pelatihan pupuk organik

Pupuk Organik Jadi Inovasi KKN P 22 dan 66 Umsida Olah Limbah dan Kebutuhan Petani

Umsida.ac.id – Pembuatan pupuk organik menjadi salah satu cara mahasiswa KKN Umsida menjawab kebutuhan petani sekaligus memanfaatkan limbah yang tersedia di desa. 

Program tersebut dijalankan KKN P 22 di Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, serta KKN P 66 di Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Lihat juga: Manfaatkan Limbah Tutup Botol, KKN P 3 Umsida Ajak Siswa Manfaatkan Jadi Kerajinan

Di Desa Gendro, mahasiswa memberikan pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. 

Sementara di Desa Jatirejo, limbah kotoran kambing diolah menjadi pupuk organik melalui proses fermentasi.

Selain mengurangi limbah, kedua program tersebut bertujuan untuk membantu petani memperoleh alternatif pupuk yang dapat dibuat secara mandiri dan juga mendukung kegiatan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Pupuk Organik Cair Dibuat dari Bahan di Sekitar Petani

pelatihan pupuk organik

KKN P 22 Umsida menggelar pelatihan pembuatan POC di kediaman H Sunaryo Hadi, Dusun Krajan, Desa Gendro pada Ahad, (2/8/2026). 

Kegiatan tersebut diikuti kelompok tani dan peternak setempat setelah sebelumnya mahasiswa menyerahkan bantuan alat traktor pada akhir Juli lalu.

Pelatihan ini didampingi Dosen Pembimbing Lapangan Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT dengan Prof Dr Ir Andriani Eko Prihatiningrum MS sebagai narasumber.

Di kegiatan ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai manfaat POC, pemilihan bahan baku, proses fermentasi, hingga cara mengaplikasikannya pada tanaman. 

Bahan yang digunakan antara lain air cucian beras, pupuk kandang, kompos, dan limbah organik.

“Pupuk organik cair menjadi jawaban atas ketergantungan petani pada pupuk kimia. Selain menekan biaya produksi, pemanfaatan bahan organik di sekitar lingkungan juga dapat mengembalikan kesuburan tanah secara alami,” jelas Prof Andriani.

Setelah menerima materi, peserta mempraktikkan proses pembuatannya. 

Tim KKN mendampingi mereka mulai dari penakaran dan pencampuran bahan hingga cara menyimpan wadah selama fermentasi.

Perwakilan Kelompok Tani Desa Gendro, Ciptadi, mengatakan bahwa metode tersebut cukup mudah diterapkan karena bahan yang digunakan tersedia di sekitar permukiman.

Lihat Juga :  Dosen Umsida Berdayakan Masyarakat Sidoarjo Melalui 4 Program Bank Sampah

“Kami sangat antusias karena bahannya mudah didapat dan cara membuatnya relatif simpel. Harapannya penggunaan POC ini bisa memangkas biaya pembelian pupuk kimia sehingga hasil tani kami lebih efisien,” ujarnya.

Kotoran Kambing Dikembangkan di Jatirejo

pelatihan pupuk organik

Pemanfaatan potensi lokal juga dilakukan KKN Kelompok 66 Umsida bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Jatirejo, Banyakan, Kediri pada Kamis, (6/8/2026).

Melalui sosialisasi “Pemanfaatan Kotoran Kambing Menjadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomis untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan”, tim KKN mengajak kelompok tani dan peternak melihat limbah kandang sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

Program tersebut dipilih karena peternakan kambing menjadi salah satu aktivitas masyarakat Desa Jatirejo. Kotoran ternak yang belum dikelola secara optimal berpotensi menumpuk di sekitar kandang.

Koordinator program, Tia Amelia dari Program Lingkungan KKN Kelompok 66 menjelaskan bahwa kotoran kambing dapat digunakan sebagai bahan pupuk setelah melalui proses pengolahan. 

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan pada penggunaan kotoran kambing, jerami atau limbah pertanian, EM4, molase, dan air.

Setelah materi, Abdullah Fahmi Rabbani memandu demonstrasi di area luar Balai Desa Jatirejo.

Peserta mengikuti proses pencampuran bahan, pemberian larutan aktivator, pengadukan, hingga penyimpanan selama fermentasi.

Beberapa anggota kelompok tani dan peternak turut mencoba mencampur bahan. 

Diskusi kemudian berkembang pada lama fermentasi, penyimpanan, tanda pupuk telah matang, hingga penggunaannya pada berbagai tanaman.

Pupuk Organik Tak Hanya Kurangi Limbah

Bagi masyarakat Desa Jatirejo, pengolahan kotoran kambing juga membuka kemungkinan baru dalam mengatasi dua persoalan sekaligus, yakni penumpukan limbah peternakan dan kebutuhan pupuk untuk lahan pertanian.

Lihat juga: Program AKAR, Upaya Penghijauan KKN P 60 Umsida

Sekretaris Desa Jatirejo, Ahmad Setyo Utomo, mengapresiasi program tersebut karena dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat. 

Ia berharap keterampilan yang diberikan mahasiswa dapat terus diterapkan agar limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian.(Aisyah/Tia)