pemilahan sampah dan eco enzyme

Ajari Olah Sampah Hingga Buat Eco Enzyme, KKN Umsida Bangun Kepedulian Lingkungan

Umsida.ac.id – Menyasar dua kelompok yang berbeda, mahasiswa KKN Umsida mengajak warga dan siswa melihat kembali mana yang bisa dipilah, digunakan ulang, hingga diolah menjadi Eco Enzyme.

Pendekatan tersebut diterapkan di tiga lokasi berbeda. 

KKN P 18 Umsida memberikan edukasi pemilahan sampah kepada siswa SDN Dawuhan Sengon 3, Kabupaten Pasuruan pada Sabtu, (8/8/2026).

Lihat juga: Dari Sampah hingga Medsos, 3 Tim KKN P Umsida Edukasi Topik yang Dekat dengan Siswa

Sehari berikutnya, KKN T 28 mengajak kader Aisyiyah dan ibu-ibu Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, mempraktikkan pembuatan Eco Enzyme.

Sementara itu, KKN P 12 melanjutkan edukasi lingkungan di SDN Sentul 1, Desa Sentul, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan pada Rabu, (12/8/2026), dengan mengolah tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci.

Pengelolaan Sampah Dikenalkan Sejak Bangku Sekolah

pemilahan sampah dan eco enzyme

Di SDN Dawuhan Sengon 3, siswa kelas 1 hingga 6 terlebih dahulu dikenalkan dengan perbedaan sampah organik dan anorganik.

Tim KKN P 18 menggunakan layar interaktif untuk menampilkan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Kulit buah, daun, dan sisa makanan masuk dalam kelompok organik, sedangkan botol plastik, kaleng, serta kemasan dikenalkan sebagai sampah anorganik.

Konsep Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R juga dikenalkan sebelum siswa mencoba praktek.

Tempat sampah yang dibuat mahasiswa dari galon bekas digunakan sebagai media pemilahan.

Siswa kemudian diminta menentukan wadah yang tepat untuk berbagai jenis sampah, seperti daun kering dan bungkus plastik.

Kepala SDN Dawuhan Sengon 3, Agus Supriyanto SPd, berharap kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan selama kegiatan berlangsung.

“Semoga kegiatan ini dapat menambah pengetahuan siswa dan membiasakan mereka untuk menjaga kebersihan serta memilah sampah, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.

Pengelolaan Sampah Plastik Bisa Jadi Kreasi Baru

Jika KKN P 18 berfokus pada pengelompokan limbah, KKN P 12 mengajak siswa SDN Sentul 1 melihat kembali potensi sampah plastik.

Lihat Juga :  Dosen Umsida Dorong Optimalisasi RTH Probolinggo sebagai Pusat Edukasi Lingkungan Berbasis Teknologi

Setelah memperoleh materi mengenai jenis dan pemilahan sampah, siswa mengikuti praktik pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas.

Kegiatan tersebut menjadi contoh sederhana bahwa plastik yang sudah selesai digunakan tidak selalu harus langsung masuk tempat sampah.

Ketua KKN Kelompok 12, Achmad Hikam Syahrul Mubarrok, mengatakan praktik tersebut sekaligus diarahkan untuk melatih kreativitas siswa.

“Kita juga ingin membiasakan mereka untuk mengurangi dan memanfaatkan kembali limbah plastik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Dengan cara tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung mengubah barang bekas menjadi benda sederhana yang masih mempunyai fungsi.

Pengelolaan Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

pemilahan sampah dan eco enzyme

Tak hanya menyasar para siswa, tim KKN Umsida juga mengajak ibu-ibu kader Aisyiyah Desa Penambangan bersama KKN T 28.

Ibu-ibu kader Aisyiyah dan masyarakat diajak membuat Eco Enzyme dari sisa kulit buah dan sayuran yang difermentasi menggunakan air serta gula merah atau molase.

Mahasiswa menggunakan komposisi 10 bagian air, tiga bagian limbah organik, dan satu bagian molase. 

Campuran tersebut kemudian difermentasi selama sekitar tiga bulan.

Syafa selaku moderator kegiatan mengatakan bahwa bahan yang biasanya langsung dibuang sebenarnya masih dapat digunakan kembali.

“Harapannya, setelah kegiatan ini masyarakat dapat mencoba membuat Eco Enzyme secara mandiri di rumah,” ujarnya.

Praktik dilakukan menggunakan botol berkapasitas 1,5 liter dan galon 15 liter yang dilengkapi selang penghubung.

Lihat juga: KKNT 12 Umsida Ajari Buat Eco Enzyme, yang Sebelumnya Warga Belum Pernah Memanfaatkannya

Peserta juga diberi kesempatan bertanya mengenai jenis bahan, proses fermentasi, penyimpanan, serta pemanfaatan hasil akhirnya.

Rosida, salah satu peserta, mengaku praktek langsung membuat tahapan pembuatan lebih mudah dipahami, termasuk waktu yang dibutuhkan hingga Eco Enzyme siap digunakan.(Salsa/Fitria/Syafa)