Umsida.ac.id – Punya produk yang bagus belum tentu cukup membuat usaha mudah ditemukan pembeli.
Persoalan itu masih ditemui sejumlah pelaku UMKM di desa lokasi KKN Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mulai dari warung yang kurang terlihat dari jalan, usaha yang belum menerima pembayaran digital, hingga produsen yang masih bergantung pada mitra untuk memasarkan produknya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN Umsida di tiga wilayah berbeda.
KKN Pencerah 66 di Desa Jatirejo, Kabupaten Kediri, memberikan edukasi branding dan pemasaran digital.
Lihat juga: Pemasaran Online oleh KKN T 18 dan 23 Umsida Buka Jalan Digitalisasi UMKM Desa
KKN Pencerah 23 di Desa Andonosari, Kabupaten Pasuruan, membantu pembuatan banner dan QRIS.
Sementara KKN P Kelompok 3 di Desa Karangrejo, Pasuruan, mendampingi usaha kasur busa untuk mulai mengenal pemasaran melalui website dan media sosial.
UMKM Jatirejo Belajar Branding yang Konsisten

Di Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, Kediri, KKN Kelompok 66 menggelar sosialisasi branding produk dan pemasaran digital pada Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di balai desa itu menyasar pelaku UMKM makanan, minuman, maupun produk lainnya.
Materi disampaikan Vina Fitriana SPsi dengan pembahasan mengenai identitas produk serta pemanfaatan media digital untuk menjangkau konsumen.
Pelaku UMKM dikenalkan bahwa branding itu termasuk nama usaha, desain kemasan, informasi produk, hingga cara berkomunikasi dengan konsumen ikut membentuk identitas sebuah produk.
Untuk promosi, media yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat seperti WhatsApp dapat dimanfaatkan lebih dulu.
“Jangan malu, jangan ragu untuk memulai bisnis apa pun itu. Konsisten adalah kuncinya,” ujarnya.
UMKM Andonosari Merambah Pembayaran QRIS
Proker berbeda dilakukan KKN P 23 di Desa Andonosari pada Rabu (12/8/2026).
Mahasiswa memilih kebutuhan yang langsung dapat digunakan oleh dua pelaku usaha setempat.
Warung Bu Rokimi di Dusun Krajan II menjadi salah satunya.
Warung tersebut menjual lontong rujak, sembako, camilan ringan, hingga LPG, tetapi keberadaannya kurang terlihat dari luar karena ukuran tempat usaha yang relatif kecil, lantas tim KKN membuatkan banner.
“Warungnya kecil, jadi kadang orang lewat juga nggak terlalu kelihatan. Mudah-mudahan dengan adanya banner ini jadi lebih terlihat,” kata Rokimi.
Ada pula Ninuk yang memiliki usaha kue di Dusun Sawahtalun mendapatkan pendampingan pembuatan QRIS.
Mahasiswa mendampingi prosesnya hingga fasilitas tersebut dapat digunakan untuk menerima pembayaran.
“Sekarang semua orang banyak yang pakai QRIS, jadi lebih mudah kalau pembeli nggak bawa uang tunai,” ujar Ninuk.
Dua kebutuhan tersebut terlihat sederhana, tetapi berangkat dari persoalan yang berbeda.
UMKM Kasur Busa Mulai Menjajal Pemasaran lewat Website

Persoalan pemasaran juga ditemukan KKN P 3 di Dusun Gutehan, Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Di sana terdapat usaha kasur busa milik Wiwit yang memproduksi kasur, karpet, hingga sofa lipat.
Produksinya memiliki keunikan karena sisa potongan busa tidak langsung dibuang, tetapi kembali diolah menjadi produk yang masih dapat dijual.
Konsumen juga dapat memesan ukuran maupun bentuk sesuai kebutuhan.
Meski produksinya telah berjalan, pemasaran masih bergantung pada sekitar 15 mitra yang mengambil barang dengan sistem pickup.
Usaha tersebut juga belum memiliki tim khusus untuk mengelola media sosial maupun toko online.
Lihat juga: UMKM Punya Produk, KKN Umsida Bantu Lengkapi Legalitas Usahanya
Melihat kondisi itu, tim KKN memberikan edukasi digital marketing sekaligus membantu membuat website untuk memperkenalkan produk secara lebih luas.
“Hal ini sangat membantu saya yang awam dalam memahami persiapan dalam digital marketing. Dengan adanya pengetahuan dan bantuan ini, saya jadi lebih mampu beradaptasi dengan pemasaran di era digital,” ujar Wiwit.(Dian/Ayunda/Abid)














