Umsida.ac.id – Bagi sebagian mahasiswa, mengikuti Pendidikan Karakter Mahasiswa Umsida (PKMU) sempat dibayangkan sebagai kegiatan yang membuat tegang bahkan menakutkan.
Namun, setelah menjalaninya, kesan yang muncul justru berbeda.
Lihat juga: Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
Selama rangkaian kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pendampingan dari fasilitator, termasuk dalam bimbingan ibadah dan membaca Al-Qur’an selama tiga pekan.
Pada pekan terakhir, peserta menjalani rangkaian kegiatan dengan menginap satu malam (Mabit) di kampus.
Bagi mahasiswa yang mengikuti gelombang pertama pada 11-25 Oktober 2026, rangkaian kegiatan tersebut justru menjadi pengalaman untuk belajar, berdiskusi, memperbaiki ibadah, sekaligus mengenal teman dari berbagai program studi.
Hal tersebut disampaikan oleh salah satu peserta, Moch Jabir Alfaruq. Menurutnya, pengalaman mengikuti PKMU sejak awal hingga akhir memberikan kesan tersendiri.
“Di sini kami dibimbing oleh fasilitator. Mereka tak hanya membimbing dan selalu mengingatkan peserta untuk tetap menjaga ibadah di tengah kesibukan kami sebagai mahasiswa,” tuturnya.
PKMU Sadarkan Hal Baik yang Sederhana
Salah satu hal yang paling membekas bagi Faruq justru datang dari pesan yang sederhana.
“Menurut saya pribadi yang paling membekas itu saat fasilitator saya mengingatkan untuk tidak meninggalkan sholat. Sepele tapi itu sangat membekas,” ungkap mahasiswa Prodi Manajemen itu.
Pesan tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi bagi Faruq.
Ia ingin memperbaiki kebiasaannya dalam menjalankan ibadah, termasuk berusaha salat tepat waktu dan mengurangi kebiasaan yang dinilai kurang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Faruq, mengikuti gelombang pertama juga menjadi pilihan agar rangkaian PKMU dapat segera diselesaikan sebelum aktivitas perkuliahan semakin padat.
Menurutnya, sebagian mahasiswa masih memilih mengikuti gelombang berikutnya karena merasa belum siap atau ingin mengetahui pengalaman peserta sebelumnya.
Namun, pengalaman yang dijalaninya justru membuat pandangan tersebut berubah.
“PKMU ini tidak menakutkan, tidak yang dites langsung di sini tentang ibadah. Isinya justru penuh dengan bimbingan ibadah dan akhlak. Teman dan fasilitatornya juga sangat asyik,” katanya.
Menerima dari Semua Latar Belakang

Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang menganut Muhammadiyah saja, bahkan mahasiswa non Muslim pun tetap mengikuti program ini lantaran tujuannya adalah untuk membentuk karakter mahasiswa Umsida.
Hal itu dirasakan Angelita Hersanda Syifani, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi.
Sebagai mahasiswa yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang Muhammadiyah, PKMU menjadi kesempatan baginya untuk mengenal pengalaman keislaman yang baru.
Angel mengikuti bimbingan membaca Al-Qur’an dan ibadah sebanyak beberapa kali selama rangkaian PKMU.
Menurutnya, pendampingan tersebut membuatnya lebih memahami bacaan dan tajwid.
“Kalau saya, Alhamdulillah jadi lebih baik dalam membaca Al Quran. Saya kan tidak terlalu lancar ya dalam ngaji, tapi ini lebih baik,” tuturnya.
Ia juga mulai melakukan refleksi terhadap kebiasaan pribadinya.
Salah satunya berkaitan dengan kebiasaan mengenakan hijab yang sebelumnya masih dilakukan secara tidak konsisten.
Setelah mengikuti PKMU, Angel mulai lebih memperhatikan ibadah dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an setelah salat.
Pengalaman tersebut juga membuat kekhawatirannya sebelum mengikuti PKMU berkurang.
Awalnya, ia membayangkan kegiatan mengaji dan salat di hadapan fasilitator akan terasa menegangkan.
“Awalnya takut, tapi waktu bimbingan dan sama fasilitatornya, Alhamdulillah tidak takut. Malah seru. Banyak teman baru juga, kenal sama teman baru dari berbagai Prodi,” ujarnya.
Fasilitator Bangun Pendekatan yang Fleksibel
Pengalaman positif peserta juga tidak lepas dari cara fasilitator mendampingi mahasiswa.
Novia Ayu Hafida yang menjadi fasilitator, menjelaskan bahwa pendekatan kepada peserta tidak hanya dilakukan melalui materi.
Menurut Novi, kedekatan usia membuat fasilitator berusaha membangun komunikasi yang lebih personal.
Sebelum masuk ke pembahasan ibadah, mereka juga berusaha mengetahui kondisi dan kesulitan yang sedang dialami peserta.
“Pastinya yang awal karena kita rasanya seumuran ya. Jadi ya pastinya kalau bimbingan itu kadang ya nanyain mereka habis dari mana, kayak ibaratnya personal dulu lah gitu,” jelas mahasiswa semester 7 itu.
Lihat juga: Persiapan PKMU 2026, Bagaimana dengan Mahasiswa Non Muslim?
Pendampingan juga dilanjutkan dengan melihat perkembangan ibadah dan perilaku peserta.
Selain salat dan membaca Al-Qur’an, fasilitator turut memperhatikan kebiasaan sehari-hari seperti kejujuran, kebersihan, serta adab.
“Tahun ini, pemantauan tersebut mulai dilakukan secara lebih terarah. Dan Alhamdulillah para peserta terbuka dan kooperatif selama mengikuti proses pendampingan,” terang Novi.(Dhona)
























