sistem tidak naik kelas (2)

Pakar Umsida Soal Kebijakan Tidak Naik Kelas: Rawan Putus Sekolah

Umsida.ac.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan kembali menerapkan kebijakan tidak naik kelas kepada para siswa mulai tahun ajaran 2027-2028.

Hal tersebut telah rencana tersebut telah melalui proses penyusunan peraturan menteri dan disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Lihat juga: 4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas

Tetap Harus Dikaji Ulang Walau Sudah Pernah Diterapkan

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,  Dr Ida Rindaningsih MPd berpendapat bahwa kebijakan tidak naik kelas perlu dikaji secara hati-hati karena mekanisme penentuan kenaikan kelas sudah diatur. 

“Yang perlu kita evaluasi justru bagaimana pelaksanaannya di sekolah,” terangnya.

Ia sepakat bahwa murid perlu memiliki tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam belajar. 

Namun, katanya, ketika murid belum mencapai hasil yang diharapkan, maka tidak bisa otomatis menempatkan mereka sebagai pihak yang gagal. 

“Perlu dilihat juga kualitas pembelajaran, pendampingan guru, serta dukungan keluarga,” jelas Dr Ida.

Jadi, yang lebih penting bukan memperbanyak murid yang tidak naik kelas, melainkan memastikan setiap murid mendapatkan pengalaman belajar yang mampu menumbuhkan kemampuan, karakter, dan semangat belajarnya.

Tidak Naik Kelas Sebabkan Putus Sekolah
sistem tidak naik kelas (pexels) (3)
Ilustrasi: Pexels

Menurut Dr Ida, resiko terbesar dari kebijakan tidak naik kelas adalah meningkatnya kemungkinan murid putus sekolah. 

Saat ini pemerintah sedang berupaya memperluas akses pendidikan melalui program Wajib Belajar 13 tahun. 

“Jika kebijakan tidak naik kelas diterapkan tanpa pendampingan yang memadai, justru berpotensi menjadi hambatan baru bagi keberlanjutan pendidikan anak, terutama dari keluarga rentan,” jelasnya.

Risiko berikutnya adalah menurunnya motivasi dan kepercayaan diri murid, munculnya ketidakpercayaan orang tua terhadap sekolah, serta tekanan terhadap guru yang dapat mempengaruhi objektivitas penilaian.

Karena itu, imbuhnya, kebijakan tidak naik kelas perlu dikaji secara hati-hati mutu pendidikan tidak bertentangan dengan upaya mempertahankan anak agar tidak sampai putus sekolah.

Untuk menghindari berbagai resiko tersebut, di sistem kenaikan kelas, menurut Dr Ida, harus mengacu pencapaian kompetensi dan perkembangan belajar murid, sebagaimana diatur dalam standar penilaian pendidikan.

Lihat Juga :  Marak Judol dan Pinjol, KKN P 20 Umsida Edukasi Warga Pucangsari

“Kita juga harus mempertimbangkan keberagaman kemampuan dan kebutuhan belajar murid,” terang Wakil Dekan FPSI itu.

Menurutnya, sebelum memutuskan murid tidak naik kelas, sekolah perlu memastikan bahwa kesulitan belajarnya telah diidentifikasi, mendapat pendampingan yang sesuai, dan dievaluasi perkembangannya.

Dengan demikian, keputusan kenaikan kelas tidak hanya didasarkan pada hasil akhir, tetapi juga mempertimbangkan proses belajar dan upaya perbaikan yang telah dilakukan.

Peran Sekolah dan Orang Tua yang Krusial
sistem tidak naik kelas (pexels) (2)
Ilustrasi: Pexels

Ia menegaskan bahwa guru harus berani keluar dari zona nyaman

“Tidak boleh mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban atau menuntaskan materi,” tandasnya.

Tapi, guru harus terus mengembangkan kompetensinya, mulai dari merencanakan, melaksanakan, hingga mengevaluasi pembelajaran. 

“Mereka harus menjadi fasilitator yang adaptif dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang cerdas, menantang, dan menyenangkan,” kata Dr Ida.

Oleh karena itu, kompetensi guru harus terus berkembang dan tercermin dalam perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi pembelajaran.

Pembelajaran mendalam harus nyata dalam pengalaman murid untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang dipelajarinya, bukan sekadar tertulis dalam perangkat pembelajaran.

Selain dari sisi guru, Dr Ida juga menjelaskan pentingnya peran sekolah dan orang tua yang perlu disinergikan.

Pihak sekolah memastikan kualitas SDM, fasilitas, kemitraan, dan program yang mendukung pembelajaran bermakna. 

Lalu pihak orang tua yang membangun kedisiplinan, kemandirian, serta tanggung jawab anak di rumah. 

Lihat juga: Dekan FPIP Umsida Soroti Nasib Guru Honorer dan Regulasi Pendidikan Nasional

Sedangkan murid perlu menyadari bahwa belajar bukan sekedar rutinitas atau mengejar kenaikan kelas, melainkan proses membangun kemampuan, karakter, dan masa depannya.

“Intinya, sebelum menuntut murid memenuhi standar kenaikan kelas, pastikan seluruh ekosistem pendidikan telah menjalankan tanggung jawabnya secara optimal,” tandasnya.(Dhona)

Sumber: Dr Ida Rindaningsih MPd

Berita Terkini

orang tua wali wisudawan (3)
Cerita Orang Tua di Balik Perjuangan Wisudawan Umsida hingga Lulus
October 27, 2026By
wisudawan berprestasi umsida (2)
Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian
October 26, 2026By
pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

pendidikan muhammadiyah
Prof Syafiq: Pendidikan di Umsida Terus Bergerak dan Berdampak
October 28, 2026By
4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By
ilmu jadi amanah (6)
Ketika Ilmu Menjadi Sebuah Amanah
October 23, 2026By
kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By