya dengan konsep Hawa Nafsu, khususnya Nafs al-Ammarah, yaitu dorongan yang mengarah pada pemuasan instan jika tidak dikendalikan.

“Islam memandang ketidaknyamanan ini bukan sekadar efek samping, melainkan medan ujian utama untuk melatih kesabaran (sabar) dan akhlak,” jelas Ghozali.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa puasa adalah perisai, dan ketika ada yang mengajak bertengkar, seseorang cukup mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Kenapa Ada yang Tenang dan Ada yang Mudah Meledak?
puasa dalam psikologi (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Perbedaan reaksi, menurut Ghozali, terletak pada kemampuan regulasi emosi masing-masing individu.

Orang yang tetap tenang berhasil adalah mereka yang berhasil melatih korteks prefrontalnya untuk mengendalikan impuls dari otak primitif. 

“Mereka lebih sadar (mindful), bisa menerapkan self control, dan mampu menjaga perilaku di tengah ketidaknyamanan fisik untuk mengendalikan pikiran dan emosinya,” tuturnya.

Sebaliknya, orang yang mudah meledak, emosinya belum berhasil memperkuat ketahanan mentalnya. 

Dalam kondisi lapar dan tidak nyaman, fungsi logis otaknya kalah oleh dorongan insting dasar.

Lihat juga: Waspada Kebiasaan berbuka Berlebihan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Namun Ghozali menegaskan bahwa kemampuan ini bisa dilatih selama Ramadan yang menjadi ruang latihan selama satu bulan penuh.(Romadhona)

Sumber: Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA

Berita Terkini

program studi umsida terakreditasi unggul
Umsida Teguhkan Langkah Menuju ASEAN Recognition 2038
February 13, 2026By
penghargaan dosen dan tendik, prof syafiq
Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
February 10, 2026By
abdimas prof Sigit 1
Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
February 10, 2026By
Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By
aset kripto menurut dosen Umsida
Risiko Aset Kripto dan Bitcoin, Dosen Umsida Paparkan dari Perspektif Hukum dan Teknologi
December 15, 2025By
SDGs Center Umsida
SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
November 20, 2025By
Apresiasi sekolah partnership Umsida
Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru
November 20, 2025By
kick off penerimaan mahasiswa baru Umsida 4_11zon
Umsida Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
November 19, 2025By

Riset & Inovasi

abdimas kepada peserta didik sb at tanzil malaysia
Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
February 19, 2026By
pelatihan koding dasar dan kecerdasan artifisial
Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
February 3, 2026By
Edukasi TOSS TB 2
Edukasi TOSS TB, Upaya FK Umsida Perkuat Kader Kesehatan Desa Ketimang
January 28, 2026By
kolaborasi Umsida dan pondok pesantren
Kolaborasi FKG, FK, dan Fikes Jadi Relawan Kesehatan di Pondok Pesantren Nurul Haromain
January 21, 2026By
ketahanan pangan dan branding umkm
Kembangkan UMKM Lokal, Tim Abdimas Umsida Beri 2 Pelatihan di UMKM Babakaran Raos
January 21, 2026By

Prestasi

mahasiswa Umsida raih 8 penghargaan
Mahasiswa Ini Meraih 8 Penghargaan dalam Kurun Waktu 3 Bulan
February 13, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026.
Usai Juara 1, IMEI Team Umsida Akan Buat Mobil Urban
February 5, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 4, 2026By
kejuaraan ju jitsu mahasiswa Umsida
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 20, 2026By
persiapan shell eco marathon
IMEI Umsida Tancap Gas di Shell Eco Marathon Qatar 2026 dengan Improvisasi Kendaraan Listrik
January 19, 2026By