Umsida.ac.id – Pagi pemberangkatan KKN Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Selasa, (21/7), tidak hanya dipenuhi mahasiswa dengan barang bawaan.
Sejumlah orang tua turut hadir sejak pagi untuk mengantar anak-anak mereka yang akan menjalani pengabdian selama 40 hari.
Lihat juga: KKN T 21 Kendalsewu Ajak Lansia Ikuti Posyandu dan Penyuluhan Mental Health
Ada yang sengaja mengambil izin kerja, berangkat sejak subuh, menyiapkan pakaian dan makanan, hingga membawa perlengkapan kelompok yang tidak mungkin diangkut menggunakan sepeda motor.
Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan sebelum mahasiswa belajar hidup mandiri bersama masyarakat.
Salah satunya Bung Grano, wali dari Farah Ziah Azizah, mahasiswa Program Studi Manajemen yang ditempatkan di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Ia tetap menyempatkan hadir meskipun hari pemberangkatan bertepatan dengan jam kerja.
“Saya izin terlebih dahulu. Setelah mengantar ke lokasi KKN, nanti saya kembali bekerja,” ujarnya.
Bukan Hanya Mahasiswa yang Antusias
Bung Grano menjelaskan bahwa dirinya perlu ikut mengantar karena perlengkapan yang dibawa cukup banyak, mulai dari kompor gas, beras, pakaian, hingga kebutuhan lainnya.
“Kalau dibawa menggunakan sepeda motor tidak memungkinkan. Namanya juga anak, kalau bukan orang tua yang mengantar, siapa lagi,” tuturnya.
Selain membantu membawa barang, ia juga menitipkan pesan agar putrinya menjaga etika dan bersikap ramah kepada masyarakat setempat.
Ia berencana menemui kepala desa saat penyambutan untuk menitipkan keamanan mahasiswa selama menjalankan KKN.
Baginya, anak tetap perlu dipantau meskipun sedang belajar mandiri.
Ia bahkan berencana datang kembali dalam waktu sekitar satu minggu untuk melihat kondisi putrinya dan lingkungan desa.
Harapan yang hampir sama disampaikan Diah, ibu dari Anindya Qumay Chendekia, mahasiswa Psikologi.
Ia dan suaminya berangkat ke lokasi pemberangkatan atas permintaan anaknya
Diah menyiapkan makanan agar Anindya tidak berangkat dalam keadaan belum sarapan.
Ia juga ikut membantu mempersiapkan pakaian dan bahan pokok sebagai bekal selama berada di tempat KKN.
“Harapannya, setelah KKN nanti anak bisa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung kepada orang tua,” katanya.
Orang Tua Tak Hanya Beri Bekal Barang

Asih, orang tua dari Intan Ayu Febrianti, juga berangkat sejak subuh dari Gempol.
Ia hadir untuk memberi semangat sekaligus memastikan perlengkapan putrinya sudah sesuai dengan daftar kebutuhan kelompok.
Menurutnya, dukungan ayah dan ibu dapat menambah semangat anak ketika harus tinggal jauh dari rumah.
Namun, ada satu bekal yang menurutnya lebih penting daripada barang-barang yang dibawa, yakni sikap.
“Attitude itu nomor satu. Meskipun memiliki banyak ilmu, kalau sikapnya tidak baik, ilmunya menjadi tidak berarti. Kepada siapa pun, attitude tetap yang utama,” tegasnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh putrinya selama kuliah dapat diterapkan di tengah masyarakat.
“Semoga KKN ini bisa menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan,” terangnya.
Pesan mengenai etika, menjaga diri, disiplin, dan tanggung jawab menjadi bekal yang berulang kali disampaikan para orang tua.
Mereka memahami bahwa KKN tidak hanya menguji kemampuan mahasiswa menjalankan program, tetapi juga cara beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mahasiswa KKN Umsida Siapkan Mental

Muhammad Firsa Farisi, mahasiswa Teknik Mesin yang ditempatkan di Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, menilai mental sebagai persiapan terpenting sebelum menjalani KKN.
“Di kampus kami terbiasa masuk kelas dan kuliah. Saat KKN, kami benar-benar turun langsung dan belajar menempatkan diri sebagai mahasiswa di tengah masyarakat,” ungkap Faris.
Kelompoknya telah membagi tugas sejak sebelum pemberangkatan.
Sebagian anggota lebih dulu berada di desa untuk mempersiapkan kebutuhan, sedangkan anggota lainnya mengikuti seremoni pemberangkatan.
Dari pemetaan awal, mereka menemukan tiga potensi utama Desa Carangwulung, yakni kopi, durian, dan cengkih.
Setelah melakukan pendalaman kondisi desa, program kerja ditargetkan mulai berjalan pada akhir pekan.
Di balik persiapan tersebut, terdapat perhatian orang tua yang mungkin tidak selalu terlihat.
Mereka mengantar, mengecek barang, menyiapkan makanan, lalu melepas anak-anaknya untuk belajar mandiri.
Lihat juga: Dari Mulut ke Mulut Jadi Digital, Ini Langkah KKN T 14 Umsida Kembangkan Klepon Bulang
Selama 40 hari ke depan, mahasiswa akan menjalankan pengabdian di desa.
Namun, dari halaman kampus pada pagi pemberangkatan itu, perjalanan mereka telah lebih dahulu dimulai melalui doa, nasihat, dan dukungan sederhana dari keluarga.(Romadhona)














