Umsida.ac.id – Jauh dari Flores, Nusa Tenggara Timur, Lusia Cherlyana Moi datang ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dengan satu tujuan, mencari kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang tak disangka akan melahirkan pengalaman yang membekas.
Mendaftarkan diri secara mandiri, akhirnya ia mendapat beasiswa penuh dari Lazismu untuk menempuh pendidikan di Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) dan dinyatakan lulus pada Ahad, (25/10).
Lihat juga: Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
Ia harus meninggalkan keluarga, beradaptasi, dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Katolik di perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Namun, perjalanan tersebut justru mempertemukannya dengan pengalaman tentang toleransi, persahabatan, dan rasa kekeluargaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Keinginan Lusia untuk kuliah bermula dari pencariannya terhadap perguruan tinggi yang menyediakan beasiswa.
Lusia memilih TLM lantaran bidang tersebut masih memiliki sedikit peminat di daerahnya.
Kekhawatiran Kuliah di Kampus Muhammadiyah

Sebelum berangkat ke Jawa, ada satu hal yang sempat membuatnya khawatir lantaran berkuliah di kampus Islami.
Setelah konsultasi dengan beberapa relasi yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Kupang, tekadnya semakin bulat.
“Ternyata malah banyak yang di Muhammadiyah Kupang itu malah banyak yang Kristen,” tuturnya mengingat percakapannya dengan sang kakak.
Tak hanya itu, ia juga khawatir jika misalnya tidak diterima oleh lingkungan barunya. Namun ternyata Lusia justru menemukan teman-teman yang terbuka dan mau membantu.
“Dari awal kuliah sampai akhir ini banyak sekali teman-teman yang bantu. Kayak enggak pilih-pilih teman gitu. Semuanya mau dari latar belakang apapun itu, mereka berteman,” ujarnya.
Pengalaman Kekeluargaan di TLM dan IMM
Selama menjalani perkuliahan, pengalaman Lusia tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Bagi Lusia, lingkungan organisasi juga memberikan pengalaman yang serupa dengan yang ia rasakan bersama teman-temannya di perkuliahan.
Ia merasakan suasana kekeluargaan dan keterbukaan meskipun datang dari latar belakang yang berbeda.
Hal serupa ia rasakan di Program Studi TLM. Menurutnya, dosen-dosen di program studi tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berkesan selama menempuh pendidikan.
Pengalaman tersebut membuat Lusia tidak merasa sendirian meskipun menjalani kehidupan jauh dari keluarga di Flores.
Dari Perbedaan Menjadi Pengalaman Berharga
Dalam perjalanan kuliahnya, Lusia juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai kegiatan yang membentuk pengalaman akademik dan organisasinya.
Ia pernah menjadi asisten laboratorium mikrobiologi. Ia juga bergabung dengan UKM Surya Nada, bahkan meraih juara satu tingkat nasional dalam kategori paduan suara Mars Muhammadiyah Aisyiyah.
Bagi Lusia, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya berkembang selama berada di Umsida.
Lusia menggambarkan perjalanan tersebut sebagai pengalaman untuk memahami toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.
“Saya datang ke Umsida dengan membawa keyakinan saya sendiri, dan hari ini saya meninggalkan kampus ini dengan keyakinan yang sama, tetapi dengan pemahaman yang jauh lebih luas tentang arti menghargai perbedaan,” ungkapnya.
Beasiswa dan Jerih Payah Orang Tua

Di balik perjalanan Lusia, ada keluarga yang menjadi sumber kekuatan.
Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang sayur.
Dukungan mereka menjadi bagian penting hingga Lusia mampu menyelesaikan pendidikan di perantauan.
Bagi Lusia, perjuangan orang tuanya bukan sesuatu yang sederhana. Dari pekerjaan tersebut, ia melihat langsung bagaimana keluarganya berusaha memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung pendidikan anak-anaknya.
Sang ibu, Mariana Ale, mengaku bangga melihat putrinya menyelesaikan pendidikan jauh dari keluarga.
Ketika Lusia pertama kali menyampaikan keinginan untuk mengikuti tes kuliah di Umsida, sang ibu sempat memikirkan bagaimana biaya perjalanan dan kebutuhan selama kuliah.
Apalagi Lusia merupakan putri sulung dan harus merantau cukup jauh dari Flores.
Namun, kabar bahwa Lusia diterima di Umsida akhirnya membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
“Saya bilang, puji Tuhan. Tapi bagaimana perjalanan nanti? Ongkosnya bagaimana? Rumahnya jauh, saya hanya pedagang sayur di Labuan Bajo,” kenang Mariana.
Lihat juga: Umsida Beri Apresiasi Wisudawan Terabik, Berprestasi, dan Salurkan Beasiswa Sang Surya
Kini, kekhawatiran itu terbayar dengan kelulusan Lusia. Sang ibu berharap putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang layak dan terus membanggakan keluarga.
“Terima kasih Umsida karena telah menerima putri kami dengan beasiswa penuh, kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghormati, saling mendukung, dan bersama-sama menebarkan kebaikan,” ujarnya.(Dhona)
























