wisata alam desa

Hidupkan Wisata Alam Desa, 2 Tim KKN Umsida Permudah Akses ke Lokasi

Umsida.ac.id – Dua kelompok KKN Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) membantu pengembangan potensi wisata Gunung Butak dan Grojogan Asmoro. 

Program tersebut diarahkan untuk membuat kedua destinasi lebih mudah ditemukan dan lebih dikenal masyarakat luas.

KKN P 44 membantu pengembangan kawasan Gunung Butak yang berada di Desa Ngembat, Gondang, Mojokerto dengan memasang plakat penunjuk arah dan pembuatan konten digital pada Jumat (14/8/2026).

Lihat juga: Minuman Herbal K’Mon Jadi Inovasi KKN T 29 Umsida Manfaatkan Kemangi

Sementara KKN P 33 di Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, memasang plang menuju wisata Grojogan Asmoro pada Ahad, (16/8/2026).

Gunung Butak Mulai Dikenalkan Kembali

wisata alam desa

Gunung Butak yang memiliki ketinggian 800 MDPL sebenarnya bukan tempat yang benar-benar baru bagi masyarakat.

 Kawasan tersebut pernah ramai dikunjungi wisatawan sebelum pandemi Covid-19.

Mutmaiyah, istri Kepala Dusun setempat Tohari, masih mengingat kondisi tersebut.

“Dulu banyak pengunjung yang datang ke sini, apalagi saat musim liburan,” ujarnya.

Seiring waktu, aktivitas wisata di kawasan tersebut belum kembali seramai sebelumnya. 

Lantas Tim KKN P 44 melihat kebutuhan untuk membantu mengenalkan kembali Gunung Butak melalui fasilitas sederhana dan melalukan promosi digital.

Program tersebut dikoordinasikan Ketua KKN P 44, Alfan Yudi Fardana Madjid bersama penanggung jawab program M Raihan Firdaus dan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan yakni Akhmad Mulyadi Drs Ec MSA.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat plakat penunjuk arah menuju Puncak Butak.

Plakat ditempatkan pada titik yang dinilai strategis dan mudah terlihat sehingga wisatawan, khususnya yang baru pertama kali datang, memiliki informasi lebih jelas mengenai jalur menuju lokasi.

Mutmaiyah menyambut upaya tersebut dan berharap manfaat pengembangan wisata nantinya juga dapat dirasakan masyarakat sekitar.

“Kami berterima kasih atas bantuan adik-adik mahasiswa, semoga ke depannya Gunung Butak bisa dikenal lebih luas lagi dan mendatangkan manfaat bagi warga sekitar,” tuturnya.

Lihat Juga :  Kelompok Tani Gendro dapat Traktor dan Mesin Pencacah, Inovasi KKN P 22 Umsida

Selain memperbaiki informasi di jalur menuju lokasi, KKN P 44 juga membuat konten yang menampilkan suasana, lingkungan, dan daya tarik kawasan tersebut. 

“Kami ingin mengenalkan kembali wisata ini. Apalagi sekarang banyak anak muda yang senang untuk main ke alam, terutama gunung,” ujar Alfan.

Grojogan Asmoro, Potensi Wisata Desa Jarak 

wisata alam desa

Minimnya penunjuk arah juga terjadi di Dusun Sanggar, Desa Jarak, Jombang yang memiliki potensi wisata air terjun Grojogan Asmoro.

Akses menuju wisata alam tersebut sebelumnya belum didukung penunjuk arah yang memadai. 

Di balik persoalan akses itu, Grojogan Asmoro juga menyimpan cerita lokal.

Sarwan, warga asli Dusun Sanggar yang berusia 86 tahun, mengatakan lokasi tersebut dahulu dikenal dengan nama Grojogan Sanggar, mengikuti nama dusun tempat wisata itu berada.

Bagi Sarwan, keberadaan plang memang dibutuhkan oleh orang yang datang dari luar wilayah.

“Saya merasa senang dibuatkan plang petunjuk arah. Bagi wisatawan atau pengunjung yang akan datang ke Grojogan Asmoro, biar tidak kesasar,” ungkapnya.

Nama Grojogan Asmoro baru digunakan pada perkembangan berikutnya. 

Berdasarkan cerita masyarakat, nama tersebut diberikan oleh peserta KKN yang pernah melakukan kegiatan di wilayah itu dan kemudian semakin dikenal masyarakat.

KKN P 33 membuat dan memasang plang petunjuk arah menuju Grojogan Asmoro bersama masyarakat setempat.

Lihat juga: Anak Desa Pohjejer dan Bleberan dapatkan Pendidikan Kreatif dari KKN P Umsida

Ketua kelompok M Fariz AL Gozali mengkoordinasikan program tersebut bersama Fardiansyah sebagai penanggung jawab kegiatan. 

Lokasi pemasangan turut diperhatikan agar petunjuk mudah terlihat dan dapat dipahami pengunjung.(Mega/Selvy)